tol-1.jpg

Ngaji Ramadhan; Ajaran Tasawuf dan Tolerasi Beragama Tanpa Diskriminasi

Diposting pada
tol 1 Ngaji Ramadhan;  Ajaran tasawuf dan toleransi beragama tanpa diskriminasi
Ilustrasi

Jika ajaran Fiqh lebih banyak berbicara tentang “halal-haram”, “sah-batal demi hukum”, atau lebih tepatnya berbicara tentang “Haram, Makhruh Tahrim-tanzih, Mubah, Sunnah, Wajib, Khilaful Hall”, atau lebih dikenal seperti al -ahkam as -sab’ah (tujuh macam hukum dalam fiqh), tasawuf lebih banyak tentang hal-hal yang baik-tidak-baik, pantas-tidak pantas, tidak pantas-tidak pantas. Jika Fiqh “sering” lebih pada formalitas yang didasarkan pada pemenuhan Persyaratan Rukun, dan juga pada “illat”, maka tasawwuf lebih substantif dengan mengedepankan rasa dan etika moral.

Oleh karena itu, dalam konteks toleransi baik di dalam maupun antar agama, tasawuf lebih sering digunakan dan lebih tepat. Karena membangun hubungan antara manusia dengan siapa pun membutuhkan “perasaan” dan dendam yang datang dari hati yang jernih, serta tatanan agama tentunya. Sufisme atau al-ahkam al-khuluqiyah diartikan sebagai “ajaran yang berkaitan dengan upaya membebaskan hati dari kualitas tercela (التخلي- takhalli) dan mengisinya dengan kualitas terpuji (التحلي- tahally).

Salah satu ajaran Tasawwuf yang mengajarkan bagaimana membangun toleransi atas dasar hubungan antar manusia adalah ajaran “al-Futuwwah- الفتوة”. Menurut Imam al-Qusyairy dalam bukunya ar-Risalah al-Qusyairiyyah (hal. 275), Futuwwah berarti “jika seseorang selalu mengabdikan dirinya untuk kepentingan orang lain”. Konsep ini diilhami oleh sebuah ayat dalam surat al-Kahf yang berbicara tentang ashabu al-kahfi, yaitu bahwa mereka adalah “إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى” – dan mereka masih memiliki orang-orang yang pemberani. ”

Baca Juga :  Kebakaran Kilang Pertamina Balongan, 5 Warga Luka Berat-Ratusan Mengungsi

Para ulama sufi mendefinisikan al-Futuwwah dengan berbagai arti yang berkaitan dengan “rasa” yang mereka miliki. Beberapa dari mereka mengatakan al-Futuwwah memaafkan kesalahan teman-temannya. Beberapa orang lain menafsirkan al-Futuwwah sebagai “tidak melihat dirinya lebih baik dari yang lain”. Ada juga yang artinya “orang yang tidak punya dan tidak menjadi musuh siapapun”. ada juga definisi yang menarik;

وقيل لبعضهم: مَا الفتوة فَقَالَ: أَن لا يميز بَيْنَ أَن يأكل عنده ولى أَوْ كافر.

Futuwwah adalah orang yang tidak membeda-bedakan apakah orang yang makan di sebelahnya adalah “seorang wali” atau seorang kafir. Jadi, jika seseorang tidak lagi membedakan siapa yang ada di sebelahnya, apakah dia kekasih Allah, kafir atau seseorang, maka dia telah sampai dalam keadaan “Futuwwah”.

Ada juga yang menafsirkan:

وقيل: الفتوة ترك التمييز.

Futuwwah tidak diskriminatif (dengan nama apapun)

Jadi al-Futuwwah adalah orang yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk kepentingan orang lain tanpa memandang agama dan keyakinan, jenis kelamin, ras atau suku (non-diskriminatif). Atau bahasa lain “untuk melayani tanpa syarat”. pemahaman ini didukung oleh cerita-cerita yang diceritakan oleh para ulama;

Baca Juga :  Wusss! Cinere-Serpong Bisa Lewat Tol Mulai April 2021

Suatu hari Majusiy meminta nabi Ibrahim (as) untuk makan makanan. Nabi Ibrahim (as) menjawab, Saya ingin memberinya makan dengan syarat dia masuk Islam. Mendengar kondisi ini, Majusiy enggan dan jika saat itu Allah mengatakan kepada Nabi Ibrahim, wahai Ibrahim, saya telah memberi makan Yang Mulia dengan kufur selama 50 tahun dan tidak pernah meminta syarat.

Mengapa Anda tidak memberi makan Majusiy tanpa memintanya untuk pindah agama? Setelah menerima peringatan dari Allah ini, Nabi Ibrahim segera mengejar Majusiy dan meminta ampun. Dengan permintaan maaf Nabiyullah Ibrahim, Majusiy dikatakan telah masuk Islam. (al-Qusyariyyah, hal.276)

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Antara lain, untuk memenuhi kebutuhan dunyawiyah orang lain, mereka tidak boleh membeda-bedakan atas nama apapun. Hal ini penting dilakukan bagi pejabat publik (rumah sakit, penyelenggara, pelayanan publik) dan bagi siapapun yang berkuasa, agar tidak terjadi diskriminasi dalam pelaksanaan fungsi pelayanan dan tugas ketatanegaraan.

Allah Maha Tahu

Sumber: FB KH Imam Nakha’i

Baca Juga :  Pemerintah Tidak Larang Mudik Lebaran Tahun Ini

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *