FB_IMG_1616819528501-696x464.jpg

PKS : Partai Terbuka dan Tertutup

Diposting pada

Pada puncak Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendeklarasikan partai terbuka. Mungkin selama ini PKS tertutup atau tertutup sehingga merugikan positioning mereka dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Sekretaris Jenderal PKS Aboe Bakar Alhabsyi, seperti diberitakan berbagai media, mengatakan: “PKS mengajak seluruh warga negara Indonesia dari berbagai daerah, suku, agama, profesi, lansia dan pemuda untuk bergabung dan bekerjasama dengan PKS dalam pembangunan bangsa dan Realisasi Cita-cita. Dan Cita-cita Tujuan Nasional Indonesia Sebagai Anggota, Pengurus dan Pejabat Publik “, Kamis (18/3/2021).

Tiga belas tahun lalu di Bali, kubu Anis Matta, Fahri Hamzah, Mahfuz Siddiq dan kader muda PKS Mukernas lainnya berbicara tentang partai terbuka. Pro dan kontra dari pidato ini cukup mengejutkan untuk memecah partai menjadi dua faksi (reformis dan konservatif), meskipun hal ini tidak diakui oleh pejabat partai.

Puncak kubu partai terjadi setelah Anis Matta dkk mendeklarasikan Partai Gelora Indonesia (28/10/2019). Mereka meninggalkan PKS yang dianggap sesuai dengan kebutuhan zaman. Partai Gelora diciptakan untuk menyambut saudara-saudara yang berpikir progresif dan cepat beradaptasi dengan perubahan jaman, berpegang teguh pada prinsip dakwah (prinsip dakwah).

Baca Juga :  Pengantin ISIS Ke-1 dari Australia Dipenjarakan Turki

Secara tidak langsung, pencanangan sebagai partai terbuka, elit PKS membenarkan pidato terbuka yang dilontarkan oleh Anis Matta dan kawan-kawan yang ditolak oleh kubu konservatif dengan alasan PKS adalah partai Islam yang khas, mengadopsi pemikiran umat Islam. Persaudaraan.

Kubu reformis terinspirasi oleh Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki (AKP). Di bawah kepemimpinan Erdogan, Ikhwanul Muslimin di Turki memperoleh dukungan untuk pemilu dan menjadikan Turki negara yang dihormati di wilayah tersebut.

Sedangkan kubu konservatif ditujukan kepada Ikhwanul Muslimin di Mesir. Hal ini terlihat dari sidik jari pejabat PKS yang berfoto dengan Yusuf Qardlawi, tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir yang mendukung milisi di Suriah untuk menggulingkan Presiden Basyar Assad.

Fraksi konservatif PKS menolak menjadi partai terbuka karena dikhawatirkan melanggar ajaran Islam. Ada yang berargumen, meski ingin terbuka, PKS terbuka untuk daerah yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Yang dimaksud dengan hasil Rakernas PKS minggu lalu harus ada syarat dan ketentuannya. Syarat dan ketentuan pertama dan terpenting adalah calon anggota, pengurus, dan pejabat publik harus melalui proses kaderisasi, karena PKS adalah partai kader.

Baca Juga :  Ramai soal Calon Kapolri, Mahfud Ungkap Cara Khas Jokowi Pilih Pejabat

Kaderisasi PKS secara bertahap dan berkesinambungan dalam bentuk halaqah / liqa dan daurah-daurah. Hingga saat ini materi kaderisasi PKS telah dibuat dari bahan tarbiyah yang mengacu pada pemikiran Ikhwanul Muslimin.

Terbuka, artinya PKS, terbuka dalam hal menerima calon anggota, pengurus, dan pejabat pemerintah. Namun PKS tertutup dalam sistem kaderisasi dan organisasi. Model buka-tutup yang diterapkan PKS, implementasi doktrin dakwah Ikhwanul Muslimin yang berbunyi, ‘alaniyatu dakwah wa sirriyatu tanzhim (terbuka dalam dakwah, tetapi tertutup dalam sistem organisasi).

Ayik Heriansyah

Sumber: https://www.facebook.com/100047208737142/posts/280969003486722/

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *