Nabi-Muhammad-696x392.jpeg

Rasulullah SAW, Teladan dalam Keluarga

Diposting pada

Selain aktivitas Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya beriman, Islam dan Ihsan, beliau adalah panutan dalam keluarga. Karena dia tidak hanya mendidik dan mencintai keluarganya, tetapi dia selalu bertindak dengan benar dan penuh semangat. Jangan malas, apalagi membebani istri atau anak dengan segala pekerjaan rumah tangga.

Kehadiran Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad dalam hidupnya, merupakan anugerah. Seorang putri bernama Fatimah al-Zahra lahir dari Rahim Khadijah. Berbeda dengan sikap cuek orang saat itu. Ketika dia menerima berita kelahiran seorang gadis, wajahnya memerah dan dia melarikan diri dari kerumunan di sekitarnya, karena kabar buruk yang dia terima. Kemudian, ia mengubur anak tersebut (hidup) atau merawatnya dengan menanggung kemalangan, penghinaan dan cemoohan masyarakat sekitar. Seberapa buruk apa yang mereka tetapkan [al-Nahl (16): 58].

Di sisi lain, Rasulullah SAW bersuka cita dan bersuka cita atas kelahiran putri kesayangannya. Fatimah al-Zahra merasa puas tidak hanya dengan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Tetapi juga pendidikan ilmiah dan etika. Selain itu, Ali bin Abi Thalib, suaminya, membesarkan Fatimah dengan penuh kasih sayang bahkan dalam kehidupan rumah tangga.

Baca Juga :  Jokowi Akan Resmikan Bendungan Tukul di Pacitan Hari Ini

Begitu pula perlakuan Nabi SAW terhadap keponakan kembarnya. Dalam satu cerita, Nabi Muhammad SAW mencium Hasan dan Husain. Kemudian, Aqra ‘ibn Habis berkata kepada nabi SAW: “Saya memiliki sepuluh anak dan saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.” Kemudian wajah Nabi memerah karena marah. Dia berkata kepadanya: Jika Allah mengasihani hatimu, apa lagi yang bisa aku lakukan untukmu? Siapapun yang tidak mencintai anak-anak dan tidak menghormati orang tua kita bukanlah salah satu dari kita.

Tidak dapat dipungkiri bahwa menumbuhkan cinta dan kasih sayang kepada keluarga, terutama anak-anak tanpa memandang jenis kelamin, merupakan hal yang diajarkan Nabi kepada umatnya. Tidak melakukan kekerasan, membeda-bedakan dan memaksakan kemauannya untuk menyesuaikan diri dengan keinginan orang tuanya yang akhlaknya tidak sejalan dengan ajaran yang diajarkan Nabi SAW.

Begitu pula cinta Nabi terhadap istri-istrinya. Perlakukan mereka dengan adil, tanpa mendiskreditkan satu atau lebih. Dari Jarir ibn Abdullah berkata, Rasulullah SAW menasehati, siapa yang tidak mencintai manusia, maka Allah tidak akan mencintainya [HR Muslim].

Baca Juga :  Kapolda: Knalpot Bising dan Sunmori yang Penuh Risiko, Hilangkan!

Adapun pekerjaan rumah, Nabi (SAW) tidak pernah memberikan semua pekerjaan ini kepada istri-istrinya. Di sisi lain, Nabi SAW menyediakan pembantu rumah tangga istrinya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga mereka. Dan Nabi MELIHAT sebagai seorang suami, dia tidak malu atau malas untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Perbaiki pakaian robek, susu dan bersihkan rumah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah SAW bersabda, Orang percaya yang paling sempurna dalam iman adalah orang yang paling berbudi luhur. Dan orang yang paling baik di antara Anda adalah orang yang paling baik kepada istrinya [HR Tirmidzi].

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pemerintah akhirnya mengadopsi undang-undang dengan UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Oleh karena itu, perempuan yang sering menjadi korban kekerasan oleh suaminya mendapat perlindungan hukum dari pemerintah.

Meski kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak segera hilang dari dunia setelah adanya UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, upaya kita untuk meminimalisir perilaku tidak manusiawi harus masif dan terus eksis. Meniru perilaku Nabi adalah salah satunya. Nilai moral yang selalu diajarkan Nabi SAW harus menjadi pembawaan bagi masyarakat muslim dalam kehidupan berumah tangga.

Baca Juga :  Bandara Jenderal Soedirman Purbalingga Beroperasi 22 April 2021

Oleh karena itu akhlak mulia Nabi Muhammad SAW terhadap keluarganya, baik anak-anaknya, cucu-cucunya, dan istrinya, merupakan teladan yang harus kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sebagai manusia, kita tidak bisa hidup sendiri. Menuangkan cinta, iman, dan memenuhi hak-hak setiap anggota keluarga menjadikan kita Muslim yang lebih baik.

Balqis Inas

Sumber: https://www.islamramah.co/2021/03/5462/rasulullah-saw-teladan-dalam-keluarga.html

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *