Prof. Quraish Shihab: Membikin Patung untuk Target Seni, Bukan Disembah, Boleh-Boleh Saja – Aspiratif News

Views: 1195
Read Time:2 Minute, 35 Second

Prof. Quraish Shihab: Membikin Patung untuk Target Seni, Bukan Disembah, Boleh-Boleh Saja – Aspiratif News

Quraish Shihab (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Hukum membikin patung termasuk problem yang masih diperbincangkan sampai sekarang. Masalahnya patung pada masa sekarang fungsinya sudah beda dengan masa Rasulullah dulu. Pada masa itu, patung identik dengan sesembahan. Sementara sekarang, patung tidak selalu disembah, tapi juga untuk target hiasan dan bagian dari seni. Bahkan, di beberapa sekolah dan Universitas, membikin patung jadi jurusan tersendiri.

Prof. Quraish Shihab menerangkan, “Patung pada masa lalu ada perbedaannya, atau dapat tidak sama, dengan patung masa sekarang.” Sungguh ada beberapa hadis yang melarang membikin patung dan gambar makhluk hidup, tapi hadis itu tidak dapat dipahami secara tekstual. Sebab, ada perbedaan konteks patung dan gambar masa sekarang dengan masa Rasulullah.

Untuk menjawab problem ini, Prof. Quraish Shihab waktu diwawancara Menegaskan, “Hukum itu dapat berhubungan dengan ibadah, dapat juga non-ibadah. Kalau ibadah tidak dapat diubah sama sekali, tidak dapat Dilakukan kecuali kalau ada perintah. Kalau non-ibadah, boleh Dilakukan selama tidak ada larangan.”

READ  Israel Putus Aliran Listrik ke 19 Desa Palestina - Aspiratif News

Ulama fikih membagi aturan syariat jadi 2: ibadah dan muamalah. Ibadah bersifat rigid dan tidak dapat dikontekstualisasikan kecuali ditemukan ada dalil yang membolehkan. Sementara aturan muamalah lebih fleksibel dan boleh dikontekstualisasikan selama substansinya masih dipertahankan. Misalnya, aturan shalat tidak boleh diubah, shalat shubuh tidak boleh diganti jadi 3 atau 4 rakaat, karena shalat bagian dari urusan ibadah. Tapi kalau zakat misalnya, sebagian ulama menerangkan zakat masuk dalam ranah mu’amalah, sehingga hukumnya dapat dikembangkan dan dikontekstualisasikan. Dulu tidak ada zakat profesi dan lain-lain. Tapi sekarang ulama berijtihad untuk membolehkan zakat profesi dilihat dari kemaslahatannya.

Kalau ada urusan muamalah yang dicegah pada masa Rasulullah, kita mesti melihat argumentasi dibalik pelarangan itu. Prof. Quraish menerangkan, “ Non ibadah itu juga ditinjau, mengapa dicegah? Kalau larangan itu masih ada sebabnya, maka tetap berlaku. Kalau sudah tidak ada sebabnya, maka dapat berubah hukumnya.”

Dalam problem patung misalnya, sungguh ada dalil yang melarang, tapi mesti dilihat substansi dan argumentasi pelarangannya. Apakah masih berlaku sampai sekarang atau tidak. Para ulama menerangkan argumentasi pelarangan patung atau membikin patung karena dulu patung dipakai untuk penyembahan atau sebagai sesembahan.

READ  Latancab untuk Mengukur Kesiapan Perang Satuan TNI AD - Warta Batavia

“Nah kalau sekarang, apabila itu dibuat untuk target menyembah atau disembah orang, maka tetap tidak boleh. Tapi kalau tujuannya untuk seni, untuk Mengingatkan kita akan jasa-jasa seseorang, maka itu tidak disembah, maka jadi boleh-boleh saja.” Tegas Prof. Quraish.

Kendati boleh, penulis buku Khilafah: Peran Manusia di Bumi ini Mengingatkan agar para seniman tetap mengindahkan nilai-nilai Islam dalam berkarya. Jangan sampai membikin patung yang dapat menimbulkan kemudaratan, seperti patung telanjang dan bentuk patung lain yang dapat menimbulkan syahwat bagi orang yang melihatnya.

Hengki Ferdiansyah, Lc. MA

Sumber: https://islami.co/prof-quraish-shihab-membuat-patung-untuk-tujuan-seni-bukan-disembah-boleh-boleh-saja/

(suaraislam)


Prof. Quraish Shihab: Membikin Patung untuk Target Seni, Bukan Disembah, Boleh-Boleh Saja – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *