tim-sar-temukan-baju-milik-korban-sriwijaya-air-sj182-4_169.jpeg

Penjelasan BMKG soal Kondisi Cuaca Saat Sriwijaya Air Jatuh

Diposting pada

Pesawat Sriwijaya Air SJ182 dengan tujuan penerbangan Jakarta-Pontianak dipastikan jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada pukul 14.40 WIB kemarin. Bagaimana kondisi cuaca saat pesawat tersebut mengudara?

Menurut Dosen Meteorologi STMKG Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Deni Septiadi, cuaca pada saat itu terdapat awan cumulonimbus dengan radius bentangan awan sekitar 15 Km. Selain itu, suhu puncak awan menyentuh angka -70 derajat Celsius sehingga pesawat yang melewati awan itu pasti mengalami turbulensi.

“Berdasarkan data satelit pada pukul 14.40 WIB di sekitar Cengkareng, terdapat awan cumulonimbus (Cb) dengan radius bentangan awan sekitar 15 km dan suhu puncak awan mencapai -70 °C mengindikasikan labil tinggi dan pesawat pasti mengalami turbulen kuat ketika melewatinya,” ujar Deni melalui keterangan tertulis, Minggu (10/1/2021).

Deni kemudian memaparkan data observasi dari BMKG Cengkareng yang menunjukan adanya curah hujan intensintas sedang hingga lebat disertai petir. Kondisi tersebut mengganggu jarak pandang meskipun pesawat masih layak take off ataupun landing.

Baca Juga :  Praperadilan Habib Rizieq Ditolak, Polri Lanjutkan Proses Hukum

“Data observasi BMKG Cengkareng juga menunjukan curah hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dengan jarak pandang (visibility) yang hanya 2 km meskipun layak untuk take off maupun landing,” terangnya.

Deni menjelaskan arah angin di sekitar pesawat hilang dari level permukaan (1000 hpa) persisten dari Barat Laut, kemudian pada ketinggian 3000 m (700 hpa) persisten dari Barat Daya. Dengan demikian, dari sisi angin sebenarnya tidak memiliki indikasi cross wind yang berarti.

Tidak hanya itu, Deni juga menyorot kemungkinan pesawat Sriwijaya Air SJ182 mengalami stall atau penurunan daya angkat secara ekstrem dalam kurun waktu 1 menit. Deni menyebut kekurangan daya angkat hingga cuaca buruk memengaruhi performa pesawat sehingga mengalami gagal mesin.

“Beberapa hal yang memungkinkan pesawat stall secara ekstrem dalam 1 menit adalah pesawat tidak memiliki daya angkat kemungkinan akibat gagal mesin,” ucap Deni.

“Sementara cuaca buruk atau adanya sel Cb juga mempengaruhi kondisi aerodinamis akibat turbulensi sehingga mengganggu dan mempengaruhi performa pesawat dan dapat mengarah pada gagal mesin. Posisi dan kemiringan pesawat terhadap aliran angin juga dapat mengarah pada posisi stall,” tambahnya.

Baca Juga :  Al-Hashd al-Shaabi: Kirkuk Aman Usai AS Angkat Kaki dari Provinsi Itu

Bagaimana dengan kemungkinan pesawat tersambar petir di tengah cuaca buruk itu? Deni menyebut bisa saja hal tersebut terjadi, namun teknologi sekarang membuat pesawat pabrikan Boeing mampu mengalirkan arus berlebih melalui sayap dan ekor pesawat.

“Kemudian mungkinkan petir? Dengan adanya kumpulan Cb dan suhu puncak awan mencapai -70 °C, petir tentu menjadi hal yang perlu dikhawatirkan. Namun dengan teknologi sekarang ini baik pesawat pabrikan Boeing maupun Airbus body pesawat terdiri dari komposit dan memiliki static discharge yang akan mengalirkan arus berlebih petir melalui sayap dan ekor pesawat sebagaimana efek Faraday,” imbuhnya.

“Pesawat akan mengalami gangguan kelistrikan apabila arus petir dapat masuk ke dalam sistem pesawat namun secara teori masih bisa melayang meskipun mesin dalam keadaan mati,” sambung Deni. [detik.com]

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *