Nasib-Kaum-Yazidi-Tetap-Tidak-Jelas-Setelah-6-Tahun-Diserang-ISIS.jpg

Nasib Kaum Yazidi Tetap Tidak Terang seusai 6 Tahun Diserang ISIS

Diposting pada

Enam Tahun seusai Serbuan ISIS di Sinjar, Sampai Sekarang Nasib Kaum Yazidi Masih Belum Terang

BAGHDAD – Waktu kaum Yazidi memperingati serbuan brutal ISIS kepada perkumpulan mereka di Sinjar enam tahun lalu, para aktivis menuntut sokongan untuk kaum minoritas mereka yang rapuh di Irak. Pada awal Agustus 2020, di Provinsi Sinjar di Irak utara, jantung bersejarah bagi kaum Yazidi, warga setempat berkumpul di jalan Inti dan di luar gedung-gedung umum untuk menyalakan lilin dan mengingat mereka yang gugur dalam serbuan ISIS tersebut.

Pada tahun 2014, anggota milisi ISIS menyerbu provinsi tersebut dan dengan sengaja menargetkan perkumpulan untuk menghabisi ratusan dan menculik ribuan orang. Setengah juta orang Yazidi mengungsi. Serbuan itu digambarkan selaku genosida oleh PBB pada 2015 dan penyelidikan internasional yang didanai PBB kepada kejahatan perang ISIS diluncurkan pada 2018.

Tetapi, enam tahun sesudah serbuan awal, perkumpulan di Irak masih berhadapan dengan tantangan yang luar biasa. Kisaran 250 ribu Yazidi masih tinggal di kamp-kamp di wilayah Kurdistan dan lebih dari 100 ribu bermigrasi keluar dari Irak. 3 ribu orang hilang atau tidak ditemukan, dengan ratusan diketahui Ada di kamp pengungsian di Suriah. Pada warning tersebut, pelayat memegang spanduk menuntut keadilan internasional dan keamanan yang lebih besar untuk tanah air mereka.

Baca Juga :  Pakistan Menjerit: “Dunia Wajib Hentikan Genosida di Kashmir !”

“Kami tidak menyaksikan adanya pergerakan dari otoritas Irak. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada kami dalam enam tahun terakhir,” kata Naji Khadida, seperti dikutip Al Arabiya.

Walaupun ISIS dikalahkan pada 2017, kurang dari sepertiga dari pengungsi Yazidi sudah kembali ke Sinjar, di mana salah satunya ialah Khadida.

Agenda kelompok-kelompok saling bersaing di Sinjar

Sebelum kembali ke tanah kelahiran, Khadida menghabiskan enam tahun di kamp pengungsi di luar kota Dohuk, di wilayah Kurdistan Irak, bersama-sama orang tua dan saudara kandungnya. “Kami tinggal di tenda kecil tanpa dapur atau kamar mandi,” katanya.

Namun selama bertahun-tahun, ini lebih baik daripada kembali ke tanah airnya yang hancur. Kami mempunyai kewajiban untuk kembali ke Sinjar untuk melestarikan perkumpulan kami. Bahasa dan budaya kami berubah di kamp,” kata Khadida.

Problem keamanan yang belum tertuntaskan juga menghalangi pemulangan sukarela ke Sinjar. Semenjak 2017, provinsi tersebut sudah di bawah kendali kubu bersenjata non-negara yang bersekutu dengan Baghdad, termasuk Unit Mobilisasi Populer (PMU) yang Disokong Iran dan Unit Perlawanan Sinjar, sebuah milisi Yazidi yang berafiliasi dengan Partai Buruh Kurdistan (PKK).

Baca Juga :  Walaupun Bermusuhan, Maduro Mendoakan Trump Cepat Sembuh

Kubu bersenjata ini, ujar Saeb Khidr, seorang member parlemen Irak dari Yazidi, memerangi ISIS bersama-sama Tentara Irak, Kurdi, dan gabungan internasional. Banyak yang bersimpati di Sinjar.

Waktu ini, kehadiran mereka menghambat dukungan kemanusiaan dan usaha rekonstruksi. “Banyak organisasi internasional yang ragu untuk beroperasi di Sinjar. Kami tidak mempunyai cukup profesional berkualifikasi di lapangan,” kata Khidr.

Menurut Khidr, agenda kelompok-kelompok yang bersaing juga mengganggu pembentukan kehidupan sipil di provinsi tersebut. (ra/aspiratif)

Nasib Kaum Yazidi Tetap Tidak Terang seusai 6 Tahun Diserang ISIS

Nasib Kaum Yazidi Tetap Tidak Terang seusai 6 Tahun Diserang ISIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *