Polemik-Aturan-Wajib-Jilbab-di-SMKN-2-Kota-Padang-Ini.png

Polemik Aturan Wajib Jilbab di SMKN 2 Kota Padang, Ini Kronologinya

Diposting pada

sumber: abadkini.com

Jakarta, Warta Batavia—Baru-baru ini, polemik aturan wajib berjilbab bagi siswi SMKN 2 Kota Padang menjadi pembicaraan panas di tengah publik.

Kasus ini mulai ramai dibicarakan setelah sebuah sebuah video adu argumen menjadi viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang orangtua siswa dan Wakil Kepala SMKN 2 Padang beradu argumen soal kewajiban siswi berjilbab, termasuk bagi yang non-Muslim.

EH, orangtua siswi, menjelaskan bahwa anaknya, JCH, dipanggil sekolah karena tidak mengenakan jilbab saat bersekolah. Padahal, anaknya non-Muslim dan tak biasa memakai jilbab.

“Ini agama saya. Kalau memakai jilbab, seakan-akan membohongi identitas agama saya, Pak,” kata EH.

Namun, pihak sekolah menyebut penggunaan jilbab merupakan aturan. Sehingga menjadi janggal bagi guru dan pihak sekolah kalau ada anak yang tidak mematuhinya. Sebab, di awal masuk sekolah, saat diterima sekolah tersebut, orang tua dan anak sepakat mematuhi peraturan.

Respon KPAI

Akibat kejadian ini, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, menduga pihak SMKN 2 Kota Padang melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak dan UU HAM terkait aturan mewajibkan siswi non-Muslim mengenakan jilbab.

Baca Juga :  Perpres 7/2021, Sekolah-Kampus hingga Influencer Dilibatkan Cegah Ekstremisme

“Pihak sekolah telah membuat aturan sekolah yang bersifat diskriminatif terhadap SARA, sehingga mengakibatkan adanya peserta didik yang berpotensi mengalami intimidasi, karena dipaksa menggunakan jilbab, padahal dirinya beragama non-Islam,” kata Retno, seperti dilansir dari Tempo (23/1).

Ia menambahkan bahwa sekolah negeri adalah sekolah pemerintah yang siswanya beragam dan majemuk. Karena itu, sekolah negeri harusnya menyemai keberagaman, menerima perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia.

Kepala Sekolah SMKN 2 Padang Meminta Maaf

Atas kejadian itu, Kepala SMKN 2 Padang Rusmadi menyampaikan permohonan maaf terhadap kesalahan dalam penerapan kebijakan seragam sekolah.

“Saya menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dari bidang kesiswaan dan bimbingan konseling (BK) dalam penerapan kebijakan berseragam di sekolah,” kata Rusmadi, Jumat malam. Baca juga: Siswi Non-Muslim di Padang Wajib Pakai Jilbab, Kadisdik: Itu Kebijakan Lama, Akan Dievaluasi Rusmadi mengatakan, persoalan tersebut akan diselesaikan secara bersama dan kekeluargaan. Untuk siswi yang sempat dipanggil karena tidak memakai jilbab di sekolah, menurut Rusmadi, sudah dapat bersekolah seperti biasa.

Baca Juga :  PPATK Duga FPI Terima Transferan dari Luar Negeri, Ini Respon FPI

Dilansir dari Kompas (23/1),  EH mengiyakan kabar bahwa anaknya dapat bersekolah seperti biasa, Ia pun bersyukur anaknya tidak lagi dipanggil pihak sekolah saat tidak memakai jilbab, karena hal itu bisa menghilangkan konsentrasi belajar.

EH juga berharap persoalan tersebut segera selesai dan tidak ada lagi pemaksaan memakai jilbab di sekolah tersebut. (ra/kompas/tempo)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *