Mokhtar Alim Shokder, Kaligraf Kiswah Ka’bah – Aspiratif News

Mokhtar Alim Shokder, Kaligraf Kiswah Ka’bah
Views: 272
Read Time:3 Minute, 2 Second

Mokhtar Alim Shokder, Kaligraf Kiswah Ka’bah – Aspiratif News

Makkah, Aspiratif News

Namanya Mokhtar Alim Shokder. Dia ialah kaligraf—orang yang ahli mecatat indah—di Perusahaan Kiswah untuk Ka’bah di Makkah. Shokder menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya menduduki posisi yang prestisius dan terhormat seperti waktu ini.


Ke Arab News, Kamis (30/7), Shokder menceritakan bagaimana ‘petualangannya’ sampai jadi seorang kaligraf Kiswah Ka’bah. Dia mengakui jatuh cinta dengan kaligrafi semenjak usianya masih muda. Dia lalu mengembangkan keterampilannya dalam bidang kaligrafi selama bertahun-tahun.


Pada waktu kelas 3, dia ikut kursus kaligrafi selama 3 bulan pada musim panas yang diadakan Masjidil Haram. Awalnya dia mempertunjukkan Skill yang luar biasa. Hal itu membikin guru kaligrafinya terkesan. Dia lalu jadi guru kaligrafi pada tahun seterusnya.


Shokder terus melatih keterampilannya. Berlatih berjam-jam saban harinya karena dia sungguh menyukai kaligrafi Arab. Dia kian suka dan bahagia manakala keterampilannya meningkat. Dia menyebut bahwa kaligrafi memerlukan banyak waktu, kesabaran, dan ketelitian. Untuk Mempertajam dan menyempurnakan kaligrafi bahwa dibutuhkan latihan selama bertahun-tahun.

READ  PBNU Kerja Sama NTV, Ummat Dapat Ngaji Islam Toleran Tiap Hari

 

“Sahabat kelas saya akan Datang dan meminta tips Soal hal cara menaikkan tulisan tangan mereka,” kenangnya. 

 

sesudah mengajar kaligrafi di Masjidil Haram selama beberapa tahun, Shokder mendaftarkan diri di Jurusan Pendidikan Seni di Universitas Umm al-Qura pada 1989 untuk Mempertajam keterampilannya. Dia mengakui belajar banyak dari Muhammad Hassan Abu Al-Khair, seorang profesor di departemen dan seorang kaligrafer terkenal yang berpartisipasi dalam beberapa kompetisi dan ekshibisi.


Dia menyukai fon Naskh, kategori tulisan sans-serif yang ditandai dengan kurangnya ‘kait’ pada ujung-ujung sapuan naik dan turun. Ini dianggap sebagai bagian bentuk kaligrafi Islam paling awal dan yang dipakai untuk mecatat Al-Qur’an. Akan tetapi, dia lebih sering mempergunakan fon thuluth karena memungkinkan untuk garis, lereng melengkung dan melenceng, serta dipakai untuk mecatat di kiswah. 


Dia mengakui dipengaruhi oleh beberapa kaligraf, khususnya kaligraf Dinasti Usmani pada abad ke-19 Sami Efendi. Shokder terkesan waktu ke-1 kali melihat bagian karya Efendi. Untuknya, karya Efendi Ialah teladan bagi semua kaligraf.

READ  Rudi S. Kamri: Pak Jokowi, Jangan Masukkan Serigala ke Kandang Domba


Singkat cerita, Shokder ditunjuk untuk jadi satu-satunya kaligraf untuk kiswah Ka’bah pada 2003. Ia begitu bahagia karena hal itu Ialah impian dari ayahnya. “Itu ialah bagian momen paling bahagia dalam hidup saya dan berkah besar dari Allah.  Karena itu, saya akan selalu berhutang budi. Impian ayah saya jadi kondisi sejatinya,” katanya.


menurutnya, metode penulisan kaligrafi pada kiswa Ka’bah telah berkembang selama bertahun-tahun. Abdulraheem Ameen Bokhari, pendahulu Shokder, mempergunakan kapur untuk mecatat naskah di kain sutra. Lalu pencetakan sablon diperkenalkan pada tahun-tahun seterusnya. Hal ini memungkinkan kaligraf untuk menyimpan naskah di computer dan meningkatkannya.


Sementara pada zaman dahulu, proses penulisan kaligrafi di kiswah Dilakukan secara tradisional. Seorang kaligraf mempergunakan tinta untuk mecatat kata-kata di atas kertas. Lalu ujung-ujung kertas akan dilubangi dengan jarum dan diletakkan di atas kain hitam, di mana permukaannya akan dipakai untuk mecatat.


“Lalu tas transparan yang terbuat dari kain akan diisi dengan bubuk putih yang akan dipakai bareng dengan kertas untuk melubangi huruf-huruf. Seorang penyulam akan mempergunakan utas untuk mengidentifikasi tepi luar saban huruf lalu memulai proses pembubuhannya,” jelasnya. Dia menyebut, proses pengembangan metode penulisan kaligrafi pada kiswah cuma disetujui sesudah studi menyeluruh Dilakukan pada metode tersebut.   

READ  Corona, Penyiksaan, dan Bunuh Diri, Cerita Para Tahanan di Penjara-penjara UEA - Aspiratif News


Shokder menambahkan, membikin kaligrafi di kiswah memerlukan Skill yang kuat dan pelatihan berjam-jam.  Dia mengungkapkan, bagian yang menantang waktu membikin kaligrafi di kiswah ialah teks majemuk dan tumpang tindih. Seorang kaligraf mesti mencoba beberapa kali sebelum mencapai mencapai hasil yang diinginkan—indah, dengan uturan kata-kata yang logis, dan menggabungkan semua elemen seni.


Pewarta: Muchlishon

Editor: Kendi Setiawan

Mokhtar Alim Shokder, Kaligraf Kiswah Ka’bah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *