Pendidikan dan Rumah Vokasi – Aspiratif News

Pendidikan dan Rumah Vokasi - Warta Batavia
Views: 1761
Read Time:5 Minute, 54 Second

Pendidikan dan Rumah Vokasi – Aspiratif News

SALAH 1 kritik sinis dalam khazanah sosiologi ke persekolahan ialah keberadaannya telah jadi bagian cara untuk menunda generasi muda masuk dunia kerja dan membiarkan generasi yang lebih tua tetap dapat bekerja. Sekolah seterusnya diandaikan sebagai tempat penampungan generasi ini supaya tidak jadi problem sosial.

Di negara atau wilayah tempat terjadi ledakan tenaga kerja, mobilitas eksternal penduduk rendah dan ketersediaan lapangan kerja juga terbatas, kritik ini tentu ada benarnya. Dengan kata lain, kritik ini benar jika diandaikan adanya pasar tenaga kerja yang tidak berkembang dalam 1 wilayah atau negara, baik karena tidak berkembangnya dunia usaha maupun adanya lahan-lahan pekerjaan baru.

Akan tetapi, kita tidak dapat mengasumsikan bahwa ada 1 situasi yang tidak ada sama sekali Peluang untuk terjadinya Kemajuan. Jika asumsi itu yang dipilih 1 pemerintahan negara, misalnya, akan mudah berlaku hukum alam Darwinian survival of the fittest, atau

bahkan Homo homini lupus. Untuk memperoleh pekerjaan supaya dapat bertahan hidup, orang mesti bertarung dan kalau Penting saling terkam.

Oleh karena itu, dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan bahwa negara berkewajiban untuk ‘memajukan kesejahteraan umum.’ Artinya, negara wajib memfasilitasi supaya tiap-tiap warga negara hidup layak dan sejahtera, ialah melalui pendidikan sebagai cara memampukan

mereka dalam bekerja dan senantiasa mengembangkan ekonomi supaya tersedia lapangan kerja.

Secara intrinsik, dalam konteks pendidikan, kata ‘memajukan’ lebih condong pada pilihan untuk memandirikan warga negara sehingga dapat

hidup layak. Seiring dengan itu, secara logika juga tidak mungkin jika ‘memajukan’ artinya semua tanggung jawab Ada di pundak negara dan warga negara diandaikan sebagai subjek yang pasif dan cuma menerima serta menikmati suatu kemajuan.

READ  Maksud Imam Syafi’i Berucap ‘Saat Ditemukan Hadits Sahih, Itulah Mazhabku’ – Warta Batavia

Rumah Vokasi

Dalam konteks inilah, hemat saya, program Rumah Vokasi yang baru saja diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Rabu (15/7), diletakkan. Di 1 sisi, Rumah Vokasi sungguh menjalankan link and match, mengawinkan pendidikan dengan dunia kerja, tetapi di sisi lain lembaga ini secara intrinsik mesti jadi lembaga yang memanusiakan warga negara; memandirikan

mereka supaya tidak jadi subjek yang pasif.

Konsekuensi dari alur pemikiran ini dapat jadi amat jauh. Tugas negara bukan cuma memfasilitasi warganya supaya dapat bersekolah dan kemudian memperoleh pekerjaan yang layak. Jika sampai di sini saja, negara pada hakikatnya menjerumuskan warganya ke dalam human machination kalau bukan menjadikan mereka cuma sampai jadi pekerja. Kemajuan negara juga akan lambat atau tidak maju cepat karena rendahnya minat kewirausahaan.

Konsep ‘memajukan’ dalam pembukaan UUD 1945 mesti diartikan lebih jauh sebagai memampukan warga negara jadi tuan bagi dirinya sendiri. Ke-1, walaupun seorang warga negara bekerja pada 1 perusahaan asing, misalnya, mereka bukanlah ordinarily employed, dipekerjakan sebagai orang biasa, dan rentan kehilangan pekerjaan karena tidak mempunyai Skill spesial, atau bahkan dapat diperbudak.

Wajib melekat dalam konsep ‘memajukan’ itu memampukan tiap-tiap warga negara untuk mempunyai distinctive value atau nilai pembeda yang membikin mereka senantiasa dibutuhkan, dan oleh karena itu jadi manusia terhormat. Rumah Vokasi, oleh karena itu, mesti jadi bagian dari usaha membalik kondisi sejatinya bahwa sebagian besar tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja di dalam maupun di luar negeri, berpredikat babu dan karena rentan kehilangan pekerjaan terpaksa melakukan apa saja untuk mempertahankan pekerjaannya.

READ  Sudah Dicegah, Warga Masih Berziarah Waktu Lebaran - Aspiratif News

Ke-2, dapat dan sanggup bekerja pada orang atau suatu perusahaan sebagai manusia terhormat semestinya tidaklah jadi maksud akhir dari tanggung jawab negara dalam memfasilitasi kesejahteraan umum. Sebagai contoh, jadi employee atau pekerja ialah maksud antara saja. Pada 1 titik, siapa pun berhak dan difasilitasi supaya beralih jadi employer atau pemberi kerja.

Dengan kata lain, program vokasi yang Waktu ini direaktivasi Kemendikbud juga bertanggung jawab dalam memupus mentalitas pegawai atau pekerja yang jamak di Indonesia. Kecenderungan penduduk untuk memilih bekerja sebagai pegawai, misalnya, dan karena argumentasi politik juga lainnya seperti diaminkan pemerintah, Ialah preseden buruk bagi kemajuan negara. Negara mesti memfasilitasi warganya untuk jadi pewirausaha seperti yang Dilakukan negara-negara ekonomi maju.

Beberapa catatan

Agar usaha memajukan warga negara ini terjadi dalam dunia pendidikan vokasi, ada beberapa catatan yang Penting diperhatikan yang meliputi pilihan jurusan berdasar minat dan bakat, kurikulum yang mempunyai compellingness, dan tidak administratif, serta proses pendidikan yang manusiawi.

Secara wacana, pemilihan juruan berdasar minat dan bakat bukan hal baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Problem yang mesti diatasi dalam penjurusan ini ialah adanya unsur pemaksaan, baik dalam relasi sosial di rumah tangga maupun yang lebih sulit diatasi di tengah penduduk. Mungkin karena faktor kualitas literasi, jurusan ilmu-ilmu alam seperti lebih terhormat, dan menjanjikan secara ekonomi jika dibandingkan dengan jurusan- jurusan lainnya.

READ  Wasiat Rasulullah Saw Waktu Hati Tengah Galau - Warta Batavia

Padahal, dilihat mempergunakan pendekatan kecerdasan majemuk, jika berkapasitas mumpuni, seorang yang ber- bakat seni dapat lebih terhormat dan maju secara ekonomi. Sedemikian pula, seorang yang mempunyai kesanggupan interpersonal yang baik lebih berpeluang jadi direktur sebuah bank dibandingkan mereka yang jago hitung.

Terkait dengan kurikulum, tantangan terbesar menurut saya ialah konten yang membosankan dan ketinggalan zaman. Para murid tidak sungguh-sungguh dalam belajar bukan karena mereka secara genetis malas atau sebab-sebab sosial. Jika saja konten pembelajaran compelling: menarik, memicu, dan memacu rasa ingin tahu, serta membikin mereka merasa lebih berdaya dari waktu ke waktu, tidak akan ada kebosanan. Mereka akan jadi manusia pembelajar.

Sementara itu, dalam proses pembelajaran, pendidikan vokasi tidak dapat lagi diandaikan seperti Sekolah Teknik (ST) atau Sekolah Teknik Me-

nengah (STM) zaman dulu. Kepatuhan dan ketaatan buta pada guru atau senior bukan penentu keberhasilan belajar, yang dahulu bahkan

dibangun dengan cara-cara aksi anarkis.

Resiliensi dalam belajar mesti dibangun dalam suasana yang membahagiakan, ialah tatkala murid-murid diposisikan sebagai manusia terhormat dan mereka difasilitasi untuk senantiasa mengalami dan menemukan kebaruan dalam proses belajar. Dengan cara ini, hemat saya, lembaga-lembaga pendidikan vokasi akan link and match dengan program Rumah Vokasi yang baru saja diluncurkan Kemendikbud.


Pendidikan dan Rumah Vokasi – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *