Pencegahan Intoleransi dalam Budaya Gaok, Bobotan, dan Ngukus – Aspiratif News

Pencegahan Intoleransi dalam Budaya Gaok, Bobotan, dan Ngukus
Views: 1025
Read Time:2 Minute, 51 Second

Pencegahan Intoleransi dalam Budaya Gaok, Bobotan, dan Ngukus – Aspiratif News

Seiring gerakan purifikasi yang dibawa oleh gerakan Islam transnasional, semua hal yang identik dengan tradisi seringkali dihadapkan dengan nilai keagamaan. Penyebutan sesat, khurafat dan bidah muncul bersamaan dengan usaha pemajuan tradisi.


Di samping itu, merebaknya konflik, intoleransi dan radikalisme jadi bukti mekanisme sosial budaya tidak berjalan efekif pada tataran perkumpulan. Tradisi  jadi bagian komponen Utama pengikat kelompok-kelompok keagamaan dan budaya patuh untuk nilai dan norma sosial yang berlaku secara umum.

 

Dalam konteks Indonesia, tradisi diibaratkan sebagai kontrak sosial yang menguatkan relasi relasi di antara bermacam pihak untuk mencapai kehidupan bersama-sama. Hal itu dikarenakan karena nilai-nilai Utama (virtue ethic) dalam tradisi sering kali dimaknai bersifat terbatas, konvensional, dan rigid bagi perkumpulan penggunanya. Padahal, sejauh nilai tradisi sanggup dikapitalisasi, maka transmisi nilai nilai dari tradisi dapat dipakai untuk kepentingan bangsa, khususnya dalam menjawab isu-isu aktual keagamaan.

READ  dari Gereja, Masjid, Museum, dan Kembali Masjid - Aspiratif News


Di Indonesia banyak sekali tradisi yang ada dan masih dikembangkan masyarakat. Seperti di Jawa Barat dengan entitas etnik yang bermacam; seperti Sunda, Jawa, Betawi dan lainnya dikenal mempunyai khazanah kebudayaan baik bendawi dan non bendawi. Kebudayaan ini lahir, hidup dan dihidupi oleh para pelaku budayanya dengan selalu memperhatikan ‘jiwa zaman’ dan konteks lingkungannya. 


Untuk membuktikan kandungan khazanah budaya tersebut untuk penghalauan intoleransi, Badan Litbang dan Diklat Kemenag pada tahun 2019 melakukan kajian aktual 3 tradisi ialah Gaok, Bobotan dan Ngukus. Kajian ini berusaha tidak sekedar mengungkap praktik-praktik lama yang dikenal dalam masyarakat, tetapi juga menyokong transmisi nilai tradisi lama dalam menjawab isu isu aktual keagamaan, terkait intoleransi, radikalisme dan konflik. Transmisi nilai ini diinginkan dapat jadi strategi sosial yang ditunaikan pemerintah (Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, MenkoPolhukam, Kepolisian RI) dan para penggiat kemanusiaan yang mempunyai target membangun kehidupan bangsa yang harmonis.


Para peneliti mempergunakan kategori pemeriksaan deskriptif kualitatif dengan mempergunakan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data ditunaikan dengan Tanya Jawab, observasi, dan telaah dokumen.Tanya Jawab ditunaikan untuk pelaku tradisi, budayawan, aparat desa, dan warga setempat. Analisis data ditunaikan dengan mempergunakan teori virtue ethics (nilai keutamaan) yang dikembangkan oleh Rainer Forst dalam bukunya yang berjudul Toleration in Conflict: Past and Present (2013).

Gaok Ialah tradisi bercerita di Majalengka Jawa Barat. Tradisi ini memuat nilai-nilai soal politik, nilai sosial, lingkungan, keagamaan, dan lainnya yang berasal dari perjumpaan tradisi Hindu dan Islam yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati Cirebon dan murid-muridnya. Tradisi ini cuma ditunaikan di wilayah Majalengka.

 

READ  Haul Solo, Berikut Rangkaian Acaranya yang Dihadiri Ratusan Ribu jema'ah Dalam & Luar Negeri - Warta Batavia

Bobotan, tradisi dari Indramayu mempunyai nilai menumbuhkan kesadaran kesejatian diri sebagai manusia yang berkembang di wilayah Indramayu. Praktik tradisinya Ialah silang budaya antara tradisi Hindu dan Islam. Prinsip dasar dari tradisi ini ialah nilai nilai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara kebutuhan jasad dan rohani, keseimbangan antara posisi diri di tengah kehidupan sosial.


Tradisi Ngukus atau tradisi mengasap, pada awalnya dipakai untuk jadi perantaraan (wasilah) antara diri dan leluhur, agar kepentingannya terpenuhi. Secara maknawi, tradisi ini dapat diartikan sebagai usaha mengingat kebaikan para leluhur, secara sosial dan nilai-nilai lainnya. Praktek tradisi ini ditunaikan di sebagian wilayah Bandung.

Bobotan, seni Tradisi di Indramayu juga di Jawa Barat Ialah tradisi penumbuh kesadaran sebagai kesejatian manusia, dan Ngukusan sebagai tradisi pengingat leluhur Ialah 3 dari sekian banyak tradisi yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat. Sifat kebertahanannya didasarkan pada world view (cara pandang) masyarakat bahwa ketiganya ialah bagian dari kebutuhan hidup (basic need) dan (existensi need).

 

READ  Berniat Bangunkan Sahur, Pihak Pemuda Malah Terlibat Tawuran - Aspiratif News

Editor: Kendi Setiawan

 

Pencegahan Intoleransi dalam Budaya Gaok, Bobotan, dan Ngukus – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *