Risiko-risiko Trading dan Konsekuensi Hukumnya secara Fiqih – Aspiratif News

Views: 20
Read Time:6 Minute, 11 Second

Risiko-risiko Trading dan Konsekuensi Hukumnya secara Fiqih – Aspiratif News

Tulisan ini Ialah hasil riset penulis berbekal hasil Tanya Jawab dengan sejumlah trader yang berpengalaman dalam dunia trading. Ada 2 objek yang digali oleh penulis: ke-1 terkait dengan risiko trading dan ke-2 terkait dengan perilaku broker di lapangan. Dalam tulisan ini, penulis fokus pada penyajian risiko trading.

 

Saban usaha atau kerja, pasti mempunyai risiko. Seorang makelar (broker) mempunyai risiko yaitu apabila ia tidak sanggup menawarkan harta yang dimakelarinya, maka ia tidak memperoleh upah. Hal ini berangkat dari ketentuan bahwa kerja makelar ialah kerja berbasis jasa. Jikalau jasa itu tidak ada, maka tidak ada upah jasa (ujrah). 

 

Seorang petani yang bercocok tanam tanaman dagang, juga mempunyai risiko, yaitu ia akan memperoleh hasil yang banyak manakala ia tiwa waktu panen ternyata harga panenannya tengah melonjak tinggi di pasaran. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi lonjakan harga cabai. Waktu terjadi lonjakan semacam itu, maka petani cabai mengalami cuan (untung besar). Sebaliknya, tatkala harga di pasaran jatuh, sampai 2000 rupiah per kilogram, petani cabai akan gulung tikar. Bagaimana tidak? Ongkos yang dikeluarkan untuk merawat tanaman tidak sesuai dengan hasil penjualan hasil panenannya. Di waktu seperti ini, banyak petani yang mengalami jatuh miskin mendadak. Inilah risiko. Jikalau tidak untung, maka buntung. Dan hal semacam ini pernah dialami oleh semua orang yang terjun di bidang usaha.

 

Akan tetapi, syariat tidak berurusan dengan problem mencari keuntungan. Syariat lebih fokus pada apakah sebuah hasil usaha atau hasil kerja itu diperoleh dengan jalan halal atau tidak. Halal dalam cara memperoleh dan baik dari sisi yang didapatkan. Di dalam rezeki yang halal, Ada keberkahan. Dan saban keberkahan itu tidak selalu berhubungan dengan untung. Berkah yang dimaksud di dalam syariat ialah selamat dari memakan perkara yang tidak halal, sehingga kelak seorang hamba selamat dari hisab neraka akibat mengonsumsi barang yang tidak halal.

 

Di dalam trading, bermacam risiko kebangkrutan dapat saja terjadi tidak cuma pada broker, melainkan juga pada trader. Kebangkrutan yang dimaksud di sini ialah kebangkrutan sebab murni karena terjadinya hal yang di luar ekspektasi (harapan). Seperti misalnya, seseorang berbelanja saham yang Disangka akan terus naik harganya. setelah terjadi proses pembelian, lalu saham itu sudah tercatat dan masuk dalam saldo deposit akun yang dipunyai trader di situs broker, ia menahan untuk beberapa waktu untuk menunggu terjadinya tren kenaikan untuk memutuskan menjual saham tersebut. setelah ditunggu sekian lama, ternyata ekspektasinya salah. Harga saham itu bukannya naik, tapi bahkan malah jatuh sehingga Ada di luar harapan. Makin ditahan, kian jatuh harga saham itu. Karena tidak ada harapan untuk untung, dan untuk menghindari kebangkrutan yang lebih besar, maka ia putuskan untuk menjual saham itu lagi. setelah laku, ia berhak menerima harga penjualan, dan harga yang diterimanya masuk ke dalam akun deposit dan kelak dapat dicairkannya.

 

READ  Habib Ali Tidak Setuju dengan Kelompok yang Memaksakan Untuk Tidak Mentaati Pemimin Non-Muslim - Warta Batavia

Inilah bagian dari risiko trading itu. Jikalau terjadi kebangkrutan, terkadang bukan sistemnya yang menyebabkan rugi, melainkan pihak tradernya yang kadang kurang sanggup menganalisis keputusan. Yang Penting diingat ialah bahwa saban saham bagian tertentu dalam trading senantiasa akan dipengaruhi oleh kondisi, keadaan dan wilayah tempat emiten itu Ada serta sumber daya yang dibutuhkannya.

 

Di musim kering, tatkala situasi kerja pertanian tengah lesu akibat banyak tanaman yang tidak dapat diairi, melakukan pembelian saham di bagian pertanian (agriculture) terkadang bukan Ialah langkah yang bijak. Apa sebabnya? Situasi mikro tempat perusahaan agriculture itu mendirikan usaha, memaksa diri wajib mengerahkan tenaga tambahan berupa ongkos pengairan ke bagian pertanian. Ongkos yang dikeluarkan untuk pengairan ini sudah barang tentu akan memangkas hasil produk pertanian. Dengan seperti ini, deviden yang diberikan perusahaan ke para investornya, juga akan kecil dibandingkan  jikalau ongkos itu tidak dipotong ongkos pengairan. Belum lagi ongkos obat-obatan dan pupuk yang sudah pasti akan dihitung sebagai bagian pengurang hitungan total deviden yang akan disalurkan ke para investor.

 

Makin besar ongkos produksi dikeluarkan, kian kecil hitungan total deviden yang dishare ke investor. Bagi para investor, kecilnya deviden Ialah isyarat kecilnya penerimaan. Alhasil, mereka wajib mengambil sikap yaitu menghindari berinvestasi di bagian pertanian tatkala musim kering dengan pertimbangan beberapa hal di atas. Sedikitnya para investor yang tertarik untuk berinvestasi, menandakan saham di bagian pertanian jadi kurang diburu. Dengan seperti ini, harga saham bagian ini jadi turun nilainya. Turunnya harga saham pertanian menandakan variasi harga saham di pasar turunan juga jadi kecil. Rentang variasi antara saham 1 dengan saham yang lain di pasar turunan (trading), juga jadi kecil. Akibatnya, bila para trader memutuskan trading di jalur ini, nilai untung yang didapatkan juga jadi tidak besar. Andaikata rugipun, kebangkrutan itu tidak keterlaluan besar.

 

READ  10 November Itu Kejadian Paling Aneh dalam Sejarah

Keuntungan yang besar ialah bila trading Dilakukan pada saham yang mempunyai variasi harga yang kompleks. Adanya banyak variasi, menandakan saham yang tengah diburu Ialah saham favorit dan jadi trending waktu itu. Besarnya variasi, juga menandakan besarnya Peluang dijualnya saham yang sudah diakuisisi oleh trader ke trader atau investor lain yang terlibat dalam situs broker yang sama.

 

Akan tetapi, bagaimanapun juga, karena saban trading wajib melewati broker (samsarah), maka hal yang mesti diteliti dan dicermati oleh para trader ini ialah untuk sikap amanah dari broker. Sikap amanah broker dapat berpengaruh untuk keamanan harta para trader. Beberapa trader sempat mengeluh ke penulis karena ongkos mereka tiba-tiba habis seiring pemanfaatan oleh broker dengan tanpa izin. Pemanfaatan ongkos para trader tanpa izin ini sesungguhnya dapat dipermasalahkan secara hukum bila trader mau. Akan tetapi, para trader ini cenderung pasif, sehingga mereka lebih memilih diam untuk tidak melakukan tindakan. Tindakan paling banter dari para trader ini biasanya cepat menarik uang yang masih tersisa di saldo deposit, lalu berhenti. Sejatinya hal semacam ini dapat dibaca oleh broker bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki oleh trader. Alhasil, butuh evaluasi untuk sistem yang mereka gunakan.

 

Berbekal realitas ini, maka yang seyogianya yang Dilakukan oleh para trader dalam melakukan trading di dunia online dalam hemat penulis ialah hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut:

 

READ  Zona Merah, Bupati Tuban Minta Partisipasi Semua Pihak - Aspiratif News
  1. Kenali terlebih dulu untuk risiko investasi/trading Anda. Anda ingin Ada di jalur aman, atau jalur trading yang risiko tinggi. Trading di jalur resiko tinggi, tentu berpeluang untuk kemungkinan kebangkrutan yang tinggi pula. Jadi, bersikaplah bijak dalam melakukannya. Jangan keterlaluan berburu keuntungan yang besar, sementara melalaikan keamanan deposit yang dimilikinya.

 

  1. Bekali diri dengan menguasai perangkat analisis yang disediakan. Usahakan mengakses informasi terkait dengan segala kemungkinan yang membikin jebloknya harga objek trading yang dikehenadki.

 

  1. Periksa broker yang Anda pergunakan. Jikalau kedapatan sebuah broker sedemikian gencar melakukan promosi, itu menandakan ia tengah berburu keuntungan yang besar pula. Alhasil, bersikaplah waspada! Yang paling Utama ialah periksa bahwa broker yang Anda pergunakan ialah broker legal yang diawasi oleh OJK dan BAPEBTI.

 

  1. Kenalilah pola trading yang Anda pergunakan! Apakah trading Anda berbasis spot, option, binary ataukah future atau forward! Trading spot dicirikan dengan ketiadaan delay sistem antara keputusan buy dengan respon sistem. Jikalau Anda mendapati sebuah sistem ternyata ada unsur delay, maka tidak ayal lagi, bahwa trading dengan pola sistem itulah yang diputuskan sebagai haram karena memuat unsur spekulatif (maisir). Pola transaksi yang dicirikan dengan keberadaan delay sistem, Ialah transaksi akad munabadzah, dengan muka keharamannya dikarenakan illat tidak selarasnya akad ijab dan qabul keputusan buy atau sell.

 

Sedemikian sekelumit imbaun yang disampaikan oleh penulis berbekal hasil penggalian data dan dialog dengan beberapa pelaku trading online. Tanpa pengetahuan akan hal ini, termasuk pengetahuan akan karakteristik broker, maka hukum trading yang awalnya boleh, dapat berubah jadi haram akibat adanya kemungkinan dlarar (bahaya; kebangkrutan) bagi trader itu sendiri. Semoga berguna!

 

Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur; Peneliti Bidang Ekonomi Syariah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

 

 

Risiko-risiko Trading dan Konsekuensi Hukumnya secara Fiqih – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *