Pendidikan Karakter dalam Famili (1) – Aspiratif News

Views: 71
Read Time:2 Minute, 57 Second

Pendidikan Karakter dalam Famili (1) – Aspiratif News

Famili, tema kehidupan yang tidak pernah usang. Entitas sosial terkecil masyarakat yang amat dinamis. Melalui Famili, masyarakat jadi ada. Negara tidak akan pernah ada tanpa kehadiran keluarga-keluarga. Bahkan maju mundurnya sebuah peradaban, tidak lepas dari peran Famili. 


Lalu Famili seperti apa yang dapat jadi penopang peradaban? Para ahli berkata, Famili yang bahagia. Bahagia itu sungguh relatif. Abstrak. Tidak diukur oleh keberlimpahan materi. Bahagia itu muncul dari jiwa yang hanif. Jiwa yang sumeleh (baca: Jawa). Jiwa yang nrimo dan mempunyai kemembalan dalam berhadapan dengan badai kehidupan. Dalam idealitas agama disebut jiwa muthmainnah. Jiwa yang tenang dan terhubung dengan Sang Khaliq. 


Kemudian, apa yang dapat membentuk jiwa muthmainnah? Hakikatnya, jiwa itu “bergerak”, dinamis. Sebagian ulama menyebut, jiwa sama dengan ruh. Secara etimologi, ruh artinya kehidupan. Dengan jiwanya, manusia jadi energik, bergelora. Wajar, waktu seseorang lesu dibilang telah kehilangan spirit. Nah kondisi jiwa naik turun. Kadang mencapai puncak takwa. Kadang turun karena dorongan maksiat atau kesenangan material (QS: Al-Syams: 8). 

READ  Qosidah Huwan Nur Karya Al Habib ‘Ali bin Muhammad Al Habsyi


Dalam posisi naik turun, sesungguhnya ruh dalam jasad (jasmani) manusia itu gundah. Tidak nyaman. Kenapa? Karena ruh mempunyai sifat suci. Cenderung ke keabadian. Adapun, jasad cenderung ke kebendaan. Lebih menyukai kesementaraan. Condong ke unsur-unsur kesenangan (pleasure).


Sebab itu, agar manusia mempunyai jiwa yang hanif, mereka wajib memperoleh pendidikan karakter yang baik dan pas. Kalau bicara manusia, tentu bicara anak. Anak sebagai manusia kecil wajib dididik semenjak dini agar sanggup mengemban amanah khalifah (QS: Al-Baqarah: 30).


Kenapa fokus pendidikan pada anak? Karena anak ialah penerus generasi kehidupan manusia. Mereka terlahir bukan saja mewarisi secara biologis, tapi mewarisi karakter, tradisi, dan cita-cita. Tetapi, bukan artinya tidak penting pendidikan bagi orang dewasa. Bukankah prinsip dari pendidikan ialah: education for all? 


Kemudian siapa yang wajib mendidik anak kecil? Dididik dengan apa? 2 pertanyaan yang amat penting. Semua orang wajib dapat menjawab itu. Jikalau tidak, maka merenunglah dalam kesendirian. Menyingkirlah dari keramaian. Berpikirlah seperti banyak anjuran dari kitab suci. Siapa sesungguhnya kita? Kenapa kita ada? Kemana kita wajib ke?

READ  Gempa 4,9 SR Guncang Sukabumi, Sejumlah Rumah Masarakat Rusak


Menjawab pertanyaan ke-1, siapa yang wajib mendidik anak? Pastinya itu jadi tanggung jawab orang tuanya. 2 orang, yang karena mereka, anak jadi ada. Lugasnya, ayah dan bunda (bapak-ibu). Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk pendidikan anak kecil, khususnya karakter mereka. Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Baik buruknya anak akan jadi cerminan orang tuanya.


Adapun respon ke-2, dididik dengan kearifan. Kearifan akan muncul waktu ditanamkan nilai-nilai karakter (akhlak). Akhlak yang seperti apa? Akhlak yang sanggup membikin dirinya mengerti siapa hakikat dirinya. Yang sanggup menghormati orang lain. Yang sanggup mencintai untuk peradaban ilmu. Dan yang sanggup mempunyai insight soal ketuhanan dan mengerti bagaimana cara mengabdi kepada-Nya. 


Nah, pada level inilah orang tua wajib mendidik soal nilai-nilai agama ke anak semenjak dini sebagai pondasi kehidupan. Diawali dari rumah. Diawali dari kebiasaan seluruh anggota Famili. Bukan cuma mengandalkan pendidikan agama dari Lembaga formal. Rumah ialah “sekolah ke-1” bagi anak yang wajib dikelola oleh orang tuanya dengan baik.

READ  Problem Transparansi, KPK Jadikan Inasgoc sebagai Contoh


Muhammad Qutub berkata dalam kitabnya, Minhajul Al-Tarbiyyah Al-Islamiyyah: Rumah, jalan, sekolah, dan masyarakat ialah pilar pendidikan dasar. Rumah ialah influencer ke-1, dan Ialah yang paling kuat dari pilar-pilar tersebut”.


Lalu bagaimana konsep pendidikan karakter dan pembiasaan perilaku keagamaan di rumah? Apalagi di masa-masa pandemi Covid-19 yang mengutamakan semua anggota Famili sering tinggal di rumah? 


 

Thobib Al-Asyhar, Guru besar Psikologi Islam pada Kajian Timur Tengah dan Islam, SKSG Universitas Indonesia

Pendidikan Karakter dalam Famili (1) – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *