Pro-kontra Sistem Khilafah oleh Sesama Pengusung Khilafah

khilafah.jpeg
Views: 1141
Read Time:3 Minute, 47 Second

Pro-kontra Sistem Khilafah oleh Sesama Pengusung Khilafah

40 Views


Read Time:3 Minute, 36 Second

Para pengusung khilafah punya mimpi besar mempersatukan Ummat Islam Semua dunia dalam 1 kepemimpinan. Anehnya, di antara sesama pengusung Khilafah sendiri juga sering terjadi ‘pro-kontra’ soal sistem Khilafah itu sendiri, kok dapat ya?

Sesama pejuang khilafah saja masih belum ada kata setuju, khilafah versi siapa yang mau ditegakkan. Dari kubu lokal, jema’ah Khilafatul Muslimin dan Negara Islam Indonesia (NII), berasal dari akar yang sama, ternyata tak sama pandangan.

jema’ah Khilafatul Muslimin yang berpusat di Lampung, meyakini khilafah mereka yang dipimpin oleh Abdul Qadir Hasan Baraja selaku khilafah yang syar’i. Mereka telah mempraktikkan hidup dalam lindungan khilafah yang wilayahnya seukuran desa.

Saudara kembarnya ialah NII, tidak pernah mengumumkan negara Islam mereka bubar semenjak diproklamirkan oleh Kartosuwiryo 7 Agustus 1949 di Malangbong Garut. Masyarakat NII merasa hidup dalam negara Islam, meski faktanya, virtual.

Dari kubu transnasional, Al-Qaeda, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan ISIS, pun masih silang pandangan soal konsep khilafah.

Al-Qaeda berpandangan, khilafah ialah suatu negara muslim yang memperoleh kedaulatan secara sempurna (tamkin taam). Negara yang bebas dari kemungkinan ancaman negara lain baik dari dalam maupun luar.

READ  Problem Saksi, TKN Tunggu Saksi Ahli pihak Prabowo-Sandi

Karena itu mereka Tidak mau khilafah ISIS. Khilafah ISIS belum berdaulat secara sempurna sebab wilayah udara mereka masih dapat dimasuki pesawat-pesawat asing.

ISIS menjawab penolakan Al-Qaeda tersebut dengan menjelaskan, yang penting secara faktual masyarakat negara khilafah dapat dilindungi.

Amir Hizbut Tahrir 1 sesudah deklarasi khilafah ISIS pada Ahad (29/6/2014), mempublikasi pernyataan Tidak mau khilafah ISIS dengan argumentasi khilafah tersebut buatan Amerika Serikat. Ternyata 4 bulan lalu Amerika Serikat beserta sekutunya membombardir khilafah ISIS.

Amir Hizbut Tahrir juga Tidak mau khilafah ISIS sebab metode pendiriannya tidak yang syar’i. Cara yang syar’i maksudnya tidak melalui thalabun nushrah (kudeta) sebagaimana yang dipercayai Hizbut Tahrir selaku metode kenabian dalam mendirikan khilafah.

Adapun ISIS berpendapat metode syar’i dalam mendirikan khilafah dengan jihad (perang).

Ikhwanul Muslimin punya pandangan lebih umum. Mereka lebih suka mempergunakan istilah ustadziyatul a’lam daripada khilafah. Maknanya nyaris sama, tetapi Ikhwanul Muslimin lebih fleksibel, mereka tidak mengharuskan 1 daulah untuk 1 secara ketat.

Perjuangan Ikhwanul Muslimin ke khilafah diawali dari membenahi pribadi, Famili, masarakat, bangsa dan negara. Baru seterusnya khilafah berdiri. Bagi mereka adanya wadah asosiasi atau paguyuban negara-negara muslim telah memenuhi syarat untuk disebut khilafah yang syar’i.

READ  Penjelasan Wapres KH Ma'ruf Amin Masalah Larangan Paham Khilafah di Indonesia

Adapun Hizbut Tahrir mendefinisikan khilafah yang mereka perjuangkan selaku sebuah negara yang dipimpin oleh orang yang sebelumnya Amir Hizbut Tahrir yang menerapkan Undang-undang Dasar yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir, diawali dengan proses pemberian kekuasaan dari penguasa de facto untuk Hizbut Tahrir.

Definisi ini tak sama dengan definisi normatif yang mereka opinikan yaitu kepemimpinan umum untuk ummat Islam semua dunia. Definisi normatif yang masih amat umum dan abstrak, sulit dibayangkan dalam benak ummat Islam sebab tidak ada faktanya.

Jangankan dengan kita yang telah cukup dengan NKRI dan meyakini NKRI sesuai syariah, sesama pejuang khilafah sendiri masih terjadi khilafiyah soal konsep khilafah. Adapun mereka tidak berkeinginan untuk menyatukan pandangan. Perbedaan persepsi dibiarkan begitu saja. Tiap-tiap kubu mempunyai khilafah-nya sendiri-sendiri.

Masing-masing kubu percaya khilafah versi kubu mereka yang syar’i dan ‘ala minhajin nubuwwah. Mereka masing-masing seraya saling bully 1 sama lain. Tidak jarang terjadi bentrok fisik dan senjata.

Dengan seperti ini, apakah mungkin kelompok-kelompok pejuang khilafah itu dapat menyatukan ummat, sedangkan menyatukan sesama mereka saja, sulitnya minta ampun?

READ  Dinilai Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

Belum lagi soal siapa yang patut jadi khalifah, Amir Al-Qaeda-kah? Khalifah Khilafatul Muslimin? Imam NII-kah? Khalifah ISIS-kah? Amir Hizbut Tahrir-kah? Atau Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin-kah?

Masalah lainnya, problem Undang-undang Dasar (dustur) yang mau diterapkan: Versi Al-Qaeda-kah? Khilafatul Muslimin-kah? NII-kah? ISIS-kah? Hizbut Tahrir-kah? Ikhwanul Muslimin-kah?

Belum lagi soal bendera khilafah, bendera versi siapa yang mau dipakai? Al-Qaeda-kah? Khilafatul Muslimin-kah? NII-kah? ISIS-kah? Hizbut Tahrir-kah? Atau Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin-kah?

Alangkah baiknya, sebelum mempromosikan khilafah untuk bangsa Indonesia, silahkan Anda semua para pejuang khilafah menggelar multaqa untuk mendefiniskan konsep khilafah, UUD-nya dan benderanya. Pilihlah 1 di antara Anda semua untuk jadi calon khalifah. .

Saya ucapkan selamat bermultaqa untuk Amir Al-Qaeda, Khalifah Khilafatul Muslimin, Imam NII, Khalifah ISIS. Amir Hizbut Tahrir dan Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin.

Mudah-mudahan pada multaqa Anda semua ini, Anda semua rukun dan akur, tidak saling serang, apalagi sampai saling mengkafirkan. Selesaikan dulu urusan sesama Anda semua!

Sumber: Ayik Heriansyah, Eks Ketua HTI Babel, pengurus LDN PWNU Jawa Barat

Pro-kontra Sistem Khilafah oleh Sesama Pengusung Khilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *