Munarman.jpg

Operasi Bakda Asar; Penangkapan Munarman

Diposting pada
Operasi Munarman Bakda Asar;  Penangkapan Munarman
Munarman ditangkap oleh Densus 88 (foto: Twitter)

Suara sapaan dari depan gerbang mengejutkan Kikied Wirawandika. Dia segera membuka pintu depan. Saat dia menanggapi sapaannya, bibirnya menjadi tidak bisa berkata-kata.

Empat orang berseragam di depannya tercengang. Melihat keluar, barisan mobil polisi memenuhi kompleks tempat tinggalnya. Jumlahnya mencapai belasan. Ada juga tulisan Densus 88.

Sekitar pukul 14.45 WIB rombongan polisi tiba. Kikied kemudian mengobrol dengan keempat orang itu terlebih dahulu. Sebelum pertanyaan diajukan, para tamu muncul terlebih dahulu. Memberitahu mereka anggota polisi Polda Metro Jaya. Diketahui bahwa anggota detasemen khusus 88.

Wawancara Kikied dengan polisi berlangsung sekitar 15 menit. Dalam perbincangan, Kikied kembali terkejut. Polisi menunjukkan surat penangkapan terhadap Munarman, warga di lingkungannya yang juga mantan pemimpin senior Front Pembela Islam (FPI). Sadar akan niat polisi tersebut, mereka bergegas ke rumah Munarman di Kompleks Perbukitan Modern RT 01 RW 13 Desa Pondok Cabe Udik, Tangerang Selatan.

Perjalanan menuju rumah Munarman tidak terlalu jauh. Hanya beberapa rumah yang berbeda. Setibanya di sana, Kikied disambut oleh seorang asisten rumah tangga. Kemudian dia mengkomunikasikan maksud kedatangannya. Istri Munarman juga pergi.

Mendengar penjelasan ketua RT, istri Munarman masih tenang. Tidak ada reaksi berlebihan. Kemudian dia memanggil suaminya untuk menemui para tamu di luar. “Saya laporkan ada tamu dari Polda. Cari Pak (Munarman),” kata Kikied kepada merdeka.com, Sabtu.

Baca Juga :  Raffi Ahmad Digugat Gara-Gara Hadiri Pesta Usai Divaksin

Azan Asar menggema saat Munarman menemui tamu polisi dan Densus 88. Mengetahui tujuan kedatangan polisi untuk menangkapnya, Munarman menanyakan waktu. Dia ingin melakukan sholat Asar dulu. Permintaan itu diterima.

“Tunggu dulu. Silakan dulu,” kata Kikied menirukan ucapan Munarman. Kikied pun membahas permintaan Munarman dengan polisi. “Sudah waktunya Asar,” ucapnya.

Usai melaksanakan salat, Munarman kemudian dibawa tim Densus 88. Sekitar pukul 15.30 WIB, ia dibawa polisi ke Polda Metro Jaya. Tidak ada perlawanan dari keluarga. Istri dan kedua anaknya juga menyaksikan penangkapan Munarman oleh polisi.

Kikied mengaku ada insiden saat Munarman bersitegang dengan polisi. Seperti dalam video penangkapan warganya yang beredar di dunia maya.

Penangkapan sehubungan dengan dugaan terorisme

Setelah Munarman ditangkap, polisi masih berjaga-jaga di lokasi kejadian. Beberapa bahkan telah melakukan penelitian. Kikied juga menemani. Sekitar 70 benda diambil dari rumah Munarman. Barang yang dibawa adalah buku, flash drive, dan berbagai macam handphone. Penggeledahan rumah Munarman berlanjut hingga pukul 17.30 WIB.

Kikied mengaku belum tahu persis berapa jumlah petugas polisi yang dikerahkan hari itu. Ada cukup banyak polisi yang datang dan memarkir mobil di depan rumahnya. Belum lagi para penjaga di sekitar kompleks apartemen. “Sejak akhir kompleks, semua Brimob berjaga,” katanya.

Polisi mengatakan Munarman ditangkap setelah mengembangkan penyelidikan atas pengungkapan sejumlah kasus terorisme. Munarman diduga menghasut orang lain dan setuju melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi.

Baca Juga :  Gubernur Ma’rib Pro-Mansour Hadi Blak-Blakan Akui Pihaknya Hampir Kalah Perang

Penangkapan Munarman juga terkait dengan tiga kegiatan loyalitas yang diikuti oleh banyak tersangka terorisme, terutama UIN Jakarta, Makassar, dan Medan. Kepala Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengaku belum bisa menjelaskan lebih detail kasus tersebut.

Sejauh ini polisi masih menyelidiki untuk menemukan benang merah keterlibatan Munarman dalam kasus tersebut. Penyidik ​​Densus akan melakukan penyidikan dan penyidikan secara profesional dan kami tunggu hasilnya nanti, kata Ahmad.

Pasca penangkapan Munarman, aparat keamanan juga menggerebek bekas markas FPI di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat pada hari yang sama. Dari penelitian tersebut, lanjutnya, beberapa bahan kimia diduga berbahaya karena berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan bom.

Ia juga enggan membeberkan jenis bahan kimia apa yang ditemukan. Karena mereka tidak ingin informasi ini digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. “Namanya nggak perlu disebut, nanti kita ajari orang,” ucapnya.

Pengacara Munarman, Aziz Yanuar, menjelaskan bahwa tuduhan kliennya terlibat dalam pengkhianatan teroris di Makassar adalah cerita lama dan sudah terbantahkan. Ia pun kaget karena kejadian itu terungkap kembali. Bahkan dijadikan dasar penangkapan Munarman.

“Konon sudah lama berlalu, artinya sejak kejadian tahun 2014 atau 2015 saya sudah lupa yang mana di sosial media sudah ramai. Munarman diduga terlibat dalam inisiasi, artinya dia juga ikut hadir. “dia berkata.

Baca Juga :  Mudik Lebaran Dilarang, Seluruh Moda Transportasi Stop Operasi 6-17 Mei

Aziz mempertanyakan kejadian yang sudah lama terjadi dan kemudian dipastikan kembali dan menjadi dasar penangkapan. Munarman sebenarnya beberapa kali menjelaskan bahwa dia diundang dan tidak dilibatkan.

“Ia juga menyampaikan kepada media dalam berbagai kesempatan bahwa saat itu ia diundang oleh FPI Makassar untuk memberikan seminar tentang konstelasi global saat itu,” ujarnya.

Soal proses inisiasi, Aziz mengaku, Munarman tidak tahu apa-apa tentang proses tersebut. Alasannya adalah bahwa bisnis dijalankan setelah serangkaian acara yang diikuti pelanggannya. Munarman yang hadir dalam acara tersebut juga mengenang bahaya perbuatan yang melanggar hukum. “Ternyata apa yang dikumpulkan juga bisa berbenturan dengan agenda jika ada komitmen.”

Terkait bahan kimia berbahaya yang ditemukan di Petamburan, Aziz mengaku tidak bisa berkomentar banyak karena tidak hadir saat proses pencarian. Adapun buku yang disita, Aziz mengatakan buku tersebut tidak dilarang.

“Menurut saya ini sangat berlebihan, karena itu literasi karya ilmiah bahkan bukan buku terlarang. Dan itu merupakan koleksi buku biasa di perpustakaan,” ujarnya. [ang]

Sumber: www.merdeka.com

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *