Penurunan Defisit Berangsur – Aspiratif News

Views: 17
Read Time:3 Minute, 15 Second

Penurunan Defisit Berangsur – Aspiratif News

BADAN Keputusan taktik Fiskal (BKF) menyebutkan bahwa penurunan defisit dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tidak dapat dikerjakan secara Mendadak.

Penurunan Penting dikerjakan secara berangsur agar tidak menimbulkan guncangan untuk perekonomian.

“Kita tidak ingin Mendadak defisit dari 6% terus langsung kembali ke 2% sehingga mengalami shrinking (penyusutan) dalam belanja negara,” kata Kepala Pusat Keputusan taktik Ekonomi Makro BKF Hidayat Amir dalam webinar di Jakarta, kemarin.

Pemerintah, kata dia, melakukan usaha pemulihan ekonomi pada 2021 sehingga besaran defisit diproyeksikan masih lebih tinggi dari batasan maksimum 3% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.

Besaran defisit APBN 2021 diproyeksi Ada pada kisaran 3,05%-4,01% untuk PDB. Pelebaran defisit akan berlangsung sampai 2022 dan akan kembali dalam batas maksimum 3% pada 2023.

Pelebaran defisit itu, lanjut dia, karena pemerintah mesti melakukan usaha luar biasa dalam menangani dampak pandemi covid-19 di bidang kesehatan, penjagaan sosial, dan sokongan ke dunia usaha, khususnya UMKM.

READ  Anak Tengah Opname dan Cerita Nyata Perjuangan Gus Ishom Untuk NU - Warta Batavia

Untuk diketahui, APBN 2020 yang telah direvisi jadi Perpres 54 Tahun 2020 Soal hal Pergantian postur APBN 2020 membikin defisit diperlebar jadi 5,07% atau mencapai Rp852 triliun.

Mencermati dampak pandemi covid-19, pemerintah kembali akan merevisi Perpres 54 Tahun 2020 itu dan menambah besaran desifit jadi 6,34% dari PDB atau mencapai Rp1.039,2 triliun dengan tambahan belanja penanganan covid-19 mencapai Rp695,20 triliun.

Sampai Mei 2020, angka defisit baru mencapai 1,1% PDB atau mencapai Rp179,6 triliun.

Peluang pemulihan

Dalam dialog tidak sama, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menerangkan perekonomian Indonesia akan mengalami pertumbuhan terburuk tahun sekarang pada  triwulan II yang diproyeksikan terkontraksi sampai 3,4%.

Akan tetapi, Andry Menyatakan perekonomian Indonesia mempunyai kemungkinan pemulihan dan pertumbuhan positif pada triwulan IV men­Datang dengan asumsi tidak ter­jadi gelombang ke-2 pada ka­sus covid-19.

“Kita melihat ada Peluang pada 2020, yaitu pertumbuhan positif ter­jadi di triwulan IV. Akan tetapi, kalau terjadi second wave dapat saja pemulihan ekonomi domestiknya tidak lebih cepat dari kuartal IV,” ujarnya.

READ  Mendikbud: Zonasi Bukan Cuma untuk PPDB Saja

Ia menceritakan kemungkinan pertumbuhan positif itu dapat dicapai melalui penerapan kenormalan baru atau new normal dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan sehingga sanggup menyokong perekonomian di beberapa bagian dan daerah.

“Menurut kami, perekonomian domestik punya Peluang untuk recovery kalau protokolnya Dikerjakan dengan ketat dan tidak ada penerapan PSBB secara masif lagi,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Andry meminta agar masarakat tetap dapat menerapkan protokol kesehatan dalam segala aktivitas sehari-hari. (Ant/E-1)

 


Penurunan Defisit Berangsur – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *