Pendidikan Karakter dalam Famili (4) – Aspiratif News

Views: 1839
Read Time:4 Minute, 43 Second

Pendidikan Karakter dalam Famili (4) – Aspiratif News

Pada bagian akhir tulisan ini, selain keteladanan orang tua, fokus pendidikan agama untuk pembentukan karakter anak ialah konten yang diajarkan. Pada masa pandemi Covid-19 ini, banyak orang tua bingung, materi agama apa yang pas selain yang diberikan dari sekolah? 


Fakta berbicara, belajar dari rumah (study from home) ternyata guru agama lebih sering memberikan PR untuk anak kecil murid dari pada mengajar langsung. Mungkin dapat dipahami karena keterbatasan media pembelajaran. Bahkan untuk ikut pembelajaran, anak kecil murid cuma diminta menonton TVRI.


Kondisi ini yang menjadikan para orang tua merasa cemas. Pendidikan agama buat anak kecil dikhawatirkan tidak memenuhi target minimal. Apalagi model pembelajaran dari sekolah sering mengalami hambatan, seperti soal metode dan jaringan internet. Kecuali itu, juga menyangkut aspek metode dan muatan pembelajaran dinilai kurang kaya akan muatan kurikulum dan komprehensif sejauh mereka lebih banyak di rumah.

 


Kekuatiran juga dialami oleh orang tua yang memilih jalur Home Schooling (HS) bagi anak-anaknya. Mereka sering merasa kekurangan atau bahkan tidak mengerti apa yang wajib diajarkan untuk anak terkait pendidikan agama. Hal ini wajar karena sungguh HS memberi Kesempatan untuk orang tua untuk memilih muatan kurikulum dan metode pembelajaran yang cocok untuk anak-anaknya. Sementara belum ada panduan komprehensif Soal hal pendidikan agama dalam Famili.


Oleh karena itu, orang tua semestinya sudah mempunyai gambaran Soal hal pendidikan agama tingkat dasar untuk anak-anaknya. Muatan pendidikan agama tingkat dasar ini penting untuk diketahui dan diajarkan untuk anak agar kelak mereka mempunyai pemahaman keagamaan secara komprehensif. Artinya, selama anak kecil telah memperoleh pendidikan dasar agama yang cukup, orang tua dapat menikmati di hari tua dengan nyaman.

READ  Tidak Terima Biden Unggul, Juru Bicara Tim Kampanye Trump: Survei Cuma Sampah! - Aspiratif News


Pemahaman komprehensif ini wajib didasarkan pada muatan yang utuh, meliputi aspek akidah (teologi), ibadah, muamalah, dan akhlak (karakter). Pada waktu yang sama diselipkan unsur kesejarahan dan penambahan values lain, seperti hafalan surat-surat pendek, doa sehari-hari, shalawat Nabi, dan lain-lain. menurut argumentasi ini pula, penulis telah membikin silabus mandiri Pendidikan Diniyah (Keagamaan) Tingkat Dasar yang diperuntukkan bagi pendidikan anak di dalam Famili.


Silabus yang dibuat ini bersifat fleksibel yang dapat disesuaikan dengan konteks, ketersediaan Sarana dan waktu pembelajaran. Pada waktu yang sama, bagi orang tua yang belum mempunyai pengetahuan cukup Soal hal pendidikan agama dapat sekalian belajar bareng dengan anak kecil mereka. Tidak ada istilah malu terkait belajar agama. Tentu orang tua wajib terlebih dahulu menguasai materi yang akan disampaikan agar anak dapat menerima dengan baik.


Lalu apa konsep silabus pendidikan diniyah (keagamaan) tingkat dasar yang diperlukan dalam Famili? Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

Ke-1, muatan kurikulum akidah (teologi). Ini ialah dasar paling pokok bagi anak yang wajib diajarkan semenjak dini. Pemahamannya wajib lebih detail Soal hal konsep ketuhanan. Kenapa Allah ada. Kenapa wajib ada rasul dan kitab. Kenapa kita wajib beriman untuk malaikat, hari akhir dan qadla qadar. Dasar keimanan ini 1 persatu diuraikan agar terinternalisasi dalam kesadaran anak.

READ  Pesantren sebagai Benteng dan Pengarus Utama Islam Nusantara - Aspiratif News


Jikalau melihat silabus yang ada, mungkin ini sebagai hal biasa. Akan tetapi target kompetensi saban poinnya bukan cuma pemahaman, tetapi internalisasi nilai. Di sinilah perlunya orang tua dapat memahami konsep teologi terlebih dahulu. Misalnya, waktu menyampaikan materi iman untuk Allah munculkan pertanyaan “kenapa Allah ada?” Anak diberikan perspektif yang kritis, sehingga mereka akan beriman berdasar pengetahuan yang kuat semenjak dini. Jadi bukan sekedar kalimat bahwa Allah itu ada.

 

Ke-2, muatan kurikulum ibadah. setelah pemahaman akidah cukup, muatan ibadah wajib diajarkan. Konsep ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah sunnah lain Penting ditanamkan. Kecuali aspek akidah sebagai dasar meyakini atas Islam, juga pengetahuan Soal hal ibadah dan praktiknya wajib ditekankan. Sekali lagi, aspek ibadah ini Penting contoh konkrit dari orang tua agar dapat ditiru oleh anak-anaknya.


Nilai-nilai kebaikan atau hikmah di balik praktik ibadah juga wajib dijelaskan secara berangsur. Kenapa? Agar anak sanggup menangkap maksud Syariah atas praktik ibadah. Sehingga, kelak mereka akan mengerti substansi ibadah dan tidak jadi golongan orang yang taklid buta. Dengan ibadah yang diiringi pemahaman substansi akan menambah keyakinannya dalam beragama.

Ketiga, muatan kurikulum muamalah. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti berhubungan dengan manusia lain dan lingkungan. Karena itu, anak wajib dibekali pengetahuan dan pemahaman Soal hal bagaimana berhubungan dengan orang lain, khususnya terkait dengan jual beli, pinjam meminjam, sewa menyewa, ghashab, pernikahan, dan lain-lain.


Apalagi di era teknologi seperti ini, pengetahuan Soal hal muamalah jadi amat penting. Transaksi antar manusia makin intens dan bermacam kategori media. Paling tidak, dasar-dasar pengetahuan untuk bermuamalah sudah diajarkan. Sehingga tidak ada kegagapan ilmu dengan realitas.

READ  Media Berperan Penting Lawan Narasi Radikalisme

Ke-4, muatan kurikulum Soal hal akhlak. Akhlak ialah pondasi penting sebagai makhluk rohani. Dengan bekal akhlak, anak kecil akan mempunyai kecerdasan sosial dan spiritual yang baik. Akhlak mulia akan jadi mahkota bagi pemiliknya, karena akan membentuk sikap dan perilaku yang baik. Maksud penting dari orang beragama ialah jadi pribadi yang berakhlak (berkarakter). Tanpa akhlak, agama akan kehilangan substansinya.

 


Titik tekan dari pendidikan agama selain pengabdian untuk Tuhan, juga mempunyai hubungan yang baik antara sesama. Pendidikan akhlak (tahdzibul akhlaq) jadi fokus penting dari para figur publik seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Ibnu Miskawaih, dan masih banyak lagi.


Sekali lagi, pendidikan agama dengan segala muatannya akan tidak efektif tanpa teladan. Bocah kecil yang tinggal bareng orang tua, akan amat mendambakan sosok-sosok model the best agar mereka sanggup membentuk watak yang mulia.


Diinginkan, dengan pendidikan agama akan membentuk orang yang lebih sempurna, selain mempunyai keyakinan yang kuat, patuh dalam beribadah, berpengetahuan dalam muamalah, serta berakhlak mulia, baik pada diri sendiri, orang lain, lingkungan, maupun untuk Sang Ilahi. Wallahu a’lam bisshawab. (Selesai)


 

Thobib Al-Asyhar, Guru besar Psikologi Islam pada Kajian Timteng dan Islam, SKSG Universitas Indonesia

Pendidikan Karakter dalam Famili (4) – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *