Peter F Gontha 2018: Indonesia akan Jadi Negara Kuat dan Makmur

Utang-Indonesia-mencapai-Rp.5000-Triliun.png
Views: 371
Read Time:12 Minute, 37 Second

Peter F Gontha 2018: Indonesia akan Jadi Negara Kuat dan Makmur

35 Views


Read Time:12 Minute, 9 Second

Analisis Peter F Gontha pada tahun 2018 pernah menjelaskan bahwa utang Joko Widodo cuma Rp. 16 T. dalam 4 tahun pemerintahannya.

Ketiaka itu, bagian tudingan haters yang tersebar di medsos…, ialah Joko Widodo membikin Indonesia ketiban utang raksasa.

Bayangkan…, utang Indonesia mencapai Rp.5000 Triliun (5000 T).

Buaanyaaak sekali, bagaimana dapat membayarnya…?

Doni…, driver Grabcar di Bekasi, termakan isu itu. Dia memaki-maki Joko Widodo melalui medsos.

Seorang advokat di Cikampek…, Elyasa SH, mengumbar kebencian kepada Joko Widodo dengan mecatat utang negara 5000 T tadi.

Tohir…, seorang pendakwah di Lampung, Sahabat Elyasa di Yogya; melaksanakan hal sama.

Indonesia…, menurut dia…, akan bangkrut di tangan Joko Widodo, sebab utang yang sundul langit.

Benarkah sedemikian? Bagaimana yang sesungguhnya?

Baca juga : Disangka Ada 4 Kubu Ingin Gulingkan Joko Widodo

Peter F Gontha…., Pebisnis berhasil pendiri RCTI, SCTV, Berita 1, Indovision, dan First Media; menyodorkan data dan fakta…, bahwa Indonesia di era Joko Widodo tidak akan bangkrut. Bahkan Indonesia akan melejit perekonomiannya, sebab Joko Widodo bukan penumpuk utang.

Malah…, dialah presiden yang menurunkan utang Indonesia.

Peter F Gontha…, di awal tulisannya, menyebutkan, di dunia ini ada 3 negara yang terancam bangkrut pada tahun 2018 lalu sebab krisis moneter, yaitu Turki, Venezuela, dan Malaysia.

Seperti dikutip Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng menerangkan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit. (kisaran Rp3.500 T)…, pada 31 Desember 2017.

Konon…, utang tersebut berhilir pada Perkara mega korupsi eks Perdana Menterinya, Najib Razak beserta istrinya.

Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk; penduduk Malaysia membikin gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan.

Ini dikerjakan melalui sebuah situs crowdfunding….; di samping itu, PM Mahathir Mohamad memotong gaji para Menteri dan member parlemen semua negara bagian sebesar 10%, untuk mengurangi utang yang mencapai 1.087 T Ringgit itu.

Betul…., utang Indonesia lebih besar dari Malaysia.

Baca juga : Relawan Joko Widodo ke Rizal Ramli – Fadli Zon Masalah Buzzer Sampah

menurut laporan Bank Indonesia, pada akhir April 2018, hitungan total utang luar negeri (ULN) Ada di angka 356,9 Miliar USD, atau kisaran Rp 5.000 T.

Pertanyaannya…:? Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia tidak?

Seperti ini pertanyaan Gontha…., lelaki yang memperoleh julukan “Rupert Murdoch” Indonesia (sebab mempunyai gurita media massa) itu, menjawab sendiri pertanyaannya.

Menurut Gontha…, hal itu terjelaskan dari rasio utang negara kepada Produk Domestik Bruto (PDB).

Utang Malaysia sungguh cuma Rp 3.500 triliun, tapi rasionya kepada PDB lebih dari 60%.

Sebaliknya Indonesia…, meski berutang sampai Rp 5.000 T, tetapi rasio utangnya kepada PDB cuma 29%.

Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit membayar angsuran utangnya.

Hal ini akan membawa efek berantai keadaan moneter Malaysia, tulis eks akuntan di City Bank New York itu.

Tahun-tahun sebelumnya, Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300 Miliar Ringgit.

Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi akibat Sangkaan Perkara korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad).

1MDB ialah semacam BUMN, yang didirikan eks PM Najib Razak untuk menghimpun biaya pendanaan proyek infrastruktur Malaysia.

Baca juga : Singapura Was-was dengan Kemajuan Indonesia di Tangan Joko Widodo !

Turki…, nyaris bangkrut sebab pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan Venezuela bangkrut sebab dulu, di jaman Hugo Chavez, berlebihan menina-bobokan rakyatnya dengan subsidi macam-macam…, yang berasal dari petro dolar.

Akibatnya…, tatkala harga minyak jatuh, negeri pun kolaps.

Keuangan negara ambles, rakyat marah sebab harga-harga melejit, dan dunia internasional tidak mempercayainya lagi.

Indonesia Hebat…..!! Tulis Gontha, ada yang salah dari kritik oposisi kepada utang pemerintah.

Kenapa….?

Sebab cerita balutan utang yang dikritik oposisi cuma Menegaskan kata “utangnya saja”, tanpa penjelasan komprehensif.

Oposisi cuma mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya disembunyikan.

Masalah utang negara, tulis Gontha…, sejauh pemerintahan Joko Widodo tercatat kisaran Rp 1.644,22 T.

READ  Perjumpaan Prabowo-Jokowi Titik Mulai Peradaban Baru Indonesia

Bila utang Era Joko Widodo tadi ditambah dengan utang Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp 2.608,8 T), sungguh jumlahnya besar sekali.

Per-Juli 2018, tercatat 4.253,02 T.

So…, utang Joko Widodo cuma Rp 1.644,22 T, tapi oposisi mengangkatnya jadi Rp.5000 T.

Padahal…, kalau cermat itung-itungannya, utang Joko Widodo jauh lebih kecil dibandingkan utang SBY.

Pertanyaan seterusnya…, tulis Gontha, manfaat apa yang dinikmati rakyat dari utang Era Joko Widodo?

Jawabnya ialah…: Pembangunan infrastruktur secara massif di semua Indonesia…!

Mulai infrastruktur air, pertanian, listrik, BBM (1 harga), dan jalan raya….

Baca juga : Masjid Hadiah untuk Presiden Joko Widodo Akan Dibangun, Mirip Grand Mosque

Seluruh wilayah terisolasi dibuka…., Joko Widodo membuka gerbang konektivitas semua Nusantara, mulai dari wilayah terpencil, termasuk tapal batas (dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di tengah Lautan Hindia dan Pasifik.

Tidak cuma itu…., ada yang luput dari perhatian publik.

Joko Widodo selain menambah utang…, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.

Lihat data…:

Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) sampai 2018 (Era Joko Widodo), yang dibayar pemerintah mencapai Rp.1.628 T.

Utang yang dibayar ini Adalah pinjaman dan surat berharga negara (SBN).

Pada tahun 2014 misalnya…, pemerintahan Joko Widodo membayar utang jatuh tempo Rp.237 T.

Tahun 2015, sebesar Rp.226,26 T.

Tahun 2016, sejumlah Rp.322,55 T.

Adapun tahun 2017, sebesar Rp 350,22 T.

Bahkan tahun 2018 di tengah isu melenceng, Joko Widodo membayar utang senilai Rp 492,29 T.

Joko Widodo berutang Rp 1.644 T, tapi sanggup membayar utang Rp 1.628 T.

Artinya…, utang Joko Widodo sebenarnya cuma Rp 16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya. Inilah yang tidak dijelaskan oleh oposisi pengkritiknya.

Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun, yang mencapai Rp.2.608.8 Triliun.

Kenapa Era SBY utangnya sedemikian besar?

Sebab untuk menyubsidi BBM Rp.300 Triliun/tahun, belum lagi rente yang dicatut broker minyak Petral di Singapura.

Ke-2 kanker tersebut sudah dipotong Joko Widodo.

Peter F Gontha…, akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu menanyakan, apakah hal itu dapat disebut gali lubang tutup lubang….?

No…., cuma pebisnis anak papi dan mami yang mengumumkan pemerintah berutang untuk gali lubang tutup lubang…, tulis eks Vice Presiden American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.

Joko Widodo, sebelum jadi presiden ialah Pebisnis handal.

Ia bukan Pebisnis rente, bukan Pebisnis Papa minta saham.

Baca juga : Tekad Joko Widodo Tarik Uang di Luar Negeri 11.000 Triliun Cepat Terwujud !

Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha…, Penting modal; dan modal didapat dari utang.

Dengan berutang, pelaku bisnis dapat berbelanja aset, atau alat penggerak usaha, dan hasilnya dapat untuk membayar utang.

Lihat driver gojek…; awalnya berutang untuk beli motor, motor itu untuk ojek online (ojol).

Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp.5 – 8 juta sebulan.

Ia dapat menghidupi anak istrinya, dan melunasi angsuran motornya.

Motor pun lalu jadi aset sang driver.

Itu pula yang dikerjakan negara.

Asal kalkulasinya cermat…, utang itu akan terbayar dan negara punya aset.

Hebatnya lagi…, tidak seperti motor yang nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol…, pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin mahal.

Negara pun berlimpah aset berharga…., jadi kaya.

Joko Widodo selama 4 tahun sanggup membayar utang Rp.1.628 Triliun.

Joko Widodo berjanji tidak akan menambah utang lagi…, khususnya utang luar negeri berbasis USD.

Joko Widodo juga berharap seluruh pembangunan infrastruktur rampung secepatnya, artinya infrastruktur tersebut cepat menghasilkan uang.

Jika dalam 4 tahun Joko Widodo dapat membayar Rp 1.628 triliun, lalu saban tahunnya pendapatan negara meningkat sebab infrastruktur yang dibangunnya sudah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia dapat membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.

Bila itu terjadi…, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), kisaran 10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang.

READ  Mewaspadai Pengasong Khilafah Perusak Moral Bangsa

Woooww….!

Bila tercapai…, Indonesia akan tumbuh jadi negara kuat dan makmur.

Semoga tulisan ini mencerahkan….

Analisis Peter F Gontha menjelaskan bahwa utang Joko Widodo cuma Rp. 16 T. dalam 4 tahun pemerintahannya.

Bagian tudingan haters yang tersebar di medsos…, ialah Joko Widodo membikin Indonesia ketiban utang raksasa.

Bayangkan…, utang Indonesia mencapai Rp.5000 Triliun (5000 T).

Buaanyaaak sekali…, bagaimana dapat membayarnya…..?

Doni…, driver Grabcar di Bekasi, termakan isu itu. Dia memaki-maki Joko Widodo melalui medsos.

Seorang advokat di Cikampek…, Elyasa SH, mengumbar kebencian kepada Joko Widodo dengan mecatat utang negara 5000 T tadi.

Tohir…, seorang pendakwah di Lampung, Sahabat Elyasa di Yogya; melaksanakan hal sama.

Indonesia…, menurut dia…, akan bangkrut di tangan Joko Widodo, sebab utang yang sundul langit.

Benarkah sedemikian? Bagaimana yang sesungguhnya?

Peter F Gontha…., Pebisnis berhasil pendiri RCTI, SCTV, Berita 1, Indovision, dan First Media; menyodorkan data dan fakta…, bahwa Indonesia di era Joko Widodo tidak akan bangkrut. Bahkan Indonesia akan melejit perekonomiannya, sebab Joko Widodo bukan penumpuk utang.

Malah…, dialah presiden yang menurunkan utang Indonesia.

Peter F Gontha…, di awal tulisannya, menyebutkan, di dunia ini ada 3 negara yang terancam bangkrut pada tahun 2018 lalu sebab krisis moneter, yaitu Turki, Venezuela, dan Malaysia.

Seperti dikutip Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng menerangkan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit. (kisaran Rp3.500 T)…, pada 31 Desember 2017.

Konon…, utang tersebut berhilir pada Perkara mega korupsi eks Perdana Menterinya, Najib Razak beserta istrinya.

Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk; penduduk Malaysia membikin gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan.

Ini dikerjakan melalui sebuah situs crowdfunding….; di samping itu, PM Mahathir Mohamad memotong gaji para Menteri dan member parlemen semua negara bagian sebesar 10%, untuk mengurangi utang yang mencapai 1.087 T Ringgit itu.

Betul…., utang Indonesia lebih besar dari Malaysia.

Baca juga : Orang yang Senantiasa Dituduh PKI Ini Ternyata Ahli Thariqah Naqshabandiyyah

menurut laporan Bank Indonesia, pada akhir April 2018, hitungan total utang luar negeri (ULN) Ada di angka 356,9 Miliar USD, atau kisaran Rp 5.000 T.

Pertanyaannya…:? Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia tidak?

Seperti ini pertanyaan Gontha…., lelaki yang memperoleh julukan “Rupert Murdoch” Indonesia (sebab mempunyai gurita media massa) itu, menjawab sendiri pertanyaannya.

Menurut Gontha…, hal itu terjelaskan dari rasio utang negara kepada Produk Domestik Bruto (PDB).

Utang Malaysia sungguh cuma Rp 3.500 triliun, tapi rasionya kepada PDB lebih dari 60%.

Sebaliknya Indonesia…, meski berutang sampai Rp 5.000 T, tetapi rasio utangnya kepada PDB cuma 29%.

Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit membayar angsuran utangnya.

Hal ini akan membawa efek berantai keadaan moneter Malaysia, tulis eks akuntan di City Bank New York itu.

Tahun-tahun sebelumnya, Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300 Miliar Ringgit.

Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi akibat Sangkaan Perkara korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad).

1MDB ialah semacam BUMN, yang didirikan eks PM Najib Razak untuk menghimpun biaya pendanaan proyek infrastruktur Malaysia.

Turki…, nyaris bangkrut sebab pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan Venezuela bangkrut sebab dulu, di jaman Hugo Chavez, berlebihan menina-bobokan rakyatnya dengan subsidi macam-macam…, yang berasal dari petro dolar.

Akibatnya…, tatkala harga minyak jatuh, negeri pun kolaps.

Keuangan negara ambles, rakyat marah sebab harga-harga melejit, dan dunia internasional tidak mempercayainya lagi.

Indonesia Hebat…..!! Tulis Gontha, ada yang salah dari kritik oposisi kepada utang pemerintah.

Kenapa….?

Sebab cerita balutan utang yang dikritik oposisi cuma Menegaskan kata “utangnya saja”, tanpa penjelasan komprehensif.

Oposisi cuma mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya disembunyikan.

Masalah utang negara, tulis Gontha…, sejauh pemerintahan Joko Widodo tercatat kisaran Rp 1.644,22 T.

Bila utang Era Joko Widodo tadi ditambah dengan utang Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp 2.608,8 T), sungguh jumlahnya besar sekali.

Per-Juli 2018, tercatat 4.253,02 T.

READ  Apa Perlunya Membicarakan Habib Rizieq di Perjumpaan Jokowi-Prabowo?

So…, utang Joko Widodo cuma Rp 1.644,22 T, tapi oposisi mengangkatnya jadi Rp.5000 T.

Padahal…, kalau cermat itung-itungannya, utang Joko Widodo jauh lebih kecil dibandingkan utang SBY.

Pertanyaan seterusnya…, tulis Gontha, manfaat apa yang dinikmati rakyat dari utang Era Joko Widodo?

Jawabnya ialah…: Pembangunan infrastruktur secara massif di semua Indonesia…!

Baca juga : HTI Siuman Lagi, Apakah Penting Gerakan Besar Tidak mau Kebangkitan HTI ?

Mulai infrastruktur air…, pertanian…, listrik…, BBM (1 harga)…, dan jalan raya.

Seluruh wilayah terisolasi dibuka…., Joko Widodo membuka gerbang konektivitas semua Nusantara, mulai dari wilayah terpencil, termasuk tapal batas (dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di tengah Lautan Hindia dan Pasifik.

Tidak cuma itu…., ada yang luput dari perhatian publik.

Joko Widodo selain menambah utang…, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.

Lihat data…:

Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) sampai 2018 (Era Joko Widodo), yang dibayar pemerintah mencapai Rp.1.628 T.

Utang yang dibayar ini Adalah pinjaman dan surat berharga negara (SBN).

Pada tahun 2014 misalnya…, pemerintahan Joko Widodo membayar utang jatuh tempo Rp.237 T.

Tahun 2015, sebesar Rp.226,26 T.

Tahun 2016, sejumlah Rp.322,55 T.

Adapun tahun 2017, sebesar Rp 350,22 T.

Bahkan tahun 2018 di tengah isu melenceng, Joko Widodo membayar utang senilai Rp 492,29 T.

Joko Widodo berutang Rp 1.644 T, tapi sanggup membayar utang Rp 1.628 T.

Artinya…, utang Joko Widodo sebenarnya cuma Rp 16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya. Inilah yang tidak dijelaskan oleh oposisi pengkritiknya.

Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun, yang mencapai Rp.2.608.8 Triliun.

Kenapa Era SBY utangnya sedemikian besar?

Sebab untuk menyubsidi BBM Rp.300 Triliun/tahun, belum lagi rente yang dicatut broker minyak Petral di Singapura.

Ke-2 kanker tersebut sudah dipotong Joko Widodo.

Peter F Gontha…, akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu menanyakan, apakah hal itu dapat disebut gali lubang tutup lubang….?

No…., cuma pebisnis anak papi dan mami yang mengumumkan pemerintah berutang untuk gali lubang tutup lubang…, tulis eks Vice Presiden American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.

Joko Widodo, sebelum jadi presiden ialah Pebisnis handal.

Ia bukan Pebisnis rente, bukan Pebisnis Papa minta saham.

Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha…, Penting modal; dan modal didapat dari utang.

Dengan berutang, pelaku bisnis dapat berbelanja aset, atau alat penggerak usaha, dan hasilnya dapat untuk membayar utang.

Baca juga : Ada 8 Partai Komunis Malah Berdiri di Negara Islam, Aneh Bukan?

Lihat driver gojek…; awalnya berutang untuk beli motor, motor itu untuk ojek online (ojol).

Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp.5 – 8 juta sebulan.

Ia dapat menghidupi anak istrinya, dan melunasi angsuran motornya.

Motor pun lalu jadi aset sang driver.

Itu pula yang dikerjakan negara.

Asal kalkulasinya cermat…, utang itu akan terbayar dan negara punya aset.

Hebatnya lagi…, tidak seperti motor yang nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol…, pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin mahal.

Negara pun berlimpah aset berharga…., jadi kaya.

Joko Widodo selama 4 tahun sanggup membayar utang Rp.1.628 Triliun.

Joko Widodo berjanji tidak akan menambah utang lagi…, khususnya utang luar negeri berbasis USD.

Joko Widodo juga berharap seluruh pembangunan infrastruktur rampung secepatnya, artinya infrastruktur tersebut cepat menghasilkan uang.

Jika dalam 4 tahun Joko Widodo dapat membayar Rp 1.628 triliun, lalu saban tahunnya pendapatan negara meningkat sebab infrastruktur yang dibangunnya sudah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia dapat membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.

Bila itu terjadi…, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), kisaran 10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang.

Woooww….!

Bila tercapai…, Indonesia akan tumbuh jadi negara kuat dan makmur.

Semoga tulisan ini mencerahkan….

Rahayu

Peter F Gontha 2018: Indonesia akan Menjadi Negara Kuat dan Makmur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *