Perang Simetris Berhadiah Hagia Sophia – Aspiratif News

Perang Simetris Berhadiah Hagia Sophia
Views: 1458
Read Time:5 Minute, 13 Second

Perang Simetris Berhadiah Hagia Sophia – Aspiratif News

Hagia Sophia ramai memperoleh ekspos berita belakangan ini. Hal ini lantaran presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan, memutuskan untuk mengembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid sesudah semenjak 1935 ia oleh Kamal Ataturk difungsikan sebagai museum. Hagia Sophia yang dalam aksen Turki: Ayasophia, Latin: Sancta Sophia, atau Church of the Holy Wisdom atau Church of the Divine Wisdom pun beralih fungsi beberapa kali dalam sejarah keberadaannya. Diawali sebagai tempat ibadat kaum pagan atau penyembah berhala lalu pada 325 M  berubah jadi gereja atas perintah Kaisar Konstantin I. sesudah runtuh oleh bencana alam pada 537 M, Kaisar Bizantium Justinus I merombaknya jadi katedral atau gereja induk dan basilika tempat pemimpin gereja Ortodoks Timur berpusat. 

 

sesudah seribu tahun di bawah kekuasaan Romawi Timur atau Bizantium, pada 1453M, Muhammad al-Fatih atau Mehmet II, Sultan Ottoman berhasil menaklukkan Konstantinopel dan memperoleh Hagia Sophia sebagai hadiah terbesarnya. Sang Sultan merubah fungsinya jadi masjid dan memberikan tambahan bangunan menara, mimbar dan sentuhan artistik desain masjid lainnya. Gambar-gambar Jesus atau ikon-ikon gereja diplester dan ditambahkan kaligrafi besar melebihi besarnya pintu bertuliskan Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Talib.

 

Pada 1935 pemerintahan sekuler Kamal Ataturk mengalihfungsikannya sebagai museum dan membuka plester ikon-ikon Kristen pada dinding dan atap kubah. Sekarang, ia akan dikembalikan sebagai masjid yang akan diawali 24 Juli ini. Entah, apakah ikon atau lukisan figur Jesus, bunda Maria akan diplester ulang seperti zaman Muhammad al-Fatih  atau dibiarkan seperti waktu jadi museum yang menonjolkan keberadaan dekorasi Kristen dan Islam sebagai warisan budaya yang dilindungi Unesco? Belum tahu dan kita tunggu perkembangannya. Yang pasti dengan difungsikan sebagai masjid para turis tidak dapat sebebas sebelumnya tatkala ia ialah museum. Para turis dapat dipastikan diharuskan mentaati aturan berbusana  tatkala memasukinya atau setidaknya copot sandal.

 

READ  Seni Ukir Nahdliyin di Karduluk Sumenep yang Menembus Dunia - Aspiratif News

Pengalihfungsian gereja tatkala negara Islam berhasil menginvasi negara non-Muslim, ialah perkara ijtihadiyyah yang tidak saklek. Waktu Tentara khalifah Umar berhasil menguasai Palestina, gereja di sana tidak berubah jadi masjid. Bahkan khalifah Umar menjaga eksistensi mereka dan melarang ummat Islam untuk merusaknya. Hadirnya Tentara Muslim di bawah pimpinan Amru bin Ash bahkan disambut hangat oleh Uskup Jerusalem. Mereka merasa memperoleh penjagaan dan jaminan keamanan daripada Ada di bawah intimidasi dan represi Tentara Bizantium.  Sambutan yang hangat dari Uskup memperlihatkan bahwa gereja tidak diubah jadi masjid sebab jikalau  itu terjadi tentu uskup dan ummat Kristiani setempat tidak menyambut hangat kehadiran  Tentara Islam.



 

Juga tatkala masuk ke Mesir, khalifah Umar bahkan berwasiat agar siapa pun dicegah merusak gereja Margerges (Maria Gergorius) di Mesir Kuno (Misro al-qadimah). Itu ialah gereja yang konon tempat Bunda Maria singgah waktu  menyelamatkan diri dari kejaran kaum Yahudi pasca melahirkan Isa al-Masih yang tanpa bapak.

 

Jikalau di masa Khulafaur Rasyidin belum tampak pengubahan gereja jadi masjid waktu ekspansi Islam terjadi, tetapi tidak sedemikian halnya di masa kekuasaan dinasti-dinasti Islam. Waktu dinasti Umayyah menguasai Damaskus, khalifah al-Walid bin Abd al-Malik merubah gereja St. John the Baptis jadi masjid Umayyah. Di tempat itu konon kepala  St. John the Baptis yang terputus dikubur. St. John dikenal dalam Islam dengan nabi Yahya. Juga tatkala dinasti Umayyah menguasai Cordova Spanyol, Emir Abdurrahman pada 785M merubah gereja Visigothic Church of Saint Vincent jadi masjid agung Qordova.  Sedemikian juga masjid al-Khadra’(Hijau) di Nablus Palestina, konon di tempat itu dulu Nabi Ya’sub menangis meratapi Jusuf yang hilang yang ternyata dicebuŕkan oleh saudara-saudaranya ke sumur. Masjid itu sebelumnya ialah gereja yang dibangun oleh Tentara Salib pada 1187M.

 

READ  Partai Hidup Mati si Rubah dan Syetan Merah - Aspiratif News

Bertahannya gereja atau konversinya ke masjid dan museum waktu ekspansi Islam atau pada masa al-Futuhat alIslamiyah, di  mana Islam meluas dari yang awalnya di Makkah sampai menjangkau Eropa, amat Mengandalkan pada kondisi hubungan politik waktu itu dan tergantung bobot gereja tersebut. Perkara yang terjadi pada Umar bin Khattab yang bahkan Tidak mau shalat di gereja agar di lalu hari gereja itu tidak diubah jadi masjid oleh ummat Islam  tidaklah sama dengan Perkara yang terjadi pada dinasti Umayyah. Waktu Islam menguasai Jerusalem, ummat Kristiani bukan musuh Islam. Musuh perangnya ialah penguasa Bizantium yang juga menguasai Jerusalem.  Dengan posisi seperti itu, posisi rakyat jelata, Islam Hadir menjaga mereka yang tertindas. Sementara yang terjadi pada dinasti Umayyah dan Ottoman ialah perang simetris berhadap-hadapan 2 power besar yang berlaku hukum the winner takes all. Dengan karakter perang seperti ini, maka simbol-simbol  peradaban pihak yang kalah diambil alih oleh pemenang. Gereja induk yang Ialah simbol hegemoni Kristen diubah jadi masjid juga sebagai simbol kemenangan Islam.

 

Konsekuensi perang simetris dan teori pampasan perang  amatlah menentukan konversi rumah ibadat ke agama yang dianut oleh penguasa baru. Dalam Historic Centre of Cordova Unesco dan Encyclopedia Britannica, di  Spanyol Ada gereja yang berubah jadi masjid dan lalu balik lagi ke gereja sebagai konsekuensi kalah-menang perang. Sehingga tampak di situ mimbar dan altar: Kristen – Islam – Kristen  yang memperlihatkan transisi agama 3 kali dan Waktu ini jadi museum. Muslim yang berkuasa di Andalusia dari 711 sampai 1492M telah mendirikan banyak masjid. Bakda keberhasilan penguasa Kristen Spanyol merebut kembali wilayah mereka dan Menyuruh berangkat ummat Islam, masjid-masjid diubah jadi gereja. Seperti Masjid Agung Zaraqoza (714-1119M) yang berubah jadi Cathedral of the Savior of Zaraqoza, Masjid Mayrit yang pada 1202M berubah jadi Iglesia de San Nicolas Madrid dan Masjid Agung Nasrid Granada yang pada 1492 berubah jadi Granada Cathedral.

 

READ  Mengenal KH Maftuh Basthul Birri, Sang Hafidz yang Produktif Mecatat - Warta Batavia

Perang simetris ialah perjumpaan 2 power angkatan bersenjata di medan laga. Siapa yang menang mengambil semua yang dipunyai oleh yang kalah sebagai ganti rugi ongkos perang. Tidak cuma itu yang kalah jadi tawanan bahkan budak bagi yang menang. Pimpinan atau orang yang paling bertanggung jawab terkadang dihukum mati atau dihukum berat. Tentunya, seberapa berat akibat yang mesti ditanggung oleh yang kalah Mengandalkan kebijaksanaan  pimpinan kelompok pemenang. Termasuk tatkala Kamal Ataturk merubah fungsi masjid ke museum dan menjadikannya warisan dunia di bawah Unesco yang ramai dikunjungi wisatawan juga Ialah keputusan taktik. Nilai sejarah terukir tebal dalam bangunan itu yang mengundang jutaan pengunjung ke sana dan memberikan wawasan Soal hal kedigdayaan Islam dan Romawi Timur. Semoga Ayasophia tetap ramai dikunjungi wisatawan meski ia kembali berfungsi masjid. Erdogan pasti telah memikirkan itu dan telah merilis bahwa ia tetap warisan dunia bahwa pemanfaatan untuk shalat tidak mengurangi status tersebut.

 

 

Achmad Murtafi Haris, guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Perang Simetris Berhadiah Hagia Sophia – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *