Munarmana.jpg

Menolak Lupa Soal ISIS (2)

Diposting pada
Ilustrasi

Tahun 2014, Mosul, sebuah kota terbesar kedua di Irak, jatuh ke tangan ISIS. Kejatuhan Baghdad (ibu kota Irak) sudah di depan mata. Tentara Irak tidak sanggup menghadapinya sendirian. Tentara AS bercokol di Irak, tapi tidak banyak membantu. Ulama Irak, Ayatullah Sistani, mengeluarkan fatwa jihad melawan ISIS. Warga Irak, dari berbagai agama, bangkit, bergabung dengan pasukan relawan, melawan ISIS. Tahun 2017, Mosul kembali direbut,

Dalam video ini bisa dicatat dua poin penting:

(1) Warga Mosul (etnis Arab) adalah masyarakat yang plural, Muslim, Kristen, dan Yazidi hidup berdampingan damai. ISIS datang memorakporandakan kota mereka. Kini setelah ISIS berhasil diusir, mereka bergandengan tangan untuk membangun kembali kota. Dengan dikoordinasi oleh UNESCO, warga Muslim membantu pembangunan kembali gereja dan warga Kristen membantu membangun kembali masjid.

Baca: Menolak Lupa Soal ISIS (1)

Jadi, ISIS tidak sama dengan ideologi Arab, sehingga salah kaprah bila ada netizen Indonesia menghina-hina etnis Arab di Indonesia saat bicara soal ISIS. Ideologi ISIS adalah ideologi takfirisme. Mereka menafsirkan ajaran Islam dengan salah kaprah. Melawannya harus dengan kontranarasi yang benar; bukan dengan menghina-hina salah satu etnis atau agama di negeri ini.

Baca Juga :  Israel dan AS Tolak Keputusan Mahkamah Pidana Internasional

(2) Jangan menunggu kota-kota Indonesia sehancur Mosul (atau kota-kota lain di Irak dan Suriah yang dihancurkan ISIS). Ideologi takfirisme yang membuat manusia bisa sedemikian keji dan bergabung dengan ISIS harus dilawan dalam sebuah program yang integratif, tidak setengah-setengah.

Seperti apa program yang integratif itu?

Begini, ada yang komen “ISIS buatan AS”. Memang banyak indikasi dan bukti mengenai dukungan AS pada ISIS. Data menunjukkan adanya aliran senjata dari AS ke ISIS, meski AS ngeles, “kami maunya ngirim ke ‘pemberontak moderat’, tapi entah mengapa jatuh ke tangan ISIS.”

Di medan tempur, saat pasukan Suriah hampir menang lawan ISIS, jet-jet tempur AS membombardir mereka, alsan AS: “salah tembak”. Lalu, yang paling keji, pada 3 Januari 2020, AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani yang memimpin pasukan relawan Irak dalam membebaskan kota Mosul (dan kota-kota lain) dari cengkeraman ISIS.

Kasus lain, sampai sekarang, Facebook selalu memblokir postingan tentang Jend QS (saya juga kena, beberapa hr yll). AS dan Facebook yang “Barat” itu kok ambigu, di satu sisi sok-sok antiteroris, di saat yang sama malah membunuh (memblokir) pihak-pihak yang melawan radikalisme/terorisme.

Baca Juga :  Erick Thohir Tunjuk Eks Kapolda Kepri Jadi Ketua Dewas Damri

Tapi, apakah ISIS buatan AS? Menurut saya: yang dilakukan AS adalah MEMANFAATKAN elemen-elemen lokal yang memang berpotensi untuk dimainkan. Kalau di Timteng, ada kelompok-kelompok garis keras (berideologi takfiri) yang bisa dimanfaatkan AS untuk menggulingkan rezim yang “mbalelo”. Di negara-negara lain, misalnya di Eropa Timur atau Asia Tenggara (termasuk Indonesia), AS membiayai LSM-LSM yang selalu bikin gaduh dengan alasan “demokrasi”.

Jadi, ada dua elemen yang terlibat dalam kasus terorisme global:

(1) negara adidaya (Amerika dkk, termasuk jejaring media global yang sering menyebarkan disinformasi soal Suriah sehingga memprovokasi orang-orang yang sudah teradikalisasi untuk gabung dengan ISIS), dan

(2) para anggota ISIS dan kelompok serupa dalam berbagai merk (orang lokal, Muslim).

Oleh karena itu perlawanan perlu dilakukan terhadap kedua elemen ini. Dalam upaya deradikalisasi, penting untuk memasukkan kajian geopolitik global, bukan hanya fokus di pemahaman relijius yang salah kaprah.

Media-media mainstream Indonesia yang selama Perang Suriah juga menyebarkan misinformasi, juga pihak yang sangat bertanggung jawab atas semakin meningkatkan radikalisme/terorisme. Saya himbau para wartawan, belajarlah geopolitik dengan baik, jangan asal copas terjemah berita dari jejaring media AS/Inggris. Baca ISIS hari ini adalah bagian dari dosa Anda juga karena menyampaikan disinformasi soal Suriah.

Baca Juga :  Sanaa Serukan Slogan “AS Induk Terorisme”

Ini yang saya maksud program deradikalisasi yang integratif: menyentuh akar masalah, global maupun lokal, serta dilakukan di berbagai lini, mulai dari pelajaran sekolah (dan lembaga pendidikan lain), ceramah, dan acara-acara tivi, serta materi pemberitaan, dll.

Problem di Indonesia memang bukan cuma radikalisme. Tapi, pembangunan dan perbaikan di bidang-bidang lain, akan sia-sia saja jika pada akhirnya kota-kota dihacurkan seperti di video ini. Pemerintah kita menghadapi sedemikian banyak persoalan, ekonomi, kesehatan, terorisme, dan digempur “kaum serigala” yang maunya cuma main proyek. Sangat patut kita syukuri, pemerintah kita tetap mampu berdiri tegak menghadapi semua kesulitan ini.

Di luar sana, ada pemerintahan-pemerintahan yang dikudeta; atau gagal, tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

Mari jaga bersama NKRI.

Sumber: FB Dina Sulaeman

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *