Pengaruh Perbedaan Qira’at dalam Al-Qur’an ke Makna (IV) – Aspiratif News

Pengaruh Perbedaan Qira’at dalam Al-Qur’an terhadap Makna (IV)
Views: 2538
Read Time:11 Minute, 11 Second

Pengaruh Perbedaan Qira’at dalam Al-Qur’an ke Makna (IV) – Aspiratif News

Perbedaan qira’at Al-Qur’an Ialah bagian sumber penafsiran Al-Qur’an yang otentik. Karena tiap-tiap perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an memberikan makna baru, layaknya ayat “baru” yang mandiri dari sisi petunjuk maknanya. Maka tidak ayal, banyak para ulama tafsir atau mufassir menjadikan perbedaan bacaan sebagai objek penggalian makna dalam penafsiran Al-Qur’an, bagian contohnya ialah surat al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila engkau hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kapalamu dan (basuhlah) ke-2 kakimu sampai ke ke-2 mata kaki”. 


Ayat di atas menerangkan bahwa seseorang yang akan melaksanakan shalat hendaknya ia berwudhu terlebih dahulu (bagi yang hadats). Teknis pelaksanaannya ialah membasuh muka, membasuh ke-2 tangan sampai ke-2 siku, mengusap kepala dan membasuh/mengusap kaki sampai ke-2 mata kaki.


Pada lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) para ulama qira’at asyrah mutawatirah tidak sama pandangan, Imam Nafi’, Ibnu Amir, Hafs, Ali al-Kisa’i dan Ya’qub membaca fathah pada huruf lam, sedangkan Imam Ibnu Katsir, Abu Amr, Syu’bah, Hamzah, Abu Ja’far dan Khalaf membaca kasrah pada huruf lam (وَأَرْجُلِكُمْ). (Al-Qadhi, Al-Budur al-Budur al-Zahirah fi al-Qira’at al-Asyrah al-Mutawatirah, Bairut: Dar al-Kitab al-Arabi, tth. h, 89).


Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawi, Imam Besar al-Azhar al-Syarif, dalam karya monumentalnya “Tafsir al-Wasith li Al-Qur’an al-Karim” menerangkan bahwa apabila huruf lam pada lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) dibaca fathah, maka ia di athaf-kan pada lafadz (فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ) atau menyimpan kata (وَاغْسِلُوا) sehingga jikalau ditampakkan jadi susunan kalimat sebagaimana berikut: وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَاغْسِلُوا أَرْجُلَكُمْ . 


Adapun apabila huruf lam dibaca kasrah , maka ia di athaf-kan pada lafadz (بِرُءُوسِكُمْ).


(Muhammad Sayyid Thanthawi, Tafsir al-Wasith li Al-Qur’an al-Karim, Kairo: Dar Nahdhah, 1997, juz IV, h, 64 ).


Berangkat dari perbedaan bacaan tersebut, para ulama tidak sama pandangan soal hukum mencuci kaki, apakah wajib dibasuh oleh air mengalir atau cukup sekedar diusap saja?.


Imam al-Qurthubi menerangkan bahwa dengan perbedaan bacaan tersebut, para sahabat dan tabi’in tidak sama pula dalam memahami kandungan maknanya. menurutnya, kebanyakan ulama memilih membaca fathah pada huruf lam di lafadz (أَرْجُلَكُمْ). Dengan seperti ini, bacaan ini mempunyai makna bahwa membasuh kaki ialah kewajiban yang mesti dikerjakan oleh seorang mutawadhi’ (orang yang berwudhu’), tidak cukup cuma sekedar mengusap saja. 


Untuk memperkuat pandangan ini, mereka berargumen dengan ucapan Nabi waktu melihat sebuah kaum yang tidak menyempurnakan basuhan kakinya dan memberi advis mereka dengan suara yang keras (وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ); 

READ  Innalillahi, Mustasyar NU Rembang KH Haizul Ma'ali Wafat - Aspiratif News


“Sunggung celaka tumit-tumit (yang tidak terbasuh air) dari api neraka. Sempurnakanlah wudhu’ Anda seluruh”. 


Sesuai dengan pandangan kebanyakan ulama, Ibnu al-Arabi Menyatakan bahwa membasuh kaki waktu melaksanakan wudhu’ ialah wajib. menurutnya, tidak ada yang Tidak mau pandangan ini kecuali Imam al-Thabari dan golongan syiah Imamiyah. (Al-Qurthubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mashriyah, juz VI, h. 91).


Senada dengan Al-Qurthubi, Imam Ibnu Asyur Menegaskan bahwa para fuqaha sesudah masa tabi’in setuju atas wajibnya membasuh ke-2 kaki dalam Pelaksanaan wudhu’, tidak ada yang berseberangan dengan pandangan di atas kecuali golongan Syiah Imamiyah. Mereka menerangkan bahwa tidak ada Kewajiban membasuh ke-2 kaki kecuali cuma mengusapnya saja. Sementara Ibnu Jarir al-Thabari, mempunyai 2 pandangan yaitu boleh memilih membasuh atau mengusap. Al-Thabari memposisikan perbedaan bacaan ini sebagai 2 riwayat dalam beberapa hadis jikalau hadis-hadis tersebut tidak memungkinkan diunggulkan salah satunya. Pandangan ini secara teknis boleh dikerjakan bagi orang yang berpendapat bahwa kebolehan memilih bagian pandangan dalam beramal jikalau tidak diketahui hadis yang diunggulkan.


Sementara Ada sebagian orang mentakwil kata (المسح) pada bacaan (أَرْجُلَكُمْ) -kasrah lam- dengan arti mengusap, Sebab menurut mereka orang Arab mengartikan kata (الغسل الخفيف) basuhan yang pelan dengan usapan (المسح). Menurut Ibnu Asyur, dalam problem ini pentakwilan yang seperti ini tidak dapat dibenarkan, sebab Al-Qur’an telah membedakan antara ungkapan membasuh (الغسل) dan mengusap (المسح). (Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, Tunisia: Dar al-Tunisiyah li al-Nasyr, 1984, juz IV, h, 131).


Apabila pada lafadz (أَرْجُلَكُمْ) lam-nya dibaca kasrah, yang mempunyai arti mengusap kaki. Pandangan ini-sebagaiamana dijelaskan di atas- Ialah pandangan Ibnu Jarir al-Thabari dan golongan Syiah Imamiyah. Golongan syiah berargumen bahwa bahwa lafadz (أَرْجُلَكُمْ) di-athaf-kan pada lafadz (بِرُءُوسِكُمْ). (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999, juz III, h. 52.)


Adapun al-Thabari berargumen dengan beberapa hadis Nabi, di antaranya ialah:

حدثنا أبو كريب قال، حدثنا محمد بن قيس الخراساني، عن ابن جريج، عن عمرو بن دينار، عن عكرمة، عن ابن عباس قال: الوضوء غَسْلتان ومَسْحتان


Artinya: Abu Kuraib menceritakan untuk kami, dari Muhammad bin Qays al-Kharrasani dari Ibnu Juraij dari Amr bin Dinar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, berkata: “Wudhu’ itu 2 kali basuhan dan 2 kali usapan. (basuh muka dan ke-2 tangan, dan mengusap kepala dan ke-2 kaki).

حدثني يعقوب قال، حدثنا ابن علية قال، حدثنا عبيد الله العتكي، عن عكرمة قال: ليس على الرجلين غسل، إنما نزل فيهما المسح.

حدثنا ابن حميد قال، حدثنا هارون، عن عنبسة، عن جابر، عن أبي جعفر، قال: امسح على رأسك وقدميك.


Artinya: Ya’qub menceritakan kepadaku dari Ibnu Aliyam dari Ubaidillah al-Atki dari Ikrimah, berkata: “Tidak ada Kewajiban membasuh ke-2 kaki, sesungguhnya Al-Qur’an turun untuk menerangkan Soal hal mengusap ke-2 kaki”.

READ  Secara Psikologis Hal-hal Ini Penting Dipersiapkan Individu Hadapi Normal Baru - Aspiratif News

حدثنا علي بن سهل قال، حدثنا مؤمل قال، حدثنا حماد قال، حدثنا عاصم الأحول، عن أنس قال: نزل القرآن بالمسح، والسنة الغسلُ.


Artinya: Ali bin Sahl bercerita dari Mu’mil dari Hammad, dari Ashim al-Ahwal dari Anas, berkata: “Al-Qur’an turun menerangkan Soal hal mengusap ke-2 kaki, sementara membasuh ialah sunnah”. (Al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an, Mesir: Muassasah al-Risalah, 2000, juz x, h. 58).


Ibnu Katsir menyanggah pandangan di atas, sebab hadis-hadis yang dipertunjukkan oleh al-Thabari ialah hadis-hadis yang amat asing. Menuutnya, kata (المسح) pada hadis-hadis di atas tidak artinya mengusap tapi mempunyai arti membasuh dengan ringan (الغسل الخفيف). Untuk memperkuat sanggahannya, beliau berargumentasi dengan ucapan Sayyidina Ali.

 أَخْبَرْنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مَحْمَوَيْهِ الْعَسْكَرِيُّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقَلَانِسِيُّ، حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَة، سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَة يُحَدِّثُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، أَنَّهُ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ قَعَدَ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ فِي رَحَبَة الْكُوفَةِ حَتَّى حَضَرَتْ صَلَاةُ الْعَصْرِ، ثُمَّ أُتِيَ بِكُوزٍ مِنْ مَاءٍ، فَأَخَذَ مِنْهُ حَفْنَةً وَاحِدَةً، فَمَسَحَ بِهَا وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَرَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ، ثُمَّ قَامَ فَشَرِبَ فَضْلَهُ وَهُوَ قَائِمٌ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قَائِمًا، وإن رسول الله صلى الله عليه وسلم صَنَعَ مَا صنعتُ. وَقَالَ: “هَذَا وُضُوءُ مَنْ لَمْ يُحْدِثْ “.


Artinya: Abu Ali al-Rudzabari menceritakan untuk kami, dari Abu Bakar bin Ahmad bin Mahmawaih al-Askari dari Ja’far bin Muhammad al-Qalanisi, dari Adam, dari Syu’bah dari Abdul Malik bin Maisarah, berkata: Saya menguping al-Nazzal bin Sabrah menceritakan dari Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau shalat dhuhur lalu duduk untuk memenuhi kebutuhan manusia di halaman Kufah sampai Datang waktu shalat Ashar. Kemudian beliau dibawakan sebuah tempayan yang berisi air, lalu beliau mengambil segenggam air dan mengusap muka, ke-2 tangannya, kepalanya dan ke-2 kakinya. Kemudian beliau berdiri dan meminum sisa airnya. Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya manusia tidak suka minum berdiri sedangkan Nabi Muhammad melakukan apa yang saya lakukan”. Kemudian beliau berkata: “Ini ialah wudhu’nya orang yang tidak hadats”. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999, juz III, h. 53.).


Kecuali itu, Ada riwayat yang menerangkan bahwa lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) di-athaf-kan pada lafadz (بِرُءُوسِكُمْ) cuma pada sisi dhahir lafadznya saja, bukan pada maknanya. Adapun yang jadi pertimbangan Utama dalam sebuah ungkapan ialah maknanya bukan dhahir lafadznya. Sehingga dalam problem ini, walaupun huruf lam pada lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) dibaca kasrah, ia tetap mempunyai arti membasuh bukan mengusap. (Al-Qurthubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mashriyah, juz VI, h. 91).

READ  Persamaan serta Perbedaan Shalat Idul Fitri dan Idul Kurban


Sama pandangan dengan al-Qurthubi, Imam Nawawi menguraikan problem ini dari kaca mata gramatikal bahasa Arab. Beliau menerangkan bahwa dapat saja lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) di-athaf-kan pada lafadz (بِرُءُوسِكُمْ) sebab ia hakikatnya berposisi nashab (fathah). Adapun meng-athaf-kan pada isim dhahir atau untuk isim yang berposisi di tempat nashab itu diperbolehkan dalam bahasa Arab. Teknis semacam ini amat masyhur dikalangan para ulama Nahwu. Oleh karena itu, Imam Nawawi ingin Menegaskan bahwa problem ini pada hakikatnya Ada pada pemaknaannya, yaitu membasuh ke-2 kaki waktu Pelaksanaan wudhu’ . (Imam Nawawi, Marah Labid li Kasyfi Makna Qur’an Majid, Surabaya: Al-Hidayah tth, juz I, h, 194).


Adapun meng-athaf-kan lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) untuk lafadz (بِرُءُوسِكُمْ) karena faktor kedekatan (للمجاورة), sebagaimana banyak dikerjakan oleh orang Arab. Analoginya banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, salah satunya ialah :

 يُرْسَلُ عَلَيْكُما شُواظٌ مِنْ نارٍ وَنُحاسٍ” «2»] الرحمن: 35]


pada lafadz (وَنُحاس) dibaca kasrah, sebab berdekatan dengan lafadz (نارٍ) walaupun hakikatnya ia dibaca dhammah karena athaf pada lafadz (شُواظٌ). 

 بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ. فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ


Seperti ini pula pada lafadz (مَحْفُوظٍ) ia dibaca kasrah karena faktor kedekatan dengan lafadz (لَوْحٍ) walaupun ia berstatus sebagai sifat dari lafadz (قُرْآن). (Al-Qurthubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mashriyah, juz VI, h. 91).


Senada dengan al-Qurthubi, Imam al-Baghawi menerangkan bahwa membaca huruf lam dengan kasrah  lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ) dikarenakan kedekatannya dengan lafadz (بِرُءُوسِكُمْ) bukan karena kesusuaian hukumnya. Lebih detail, beliau Menyatakan bahwa hukum mengusap kaki itu cuma berlaku bagi orang yang mempergunakan sepatu boot (khuf).(Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an, Beirut: Dar Tayyibah, 1997, juz III, h, 23).


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan qira’at dalam Al-Qur’an menghasilkan perbedaan istinbath hukum, seperti hukum mencuci kaki. sebagian besar ulama memahami bahwa lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ)- fathah lam- menghasilkan makna wajib membasuh kaki bagi orang yang tidak mempergunakan sepatu boot (Khuf), sementara sebagian ulama memahami bahwa  lafadz (وَأَرْجُلَكُمْ)- kasrah lam- menghasilkan makna tidak ada ketentuan wajib untuk membasuh kaki tapi cukup mengusapnya saja bagi orang yang mempergunakan sepatu boot (khuf).  

Ustadz Moh. Fathurrozi, Pengurus Jam’iyatul Qurra’ wal Huffadz NU Surabaya; Pembina Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Darussalam Keputih

 

Pengaruh Perbedaan Qira’at dalam Al-Qur’an kepada Makna (IV) – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *