072345200_1556693645-iStock-472529026.jpg

Menurut Ibnu Athaillah, Ini Amal Yang Paling Berpotensial Diterima

Diposting pada

Muslimoderat.net – Penerimaan ibadah oleh Allah adalah tujuan hamba-Nya. Jadi ibadah macam apa yang pantas dilakukan Allah? Adakah banyak ibadah yang berat, ibadah yang tertidur, atau serius? Hal tersebut disinggung oleh Ibn Athaillah dalam hikmah berikut.

لا عمل أرجي للقبول من عمل يغيب عنك شهوده ويتحقر عندك وجوده

Artinya: “Tidak ada amal yang lebih diharapkan untuk diterima, tetapi amal yang menghilang dari pandangan Anda dan keberadaannya sepele menurut Anda.”

Tindakan ibadah yang belum kami hitung sebenarnya yang paling penuh harapan. Lebih jauh, amalan ibadah yang kami anggap penuh kekurangan juga merupakan hal yang paling bisa diharapkan dari Allah.

Zakat yang kami yakini mengandung banyak kekurangan di sana-sini ada amal ibadah yang diharapkan bisa diterima oleh Tuhan, juga amal yang menurut kami sendiri tidak ada karena pada hakikatnya perbuatan kami hanyalah anugerah dari Allah terima kasih. taufiq atau inspirasi dari-Nya, artinya sedekah tidak dianggap hartanya karena pada hakikatnya orang lain bisa melakukannya juga berkat rahmat taufiqnya.

لا عمل أرجي للقبول) لقبول الله له (من عمل يغيب عنك شهوده) بأن تشهد أن الذى وفقك له هو الله تعالى ولولاه ما صدر منك ذلك العمل (ويتحقر عندك وجوده) بأن لا تعتمد عليه فى تحصيل أمر من الأمور كالوصول إلى الله تعالى والقرب منه ونيل وعدم سلامته من الآفات المانعة من قبوله ، وفى بعض النسخ أرجس

Baca Juga :  Fadli Zon Bela Munarman, Habib Muannas Beri Kritikan Pedas

Artinya: “(Tidak ada tindakan yang paling diharapkan untuk diterima) oleh Allah (selain tindakan yang hilang dari pandangan Anda) dalam arti bahwa Anda melihat bahwa Allah yang menginspirasi Anda untuk berbuat baik. Jika bukan Dia , niscaya sedekah tidak akan muncul dari Anda (dan keberadaannya sepele menurut Anda) jangan jadikanlah sebagai pilar untuk menggapai harapan seperti wushul ilallah, dekat dengan-Nya, mendapat derajat atau mqam tertentu karena melihat kelalaian dan kelalaian Anda. ketidaksempurnaan zakat anda dari kekurangan yang menghalangi penerimaannya. Naskah lain, “Tiada perbuatan yang lebih ditunggu kebaikan batiniahnya” ”(lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I , halaman 43).

Amal yang diterima oleh Allah adalah sedekah orang-orang yang beriman. Orang benar selalu melihat bahwa ibadah mereka penuh dengan kekurangan dan aib. Mereka tidak pernah mengagungkan ibadah mereka. Mereka melihat ketidaksempurnaan ibadah mereka. Namun justru ibadah mereka yang bangkit di hadirat Allah SWT.

وقد قال عز من قائل انما يتقبل الله من المتقين وإنما يسلم العمل من الآفات باتهام النفس فى القيام بحقه ورؤية تقصيره فيه فيغيب عنه إذ ذاك شهوده ويحتقر عنده وجوده فلا يساكنه ولا يعتمد عليه فإن لم يكن على هذا الوصف بل كان ناظرا إليه ومستعظما له غائبا عن شهود منة الله تعالى عليه فى توفيقه له أوقعه ذلك فى العجب فحبط لذلك عمله وخاب سعيه … وقد سئل بعض العارفين ما علامة قبول العمل قال نسيانك إياه وانقطاع نظرك عنه بالكلية بدلالة قوله تعالى إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه

Baca Juga :  Pesan Mendagri Tito ke Komjen Sigit soal Soliditas Polri dan Binmas

Artinya, “Allah berfirman,“ Allah hanya menerima perbuatan orang yang takut. ”Sedekah hanya bisa diselamatkan dari kekurangannya dengan cara melontarkan tuduhan hawa nafsu saat melakukannya dan melihat kelalaian yang terkandung di dalamnya sehingga lenyap dari matanya. dan kamu terlihat hina kepadanya. Dari situ dia merasa tidak nyaman dan menjadikannya pilar. Jika tidak demikian, dia malah akan menghitung perbuatannya, menganggapnya agung dan gagal melihat taufiq yang menginspirasinya sebagai hadiah dari Allah, maka dia bisa membenamkannya di ujub sehingga perbuatannya gagal dan usahanya sia-sia …

Salah seorang Arifin ditanyai tentang tanda penerimaan zakat. Dia menjawab: ‘Anda melupakan tindakan Anda dan benar-benar memotong mata Anda. Hal ini berdasarkan firman Allah Surah Al-Fathir ayat 10, ‘Kepada-Nya, angkatlah kalimat yang baik dan amalan yang baik Dia akan membesarkannya’ ” (Lihat Syekh Ibn Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, no catatan tahun, juz. I, halaman 44).

Melalui hikmah ini, Ibnu Athaillah mengajak kita untuk tidak merasa puas dengan beribadah. Ia mengingatkan kita untuk tidak melihat kesempurnaan ibadah hingga melahirkan ujub, penyakit jiwa yang berbahaya. Ini mengingatkan kita untuk melepaskan diri dari amalan ibadah kita karena pada hakikatnya beribadah adalah anugerah dari Allah SWT. Kami tidak harus bangga dengan tindakan penyembahan kami. Allah Maha Tahu. (Alhafiz k)

Baca Juga :  Jokowi Teken Perpres 7/2021, Penceramah dan Pengelola Rumah Ibadah akan Diberi Pelatihan Pencegahan Ekstremisme

Sumber; Warta Batavia

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *