ramadan3-1-768x430-1-696x390.jpg

Merajut Kembali Spirit Cinta kepada Allah dari Jebakan Rutinitas Ramadan

Diposting pada
ramadan3 1 768x430 1 Membangun Kembali Semangat Kasih kepada Allah dari perangkap rutinitas Ramadhan
Ilustrasi

Kahlil Gibran pernah menulis: “Cinta yang tidak diperbarui setiap hari akan berubah menjadi perbudakan”. Artinya semangat cinta bisa hilang jika hanya diolah dengan menu yang sama, jalan-jalan yang lancar dan aktivitas yang hanya seperti rutinitas tanpa ruang untuk memperbaharui semangat cinta. Kami telah mendengar secara langsung bagaimana hiruk pikuk Ramadhan berlangsung begitu banyak di minggu pertama, tetapi perlahan memudar karena kami terbiasa menahan lapar dan haus di minggu berikutnya. Contoh kecil: tempat aman di masjid juga memiliki antrian yang lebih sedikit dibanding di minggu pertama puasa.

Bahkan staf yang memegang sekte itu sepertinya hanya mendengarkan rekaman ceramah dari tahun-tahun sebelumnya. Sindrom “Kutiba” yang meliputi Austin pada bulan puasa. Ayat-ayat yang dibaca selalu sama, hadits yang diturunkan juga sama. Tentunya tidak ada salahnya mengutip ayat-ayat dan hadits tersebut, namun jika makna yang disampaikan selalu sama setiap Ramadhan, jemaah sudah mengetahui apa yang dikatakan oleh staad tersebut, karena hampir setiap Ramadhan isi ibadah sudah menjadi rutinitas.

Di sinilah perangkap rutin terjadi. Puasa yang telah kehilangan semangat cinta Ilahi akan berubah menjadi kebiasaan seperti mengalami kemacetan di jalan raya setiap hari. Awalnya tampak berat, tetapi lambat laun menjadi hal biasa. Kalaupun ada yang mengeluh macet, kita akan bingung: “macet itu tidak biasa!”. Kultus Ramadhan yang kehilangan semangatnya untuk cinta ilahi adalah seperti jebakan lalu lintas – suka atau tidak, Anda akan terus mengalaminya karena itu telah menjadi begitu umum.

Baca Juga :  Sah! Gibran Rakabuming Ditetapkan Sebagai Wali Kota Solo Terpilih

Jadi bagaimana cara agar semangat cinta kita diperbarui setiap hari di bulan Ramadhan? Bagaimana hati kita bergetar setiap hari sebelum fajar saat kita mulai berpuasa?

Beberapa menanggapi dengan mengunci diri di sel isolasi selama bulan Ramadhan. Banyak cerita sufi dalam literatur Islam yang menceritakan bahwa ketika Ramadhan datang, kesenangan dunia seakan berhenti dan para sufi hanya memenuhinya dengan ibadah. Bagi kebanyakan orang, langkah ini tidak praktis karena kami memiliki keluarga dan juga tanggung jawab untuk mencari nafkah. Kami bukanlah sufi yang hubungannya dengan Allah sangat istimewa. Hanya sedikit orang yang dapat mengikuti metode ini.

Ada juga yang membuat rumusan ibadah dengan mengamalkan mengaji, shalat malam dan berbagai amalan lainnya. Akibatnya, mereka menjadi malas dan lelah saat berangkat kerja atau kampus karena sering begadang selama bulan Ramadhan. Produktivitas kerja menurun, bos di kantor marah, atau guru kampus marah saat melihat siswa tidur di kelas.

Beberapa mencoba menemukan semangat cinta ilahi dengan berbagi dengan orang lain selama bulan puasa. Ada yang memasak nasi, tempe, tahu dan sayur setiap malam, kemudian dibungkus dan dibagikan gratis kepada yang membutuhkan. Apakah puasa orang miskin? Tidak penting. Yang penting mereka punya makanan untuk berbuka puasa. Siapa tahu mereka dialihkan ke puasa karena kini sudah yakin punya makanan untuk berbuka puasa.

Ada juga yang tidak sempat mengaji, tidak sempat bangun malam, kalaupun tidak ada rezeki lagi untuk dibagikan, mereka tidak melakukan apa-apa selain berusaha berpuasa semampu mereka. Kami bertemu mereka di sudut kota yang hangat, berdiri di jalanan berdebu, mencari sisa makanan atau sekadar memetik gitar atau menjual barang dagangan.

Baca Juga :  Memahami Hakikat Pencegahan dalam Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme

Dapatkah kita menemukan semangat kasih ilahi pada pedagang kaki lima, tempat parkir, supir taksi, tukang sapu dan artis jalanan? Ibn Athaillah mengingatkan kita: rubbama wajadta min al-mazidi fi al-faqat tapi tajiduhu fi al-shaum wa al-shalat. Ada kemungkinan bahwa pengalaman mental diperoleh dalam penderitaan, yang tidak dapat dicapai oleh puasa dan doa. Bisa jadi Tuhan hadir bagi mereka yang menderita dan “berpuasa” sepanjang tahun, berbeda dengan kita yang hanya berpuasa di bulan Ramadhan.

Beberapa benar-benar meningkatkan kasih ilahi dengan memilih untuk bekerja secara normal. Rutinitas Ramadhan sangat cocok dengan rutinitas hariannya. Dalam satu tarikan napas. Saat pesta aktif di masjid, dia menghabiskan berjam-jam mengoperasi pasiennya yang masih hidup dan mati. Ketika orang-orang berada di tengah-tengah tadaro, ada yang sibuk memahami ayat kauniyah di ruang laboratorium dengan berbagai eksperimennya. Syairnya hadir di tumpukan kertas dan berbagai bahan kimia yang mengelilinginya.

Bagi orang-orang ini, puasa Ramadhan bukanlah rutinitas yang membuat bercinta tampak seperti penghalang, tetapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Mereka tidak lagi memisahkan dunia dan akhirat; seolah-olah ibadah hanyalah masalah eksternal dan berfungsi seolah-olah hanya berorientasi dunia. Pandangan mereka tentang dunia dan akhirat berbeda dari pandangan kebanyakan orang.

Menurut dawuh Kiai Ahmad Asrori (Allah yarham), dunia adalah segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah (bahkan jika kita sedang beribadah). Bahkan jika akhirat adalah satu-satunya hal yang membuat kita kembali kepada Allah (bahkan jika kita bekerja untuk hidup). Karenanya, pemurnian semangat cinta ilahi selama bulan Ramadhan dimulai dengan memulihkan perspektif kita tentang dunia dan sekitarnya. Mungkin kita terjebak dalam rutinitas Ramadhan karena kita salah menafsirkan apa itu alam duniawi dan surgawi.

Baca Juga :  Tangkap Pria yang Ancam Bunuh Mahfud Md, Polisi Dalami Keterlibatannya di FPI

Jika Khataman dalam Alquran dan doa malam serta ritual yang kita sampaikan tidak benar-benar membawa kita lebih dekat kepada-Nya, kita masih berada di tingkat “duniawi”. Di sisi lain, karena pekerjaan dan aktivitas kita di kantor, kampus, atau jalan raya membuat kita semakin merasakan kehadiran-Nya, semangat cinta Ilahi telah membawa kita ke tingkat “melampaui”.

Dan bagaimana dengan mereka yang baik di masjid maupun di kantor, apapun aktivitasnya, baik berdzikir maupun berpikir, selalu menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan ini? Merekalah yang berhasil keluar dari perangkap rutinitas Ramadhan. Merekalah yang memperbarui semangat cinta mereka setiap hari. Mereka adalah orang-orang yang memenuhi tujuan puasa, yaitu menjadi saleh. Dan bi idznillah, merekalah yang pantas mendapatkan kemuliaan malam seribu bulan. Semoga!

Nadirsyah Hosen

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *