Juli 14, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Pemulihan sesudah Pandemi Covid-19 – Aspiratif News

13 Views
Read Time:5 Minute, 19 Second

Pemulihan sesudah Pandemi Covid-19 – Aspiratif News

Oleh Fathoni Ahmad

Semenjak ditetapkan sebagai Pandemi Global oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO pada 11 Maret 2020 lalu, penyebaran dan penularan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) berdampak buruk untuk seluruh mobilitas yang menyertai kehidupan manusia di bumi. Tidak terkecuali aktivitas keagamaan di mushola dan masjid yang Turut kena dampak peniadaan ibadah untuk memutus rantai penyebaran virus tetapi dipahami secara fatalis oleh sebagian orang.

Pihak-kelompok fatalis ini kerap melontarkan, “takutlah untuk Allah, bukan pada virus corona”, “corona ini Tentara Allah”, “corona ini ialah azab”, dan lontaran-lontaran fatalis lainnya sehingga menafikan langkah-langkah pencegahan untuk kepentingan bersama-sama.

 

Kluster jamaah tabligh yang tetap bandel menyelenggarakan ijtima’ dunia Gowa, Sulawesi Selatan menimbulkan kerepotan banyak pihak. Tidak sedikit dari mereka yang menularkan virus corona sesudah pulang ke kampungnya masing-masing.

Menyadari akan kerepotan tersebut, maka para ulama di negara-negara tersebut di atas melakukan ijtihad dengan mengambil kebijaksanaan meniadakan shalat Jumat dan sebagai gantinya diperintahkan shalat Dhuhur di rumah masing-masing. Hal ini mereka tempuh karena sebagai pemimpin mereka berkewajiban menghomati dan menjaga hak asasi manusia di antara umatnya, ialah hak atas keamanan jiwa (hifdzun nafs) yang diamanatkan oleh syariat.

Allah dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an dengan tegas melarang manusia berbuat kerusakan di atas bumi sebagaimana ayat berikut: “Dan janganlah membikin kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang sedemikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul engkau orang-orang yang beriman.” (QS al-A’raf: 85)

Allah ialah Dzat yang menghidupkan manusia dan memberinya kesehatan agar mereka dapat melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya, ialah beribadah cuma kepada-Nya.

Bagi para ulama, membiarkan keamanan jiwa manusia terancam oleh virus Corona dengan membolehkan mereka berkumpul dalam hitungan total besar dalam ruang dan waktu yang sama ialah sebuah tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan karena mengancam keamanan jiwa. Sebab itu, mencegah keburukan wajib didahulukan dibandingkan mengambil manfaat.

Hal ini sesuai dengan bagian bunyi kaidah fiqih dar’ul mafasid muqoddam ‘ala jalbil masholih (usaha Tidak mau kerusakan wajib didahulukan daripada usaha mengambil kemaslahatan).

Argumentasinya ialah bahwa usaha menjaga keamanan jiwa manusia agar terhindar dari wabah virus Corona yang amat berbahaya itu wajib diutamakan daripada usaha untuk terlaksananya kewajiban shalat Jumat.

Ke-2 hal tersebut, ialah menghindari wabah virus Corona untuk keamanan jiwa dan terlaksananya perintah shalat Jumat di masjid sama-sama Ialah perintah agama yang berjumpa secara bersamaan dalam situasi yang sama sehingga jadi dilema. Oleh karena itu wajib ada jalan keluar yang benar menurut syariat.

Dalam situasi seperti ini usaha menjaga jiwa manusia wajib diutamakan karena bersifat mendesak dibandingkan dengan Pelaksanaan shalat Jumat yang dapat diganti dengan shalat dzuhur karena terhalang adanya uzur, ialah ancaman wabah virus Corona itu sendiri yang amat berbahaya.

Kaidah ini amat penting untuk dipahami oleh publik dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari berhubungan dengan urusan-urusan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah termasuk dalam urusan duniawi seperti sosial, ekonomi, sampai politik. Contoh lain, jika seseorang berhadapan dengan 2 problem sekaligus seperti antara tuntutan membenahi rumah yang nyaris roboh dengan keinginan beribadah umroh ke Tanah Suci.

Dalam situasi seperti ini tentu saja usaha membenahi rumah yang nyaris roboh itu wajib didahulukan karena mendesak dan dapat menimbulkan korban jiwa bagi seluruh penghuni rumah daripada berangkat ke Tanah Suci yang hukumnya sunnah dan dapat diundur waktunya.

Dalam pandangan Islam, tidak ada sehelai daun gugur pun yang tidak Ada dalam pengetahuan Allah. Semua yang ada di bumi dan segala isinya Ialah makhluk yang tidak saja diciptakan oleh Sang Khalik, tapi juga semuanya bertasbih memuji-Nya. Tidak ada penyakit kecuali Allah sediakan penawarnya. Pada waktu yang sama, tidak ada yang sia-sia dari penciptaan Allah, termasuk makhluk kecil bernama Covid-19 ini.

Nadirsyah Hosen (2020) dalam tulisannya di Jawa Pos mengungkapkan sebuah riwayat yaitu waktu menafsirkan surah Al-Fatihah, Imam Ar-Razi menuliskan sejumlah cerita yang menceritakan aspek spiritual dari kalimat bismillah. Bagian kisahnya ini:

Nabi Musa merasakan sakit di perutnya. Beliau mengadu untuk Allah yang lalu menyuruhnya mengambil sejenis daun di padang pasir. Nabi Musa mengunyahnya dan sembuh dengan izin Allah. Lalu Nabi Musa mengalami problem lagi dengan perutnya, maka Nabi Musa langsung mengunyah kembali dedauan itu, akan tetapi sakitnya malah bertambah nyeri.

Beliau mengadu: ’’Ya Rabb, waktu kali ke-1 saya makan, saya langsung sembuh. Tetapi, kali ke-2 tidak cuma nggak sembuh, tapi malah bertambah parah.”

Allah menjawab: ’’Kali ke-1 engkau Datang mengadu kepada-Ku memohon kesembuhan. Tetapi, pada kali ke-2 engkau langsung saja mengunyahnya tanpa meminta petunjuk dan izin dari-Ku. Tidakkah engkau tahu bahwa dunia ini semuanya ialah racun dan penawarnya hanyalah dengan menyebut nama-Ku?”

Teguran halus kyai sepuh persis seperti teguran kasih sayang Allah SWT untuk Nabi Musa. Segala macam ikhtiar tanpa izin-Nya ialah sebuah kenisbian, bukan kepastian. Jikalau kita tidak dapat menuntaskan problem, ubahlah persepsi kita untuk problem itu. Kita wajib belajar hidup berdampingan dengan seluruh makhluk Allah, termasuk virus korona.

Mungkin kita bukan lagi meminta Allah mengangkat virus ini, melainkan meminta Allah agar kita dapat hidup damai berdampingan dengan korona, sebagaimana kita hidup bersama-sama sekian banyak penyakit di kisaran kita. Inilah yang sekarang disebut beranjak dari fase denial utawa penyangkalan ke fase acceptance atau penerimaan. Kita menerima kondisi baru ini sebagai sesuatu yang normal.

Dalam situasi krisis karena wabah virus corona, bermacam bentuk kreativitas filantropi dari masarakat luas mengalir, baik dalam bentuk barang kebutuhan harian, sampai barang kebutuhan siap saji. Aksi galang sokongan untuk masarakat yang memerlukan memperoleh antusiasme dari banyak pihak, maksud mereka 1 membantu masarakat yang amat memerlukan agar terpenuhi kebutuhan dasar mereka.

Hal ini menunjukan bahwa filantropi telah jadi bagian kehidupan bermasyarakat yang tidak terpisahkan di Indonesia. Pada dasarnya konsep filantropi sendiri berhubungan erat dengan rasa perhatian, solidaritas sosial antara orang kaya dan orang miskin, antara yang beruntung dan yang tidak beruntung, dan antara si kuat dan si lemah.

Aktifitas derma itu sendiri Ialah usaha bagaimana dapat meringankan beban kehidupan masarakat terdampak Covid-19. Sebagian besar mereka ialah pekerja informal, tidak berpenghasilan tetap, dan ekonomi rentan. Mereka juga pihak yang kehilangan pekerjaan atau PHK. Solidaritas sosial ini Penting dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari walau tanpa wabah.

Keterlibaran dan keikutsertaan masarakat untuk bergotong-royong membantu rakyat yang terdampak Covid-19 Ialah power sebuah bangsa. Aktifitas tersebut amat membantu tatkala sokongan pemerintah turun dengan lambat padahal masarakat sudah menanti. Gotong-royong dan perhatian di tengah wabah ini seakan menghidupkan kembali identitas bangsa Indonesia.

 

Penulis ialah Redaktur Aspiratif News

Pemulihan sesudah Pandemi Covid-19 – Aspiratif News

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %