Rektor UIN Jakarta Komentari Fenomena Ustadz Prematur – Aspiratif News

Views: 1789
Read Time:1 Minute, 58 Second

Rektor UIN Jakarta Komentari Fenomena Ustadz Prematur – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Profesor Hj Amany Burhanudin Umar Lubis ikut memberikan tanggapan terkait fenomena ustadz prematur di internet yang kerap memfatwakan hukum islam tertentu berdasar pemikirannya sendiri. Bahkan sang ustadz tidak mempunyai kesanggupan mengaji dengan baik dan benar berdasar ilmunya. 


Menurut mufti perempuan ke-1 Uni Emirat Arab ini, fenomena itu tidak cuma terjadi di Indonesia, nyaris beberapa negara mengalami serupa, yaitu berkembang mubaligh yang tidak mempunyai landasan ilmu pengetahuan atau tuntunan ajaran agama. 


Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini menerangkan, rujukan jadi seorang pendakwah di antaranya, konten yang disampaikan wajib berdasar Al-Qur’an dan sunnah. Lalu, menyampaikan materi berdasar ijtihad para ulama, menyampaikan materi dakwah berdasar ilmu meliputi bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, mempelajari ilmu tafsir dan telah membaca karangan para ulama yang mu’tabar


“Mempunyai wawasan ilmu seperti bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, membaca tafsir yang banyak, sudah membaca kitab-kitab karya ulama yang dianggap mu’tabar dan juga mempunyai wawasan Soal hal apa yang berkembang sekarang,” kata peraih rekor MURI sebagai Rektor Perempuan Ke-1 di seluruh UIN, waktu bercakap-cakap dengan Aspiratif News, Selasa (7/7) sore. 

READ  Cegah Karhutla, Sumsel Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana - Aspiratif News


Dia mengakui, waktu ini viral sekali pendakwah yang bernyali melarang serta memfatwakan hukum islam tertentu. Padahal, dalam pemahaman agama, seorang pendakwah wajib hati-hati, tidak boleh keluar dari landasan. Artinya menyampaikan materi dakwah secara komprehensif.   


“Banyak ulama atau syekh atau kyai atau juga mubalig menyampaikan problem ini. Kewajiban mubalig menyampaikan hal-hal yang benar. Jikalau ada yang keluar dari yang biasa, tidak ada landasan kuat, wajib dinasihati, dibina dan diberi arahan bahwa tidak mempergunakan media dan internet ini untuk memunculkan ide pribadi,” katanya. 


Menurut penerima beasiswa Shot Course on Women Studies di McGill University Kanada tahun 1997 ini, seorang pendakwah wajib mempunyai proses terlebih dahulu. Akan tetapi, jangan diartikan Islam sebagai agama yang mempersulit. Malah Islam mengajarkan bahwa sesudah kerepotan muncul kemudahan. 


“Islam ialah agama damai dan mudah, bukan cuma dipilih yang susah-susahnya. Lalu, inilah agama Islam, maka kita sebagaimana ulama menerangkan bahwa dari kerepotan itu akan kemudahan. Bahkan ayat  Al-Qur’annya juga Menegaskan itu. Inna ma’al ‘usri yusra, ulama juga berpedoman itu,” katanya. 

READ  Tundukkan Bilbao, Real Madrid Kian Nyaman di ujung tertinggi Klasemen - Aspiratif News


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori 

Editor: Abdullah Alawi

 

Rektor UIN Jakarta Komentari Fenomena Ustadz Prematur – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *