pikiran-wahabi.jpg

Proxy War Dunia Maya: Bahaya Infiltrasi Dakwah Digital Wahabi

Diposting pada
Otak Wahabi (ilustrasi)

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, sifat dan karakteristik peperangan mengalami perubahan. Peperangan yang sering terjadi saat ini lebih dikenal dengan proxy warfare. Dalam proxy war, kekuatan militer tidak lagi digunakan, tetapi melalui aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik melalui politik, ekonomi, kemasyarakatan, budaya bahkan agama. Lantas, apakah Proxy War bisa dilakukan di dunia maya? Bagaimana hukumnya jika Proxy War dilakukan dengan niat defensif?

Selama satu dekade terakhir, Indonesia dihebohkan dengan isu agama yang kerap berbenturan dengan negara dan budaya. Masalah agama telah menyebabkan munculnya politik identitas tidak hanya di kalangan elit politik tetapi juga di komunitas yang terkena dampaknya. Penyebaran isu keagamaan yang diabadikan dalam konferensi-konferensi di dunia maya banyak dilakukan oleh para pelaku Wahhabi.

Maya digunakan sebagai sarana dakwah oleh kelompok Wahabi karena kurang diterima oleh masyarakat sekitar yang sarat tradisi. Wahabi yang mengikuti ajaran Muhammad bin Abdul Wahab membawa pemahaman tentang pemurnian atau pemurnian Islam. Wahabi menggunakan ideologi takfiri sebagai konsekuensi logis dari kembali ke Alquran dan Al Sunnah. Wahabi melayani komunitas perkotaan yang sibuk dan tidak memiliki dasar ilmiah agama yang kuat. Masyarakat urban lebih memilih mendalami agama melalui media sosial sebagai alternatif.

Baca Juga :  Mahfud MD: Indonesia Harus Bersyukur Memiliki Ormas Seperti NU

Sesaji pengertian hitam putih yang hanya berbicara halal-haram, syirik-bid’ah dan fiqhiyah dianggap sangat sederhana dan mudah dipahami. Tak heran, media Indonesia yang dihias oleh Ustadz Wahabi dan Wahabi menjadi yang pertama dalam penelusuran Google. Wahabi menggunakan strategi dakwah digital untuk mendominasi media di Indonesia. Termasuk memerangi bangsa Indonesia dengan menolak sistem negara dan ingin menggantinya dengan sistem kekhalifahan.

Wahabi Ustdaz memiliki sifat menyerang dakwah, cenderung disalahkan. Membawa ideologi takfiri, tabdi’i, tasyriki, tasqiqi (dakwah negatif) dengan menyerang Ahlul Sunnah wal Jama’ah (ASWAJA). Dalam ajarannya Wahabi menolak tasawuf. Mereka menerima interpretasi, tetapi mereka sangat tekstual. Dengan disucikannya tauhid Wahhabi, penyerangan umat Islam lainnya (Nahdlatul Ulama) hingga memancing skeptisisme. Dakwah ala Wahhabi mengecilkan wajah Islam hanya dalam aspek keimanan dan syariah. Pertimbangkan Sunnah Nabi sebagai aspek penampilan. Kesepakatan ulama Ahlul Sunnah di seluruh dunia juga mengamini bahwa Wahabi itu bukan salaf dan bukan aswaja.

Menyadari hal tersebut, KH Said Aqil Siroj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dalam sambutannya di HUT ke-98 NU Hijriah meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk menutup akun dan rata-rata. . Wahabi. Hal ini tentunya dianggap sangat penting mengingat dakwah yang dilakukan oleh para Wahhabi di dunia Maya tidak benar-benar mencerminkan Islam Washatiyah dan Rahmatan lil alamin.

Baca Juga :  Crazy Rich Indonesia Melonjak 67 Persen, Mengapa Kita Harus Peduli?

Dalam sejarah, Wahabi lebih kejam dari Adolf Hitler. Hitler sebagai pemimpin Partai Nazi Jerman pada Perang Dunia II melarang pertempuran di kuburan, rumah sakit, situs bersejarah, gedung parlemen dan tempat ibadah. Sementara itu, kuburan Wahhabi malah diperangi, hingga akhirnya perwakilan PBB membentuk Komite Hejaz untuk menyelamatkan kuburan di Arab Saudi. Anehnya, para Wahabi berhasil merestorasi makam Muhammad bin Abdul Wahab. Bahaya laten lain dari propaganda Wahhabi di dunia maya adalah propaganda yang menolak Barat, meskipun didanai dan pro-Barat.

Selain pidato KH Said Aqil Siroj tentang permintaannya kepada KOMINFO untuk menutup akun dakwah Wahabi, ternyata jika kita mampu berpikir kritis ada makna tersirat yang harus dipahami dan dipahami oleh warga Nahdliyin. Jika Wahabi sengaja dibawa ke Indonesia untuk berdakwah memecah belah bangsa, sudah saatnya Nahdliyin melakukan jihad dalam bentuk proxy war di dunia maya melawan dakwah Wahhabi.

Anda tidak harus menaklukkan dan memaksakan segalanya di negara bagian ini. Sebagai pengabdian terhadap agama dan negara, menjadi pihak ketiga dalam perang melawan Islam ala Wahhabi sangatlah penting di media sosial. Kampanye Islam Ahlul Sunnah Wal Jama’ah an Nahdliyah adalah penyelarasan keyakinan dengan apa yang dakwakan Ustadz Wahabi. Di sisi lain, penjelasan mengenai penerimaan budaya dan tradisi lokal yang tidak anti agama sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah agama Islam harus diperkuat.

Baca Juga :  Pengunjuk rasa Afrika Tolak Afrika Jadi Tempat Ujicoba Vaksin Covid-19

Meski banyak media Islam moderat di Indonesia, namun sangat berbahaya jika generasi penerus bangsa keliru memilih saluran media yang mengusung pemahaman neo-Khawarij tentang Islam ala Wahhabi. Proksi perang yang diperluas bertujuan untuk memberikan pemahaman religius tentang literasi eraathiyah di televisi, YouTube, dan media lain yang akan dibawa oleh pemuda Nahdliyin, termasuk milenial NU ustadz, untuk menyeimbangkan pasar media yang dapat diakses oleh Generasi Z. rata-rata.

Santri dari United Nations Islamic College sebagai garda depan proxy war wajib memberikan kontribusi pemikiran Islam Washatiyah untuk melawan narasi Islam radikal di dunia Maya. Dakwah digital besar-besaran akan dilakukan oleh warga Nahdliyin dalam upaya melembutkan dan merebut kembali kendali dunia maya dari Wahabi.

Moh Yajid Fauzi

Sumber: https://dakwahnu.id/proxy-war-dunia-maya-bahaya-infiltrasi-dakwah-digital-wahabi/?

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *