Perempuan-1-696x466.jpg

Puasa dan Pengalaman Perempuan | The Truly Islam

Diposting pada
Puasa Wanita 1 dan Pengalaman Wanita |  Islam Sejati
Ilustrasi

Seperti kewajiban agama lainnya, puasa selama Ramadhan tidak tiba-tiba menjadi wajib sejak awal Islam. Dan meski puasa Ramadhan adalah wajib, itu tidak wajib bagi semua orang.

Bahkan di awal puasa wajib Ramadhan (tahun ke-2 H, 12 tahun setelah nubuatan), mukmin yang bisa berpuasa tetap memiliki pilihan untuk berpuasa atau tidak, namun harus memberi makan 6 ons beras setiap hari. Meski begitu, ada kepastian pilihan puasa lebih baik.

Penegasan perlunya puasa dikukuhkan hanya dengan ayat berikut (Al Baqarah 185). Menurut ulama, Al Baqarah 185 telah menghapus (nasakh) ayat sebelumnya yang memberikan pilihan puasa atau tidak.

Tapi apa yang ayat 185 hilangkan hanyalah sebuah pilihan untuk “orang percaya yang waras dan tidak dalam perjalanan”. Sedangkan masyarakat yang tidak mampu, seperti para lansia, masih memiliki pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah (beras 6 ons).

Dan wanita yang melakukan fungsi reproduksi “hamil dan melahirkan”?

Menurut Mufassir Ibn Kathir (meninggal 774 H), semakin banyak wanita hamil dan menyusui bersama orang miskin. Jadi dia diberi pilihan antara puasa atau tidak.

Baca Juga :  Berkaca saat Nataru, Erick Thohir Mulai Bahas Libur Lebaran Antisipasi Covid-19

Jika Anda memilih untuk tidak berpuasa, apakah Anda harus mengganti puasa Anda atau membayar fidyah yang cukup? Para ulama memiliki pandangan yang berbeda seperti pada umumnya tentang masalah fiqh.

Sedikitnya ada 4 pendapat ulama tentang masalah ini, yaitu wanita yang sedang “hamil dan menyusui”;

1. Tidak bisa berpuasa, tetapi wajib melakukan qada ‘(pengganti) dan membayar fidyah.
2. Saya tidak bisa berpuasa dan hanya membayar fidyah, tidak perlu qada ‘
3. Tidak mungkin berpuasa dan hanya qada ‘, tidak perlu membayar fidyah
4. Tidak harus berpuasa, tidak perlu qada ‘dan tidak perlu membayar fidyah.

Bahkan ada ulama yang membedakan antara tidak berpuasa karena memperhatikan kesehatan diri sendiri, anaknya, atau keduanya.

Manakah dari empat opini berikut yang harus dipilih?

Beri wanita ruang untuk memilih. Manakah dari 4 pendapat tersebut yang paling “maslahah” baginya. Masalah versi siapa ini? Ya, ini jelas merupakan keunggulan dibandingkan versi perempuan yang dia alami dan menjalani fungsi reproduksinya. Agama membuatnya mudah, bukan sulit. Men, jangan abaikan itu. Karena betapapun baiknya ilmu pengetahuan pria, dia tidak mengalami kehamilan dan menyusui.

Baca Juga :  Benarkah KLB Demokrat Adalah Balas Dendam Kubu Anas Urbaningrum ke SBY?

Islam (fiqih), sebagaimana digarisbawahi dalam berbagai ayat Alquran, banyak mendengarkan suara dan pengalaman perempuan, seperti yang digarisbawahi antara lain pada ayat pertama dan surat Al Mujadilah.

Allah Maha Tahu

Sumber: FB KH Imam Nakha’i

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *