Penambahan Doa ‘Rabbighfir li’ waktu Selesai Membaca al-Fatihah – Aspiratif News

Views: 20
Read Time:6 Minute, 27 Second

Penambahan Doa ‘Rabbighfir li’ waktu Selesai Membaca al-Fatihah – Aspiratif News

Sudah maklum bahwa hal yang dianjurkan sesudah selesai menuntaskan bacaan surat Al-Fatihah pada waktu shalat ialah membaca kata “âmîn”. Hal ini berlaku baik bagi orang yang membaca surat tersebut ataupun bagi orang yang mendengarkan. Anjuran ini didasarkan pada bagian hadits:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: «آمِينَ»، وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ


“Diceritakan dari sahabat Wail bin Hujr, ia berkata: “Saya menguping Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ‘Ghairil maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dhâllîn’ lalu Nabi Mengucapkan “âmîn” dengan mengeraskan bacaannya” (HR Tirmidzi).


Tetapi sedemikian, tidak jarang sebagian dari kita pernah menemui orang yang shalat, waktu sesudah selesai membaca al-Fatihah, ia tidak cuma membaca kata “âmîn” saja, tapi juga menambahkan lafadz “rabbighfir lî amin”. Bukankah menyela-nyelai kalimat lain antara akhir surat Al-Fatihah dan kata “âmîn” ialah hal yang menghilangkan kesunnahan membaca “âmîn”? Lalu sesungguhnya apakah menambahkan kata “rabbighfir lî” sebelum mengucapkan kata “âmîn” ialah hal yang dapat dibenarkan, atau bahkan dianjurkan?


Kata rabbighfir lî sesungguhnya Ialah sebuah doa yang mempunyai arti “Wahai Tuhanku, semoga Engkau mengampuni (dosa)ku”. Para ulama berpandangan bahwa membaca kata rabbighfir lî sesudah selesai membaca surat Al-Fatihah waktu shalat ialah hal yang tidak sampai menghilangkan kesunnahan membaca âmîn, sehingga kata âmîn sebaiknya dilafalkan sesudah membaca kata tersebut. Hal sedemikian berdasar sebuah hadits Nabi, berikut penjelasan Masalah hal ini dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

ـ (تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ عَقِبَ الضَّالِّينَ رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»


“Penjelasan penting. Ucapan penulis “Hilangnya kesunnahan membaca âmîn dengan mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa, seperti dijelaskan dalam kitab al-MAjmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I, walaupun cuma kalimat yang sedikit” hendaknya dikecualikan penambahan kalimat rabbighfir lî berdasar hadits hasan bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sesudah melafalkan ad-dhallîn ialah doa “rabbighfir lî âmîn” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 49)

READ  Mengintip Usaha Jamur Merang Limbah Sawit Warga NU di Pringsewu - Aspiratif News


Lebih komprehensif lagi, Syekh Ali Syibramalisi menambahkan tambahan kata “Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn” agar doa kian bertambah komprehensif. Dalam kitab hasyiyahnya, beliau menerangkan:

وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرَّ أَيْضًا


“Hendaknya jikalau menambahkan kalimat Wa li wâlidayya wa li jamî’il muslimîn juga tidak problem” (Syekh ‘Ali Syibramalisi, Hasyiyah as-Syibramalisi ‘ala Nihayah al-Muhtaj, juz 1, hal. 489).


Tetapi hal yang Penting diperhatikan, anjuran mengucapkan doa “rabbighfir lî” sesudah membaca Al-Fatihah ini tidak sama seperti halnya anjuran membaca kata “âmîn” yang disunnahkan baik bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah ataupun orang yang mendengarkan, sebab doa “rabbighfir lî” cuma disunnahkan bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah saja, sehingga tidak berlaku bagi orang yang mendengarkan, seperti halnya bagi makmum yang mendengarkan Fatihah Imam, ataupun orang yang Ada di kisaran orang yang membaca Al-Fatihah. Dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin dijelaskan:

.وانظر هل الذي يقول ما ذكر القارئ فقط؟ أو كل من القارئ والسامع؟ والذي يظهر لي الأول، بدليل قوله في الحديث المار قال عقب: * (ولا الضالين) * أي قال عقب قراءته * (ولا الضالين) فليراجع


“Lihatlah, apakah yang (dianjurkan) mengucapkan lafadz tersebut (rabbighfir) ialah orang yang membaca al-Fatihah saja, atau juga bagi orang yang membaca dan mendengarkan? Hal yang tampak jelas bagiku ialah yang ke-1 (Orang yang membaca saja) dengan dalil dalam hadits yang telah dijelaskan berupa “sesudah lafadz Waladdhallien” maksudnya sesudah membaca lafadz Waladdhallien, maka perhatikan kembali” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 173)

READ  Pandemi Corona, ITSNU-STAIS Pasuruan Gunakan Ragam Model Pembelajaran - Aspiratif News


walaupun sedemikian, jikalau ditinjau dari power hadits yang jadi landasan anjuran membaca “Rabbighfir lî” rupanya para ulama hadits cenderung berselisih antara mengkategorikan hadits ini sebagai hadits hasan atau dhaif, mengingat bagian perawi hadits yang menerangkan Masalah hal ini cenderung didhaifkan (dianggap lemah) oleh para ulama ahli jarh wa ta’dil. 2 rawi yang dianggap bermasalah ialah Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi dan Abu Bakr an-Nahsyali. Masalah rawi yang disebutkan ke-1, Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami menerangkan:

وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: رَأَيْتُ أَهْلَ الْعِرَاقِ مُجْمِعِينَ عَلَى ضَعْفِهِ


“Di dalam perawi hadits Ada Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi, Imam ad-Daruquthni dan Imam lainnya menganggap perawi tersebut tsiqqah (Dapat dipercaya). Imam Ibnu ‘Adhi berkata: “Saya melihat para ulama iraq bersepakat mendlaifkannya” (Abu al-Hasan Nuruddin al-Haitsami, Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawaid,  juz 2, hal. 293).


Maka dari itu, tidak dapat dipungkiri bahwa hadits yang jadi landasan anjuran membaca “âmîn” cenderung lebih kuat dan shahih dibandingkan dengan hadits yang jadi pijakan membaca kata “rabbighfir lî amin”. Kesimpulan inilah yang dijadikan pedoman oleh bagian ulama hadits kenamaan Mesir, Syekh Abdullah bin Muhammad al-Ghumari dalam himpunan fatwanya:

READ  KH Muhammad Djunaidi, Ayahanda Mahbub Djunaidi - Aspiratif News

والحاصل: أن الحديث بدون زيادة: «رب اغفر لي» حسن صحيح كما قال ابن حجر وغيره، وهو بها ضعيف كما قال الحافظ العراقي، فظهر أن لا تناقض بين القولين لاختلاف موردهما وإن كان أصل الحديث واحد، وبالله التوفيق.


“Kesimpulannya bahwa hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah tidak menambahkan kata rabbighfir lî dianggap hasan dan shahih, seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asyqalani dan Imam lainnya, sedangkan dengan menambahkan kata tersebut dihukumi dhaif, seperti yang diungkapkan al-Hafidz al-‘Iraqi, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan diantara 2 pandangan karena berbeda-bedanya dasar (hadits) dari keduanya, walaupun asal dari (2) hadits tersebut tetaplah 1” (Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, Mausu’ah Abdullah al-Ghumari Fatawa wa Ajwibah, juz 16, hal. 181).


Dengan sedemikian dapat disimpulkan bahwa membaca kata “âmîn” saja sesudah melafalkan surat al-Fatihah waktu shalat dipandang lebih Utama, sebab berlandaskan pada dalil hadits yang lebih kuat. walaupun begitu, orang yang menambahkan kata “rabbighfir lî” sesudah membaca al-Fatihah, tidak dapat kita salahkan begitu saja, sebab amalan ini juga berlandaskan pada dalil yang dapat dijadikan pijakan dan sungguh Ada ulama yang menyebut hadits tersebut sebagai hadits yang hasan, sehingga dapat diamalkan, terlebih membaca doa “rabbighfir lî” ini Ada pada ranah fadha’ilul a’mal yang hadits dhaif pun juga dapat dijadikan sebagai pijakan, selama bukan berupa hadits maudlu’ dan hadits munkar. Wallahu a’lam

Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember

Penambahan Doa ‘Rabbighfir li’ waktu Selesai Membaca al-Fatihah – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *