Pesantren Tebuireng Pangkas Jam Pelajaran dan Petakan Usia Pengajar – Aspiratif News

Views: 13
Read Time:3 Minute, 8 Second

Pesantren Tebuireng Pangkas Jam Pelajaran dan Petakan Usia Pengajar – Aspiratif News

Jombang, Aspiratif News

Dalam penerapan new normal atau kenormalan baru di lingkungan sekolah atau madrasah, Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur telah memutuskan beberapa keputusan taktik. Pada intinya mempunyai ghirah untuk menjaga pesantren dan semua komponen di dalamnya dari penularan Covid-19.

 

Keputusan taktik tersebut di antaranya pengurangan jam pembelajaran. Semua siswa nantinya ikut proses pembelajaran di sekolah atau madrasah lebih cepat dari sebelumnya. Namun, ketentuan hitungan total pengurangan waktu belajar belum dapat dipastikan, pihak pesantren tetap berdiskusi untuk penyesuaian dan efektivitas proses belajar siswa di tengah pandemi Covid-19.

 

“Jam pelajaran kita kurangi,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, Jumat (19/6).

 

Argumentasi pengurangan jam pelajaran dengan mempertimbangkan stamina siswa. Ia Menekankan agar sejauh proses pembelajaran kembali dibuka, kesehatan siswa terus terjaga. Karena menurutnya kondisi tubuh amat mempengaruhi masuknya virus ke dalam tubuh. Tentu seperti ini ini juga mesti didorong dengan membiasakan pola makan yang sehat.

READ  Problem Kerusuhan di Papua, DPD: Selesaikan secara Menyeluruh dan Bijak - Warta Batavia

 

“Agar bocah kecil tidak kecapaian, staminanya masih bagus. Jangan sampai kecapaian, karena itu (kecapaian) rawan,” Jelas kyai yang kerap dipanggil Gus Kikin ini.

 

Keputusan taktik lain, Pesantren Tebuireng mengklasifikasikan usia dan domisili tenaga didik. Para ustadz dan guru yang berumur di atas 45 tahun sementara tidak diperkenankan untuk mengajar bertatap muka langsung dengan siswa. Pun begitu ustadz yang bertempat tinggal cukup jauh dari pesantren.

 

“Kita sudah petakan juga, baik dari tempat tinggal maupun usia. Jikalau di atas usia 45 kita anjurkan agar lebih banyak istirahat dulu,” ucapnya.

 

Gus Kikin mengungkapkan, yang paling mesti diperhatikan waktu ini ialah usaha pencegahan Covid-19 di lingkungan pesantren dan sekolah maupun madrasah. Segala sesuatu mesti dikerjakan semata untuk menjaga instansi pendidikan tersebut agar tidak jadi klaster baru dalam penyebaran virus Corona.

 

“Yang pasti hal-hal yang sekiranya rawan akan menularnya Covid-19 kita perhatikan,” ujarnya.

 

Diprioritaskan Cuma Kelas Akhir

Pesantren Tebuireng akan mulai menerima santrinya kembali pada Juli yang akan Hadir. Namun, sementara cuma santri kelas 3 atau akhir di jenjang MTs/SMP dan MA/SMA serta SMK. Porsi ini dalam hitungan pihak pesantren kisaran 30 % dari hitungan total santri secara keseluruhan.

READ  Akan Kubawa Bersamaku ke Surga - Warta Batavia

 

“Kita memasukkan (mengembalikan) 30 % santri dulu,” tegas Gus Kikin.

 

Para santri yang sudah kembali nantinya tidak langsung memulai proses pembelajaran, melainkan diisolasi terlebih dahulu selama 2 Minggu di tempat yang sudah disediakan, yaitu gedung Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Ma’had Aly. Seterusnya, sesudah sepuluh hari diisolasi akan dikerjakan rapid tes. 

 

“Santri semua masuk (kembali) dulu, kemudian isolasi 14 hari, nah di hari kesepuluh baru kita lakukan rapid tes,” katanya.

 

sesudah rapid test dikerjakan, baru pesantren akan mengatur jadwal dimulainya proses pembelajaran, baik itu di lingkungan pesantren maupun di sekolah atau madrasah.

 

Terapkan Jaga Jarak

Baik di pesantren ataupun di lembaga pendidikan formal, aktivitas santri mesti selalu menjaga jarak. Gus Kikin mengakui, masjid sebagai pusat pembelajaran di pesantren sudah diatur sedemikian rupa agar santri menjaga jarak.

 

“Masjid sudah kita beri tanda (semacam tanda silang) supaya santri tertib dan disiplin waktu ngaji,” katanya.

 

Begitu juga di dalam kelas. Semua siswa dipastikan akan jaga jarak antara 1 dengan yang lainnya. Hitungan total ruang kelas dan kapasitasnya cukup sanggup menerapkan physical distancing di dalam kelas. Apalagi cuma menampung siswa kelas 3. Kelas-kelas yang tidak dipakai sementara akan dipakai untuk siswa kelas akhir.

READ  Ombudsman Ingin Tim Saber Pungutan liar Pelototi PPDB 2019

 

“Yang masuk nanti kan cuma kelas 3, tentu banyak kelas yang tidak terpakai, saya kira amat dapat menerapkan jaga jarak,” ujarnya.

 

Pun seperti ini di tempat tidur. Banyak ruangan yang dapat dipakai oleh santri kelas akhir yang kembali nanti. “Kamar tidur santri juga begitu, kita tetap menerapkan jaga jarak. Karena cuma santri kelas 3 yang kembali, ya kita sementara mempergunakan yang kosong itu,” pungkasnya.

 

Pewarta: Syamsul Arifin

Editor: Ibnu Nawawi

 

Pesantren Tebuireng Pangkas Jam Pelajaran dan Petakan Usia Pengajar – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *