Juli 9, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Presiden Jokowi Seperti Kerja Sendiri – Aspiratif News

13 Views
Read Time:3 Minute, 44 Second

Presiden Jokowi Seperti Kerja Sendiri – Aspiratif News

ANGGOTA Komisi XI DPR RI Heri Gunawan merasa kasihan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terkesan kerja sendirian berhadapan dengan situasi krisis akibat pandemi virus Corona (Covid-19). Khususnya ke tim ekonomi pemerintah akibat rendahnya realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sudah dianggarkan ratusan triliun.

“Presiden, kok kayak kerja sendiri. Mana program PEN? Penyerapan anggaran kesehatan masih 1,8 %, likuiditas perbankan, UMKM? Menurut Gubernur Ban Indonesia, warung di BI belum laku. Lah, kok begitu. Seakan mempertegas kurangnya koordinasi di dalam Komite Siatem Stabilitas Keuangan (KSSK).” ucap Hergun, waktu diwawancara via Whatsapp, Senin (29/6).

Hergun menceritakan, berdasar penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 16 Juni lalu di media, stimulus bidang kesehatan yang dianggarkan kisaran Rp 75 triliun baru terealisasi 1,54%.

Kemudian, stimulus di bidang penjagaan sosial, realisasinya sudah 28,63%. Untuk insentif dunia usaha, realisasinya baru 6,8%, sokongan untuk UMKM realisasinya juga masih 0,06%.

Sementara itu, untuk pendanaan korporasi realisasinya juga masih 0 %. “Benarkah serapan rendah karena tidak kerja, ataukah belum ada uangnya?” tukas politikus Partai Gerindra ini.

Diketahui, Presiden Jokowi juga menginstruksikan supaya belanja-belanja di kementerian yang diadukan masih biasa-biasa saja cepat dikeluarkan dan dibelanjakan secepat-cepatnya.

Menurut Hergun, hal itu penting karena makin cepat uang beredar di tengah masyakat, akan membantu pemulihan ekonomi nasional karena sisi konsumsi juga meningkat. Apalagi anggaran penanganan dampak pandemi Covid-19 dianggarkan sebesar Rp 686,2 triliun.

Rinciannya, bidang kesehatan Rp 87,55 triliun, penjagaan sosial Rp 203,90 triliun, UMKM Rp 123,46 triliun, dan insentif usaha Rp 120,61 triliun. Sementara sektoral kementerian/lembaga dan Pemda Rp106,11 triliun serta pendanaan korporasi Rp 44,57 triliun.

Legislator asal Sukabumi ini menyebutkan, waktu ini perekonomian tengah meluncur turun. Pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun 2020 merosot jadi 2,97%. Kredit-kredit juga tengah Dilakukan restrukturisasi, seperti UMKM yang jumlahnya diperkirakan mencapai Rp 400-500 triliun. Jadi, situasi perbankan hari-hari ini sensitif baik ke likuiditas maupun kualitas kredit.

“Krisis kali ini tidak sama dengan krisis-krisis sebelumnya. Akan tetapi yang namanya perilaku pemilik uang tetap sama. Air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Nasabah pastinya akan memilih bank dengan risiko lebih kecil,” jelasnya.

menurutnya, krisis bukan tidak mungkin terulang di tahun 2020 jika tidak menjaga suasana confidence di industri keuangan, khususnya perbankan. Situasi sungguh belum krisis, tetapi krisis dapat dipicu dari sini.

Oleh karena itu, lanjut Hergun, psikologis nasabah wajib dijaga. Bank sekecil apa pun yang jatuh akan menimbulkan cedera bagi kepercayaan nasabah, kecuali ada penjaminan 100%. Jika hal itu terjadi maka akan seperti teori domino, roboh 1 mengajak roboh lainnya.

Ia menambahkan, problem flight to quality ini tengah menunggu Peluang Emas untuk bergerak. Siklus krisis Covid-19, keuangan, sosial, dan terakhir krisis politik.

“Kita semua wajib menjaga agar tidak sampai masuk ke krisis keuangan. Jika toh wajib kena, tetapi tidak menghancur-leburkan seperti tahun 1998 lalu. Sudah waktunya pula, kita semua punya sense of crisis,” tandas Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI ini. (OL-09)


Presiden Joko Widodo Seperti Kerja Sendiri – Aspiratif News

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %