NU-dan-Pancasila-696x418.jpg

Riyadloh: Satu-satunya Ajaran Radikal dalam NU

Diposting pada
NU dan Pancasila Riyadloh: Satu-Satunya Ajaran Radikal di NU

Ciri tersembunyi gubuk an-nahdliyah yang landai, terutama di masa lalu dan di pinggiran kota, adalah kurikulumnya di Riyadloh. Jika ada yang pantas disebut radikal dalam kurikulum tarbiyah NU, maka kubu riyadloh ini pantas mendapatkannya.

Riyadloh artinya melatih jiwa, melatih jiwa. Tujuannya adalah untuk memungkinkan Anda mendominasi hasrat Anda. Tradisi radikal riyadloh di zaman modern ini sudah jarang kita jumpai, terutama di perkotaan. Biasanya riyadloh masuk ke tahap tasawuf atau thoriqoh (tarekat), tapi bisa juga lebih awal. Misal, seorang santri yang diyakini telah lulus Alquran dan siap menjadi dai, yaitu minimal pernah mendalami Ilahi Bayan, Nabawi Bayan dan Aqli Bayan, maka ia akan diperintahkan oleh kyainya untuk melakukan sesuatu yang ekstrim. . puasa.

Kyai Muhammad Imdad Zuhri, muridnya Gus Muwafiq (Kyai Ahmad Muwafiq) mengatakan bahwa Gus Muwafiq menyuruhnya berpuasa selama 8 tahun. Gus Muwafiq sendiri di masa lalu sering berbicara tentang riyadloh santri yang disuruh berpuasa sambil menahan diri dari mengendarai kendaraan, sehingga disuruh jalan-jalan keliling pulau Jawa. Selama perjalanan, para pengawal mengalami banyak kejadian yang melemahkan mental, mulai dari diperlakukan seperti germo hingga dipukul oleh orang. Maka ketika para Wali akhirnya mendapatkan gelar Kyai, yang berarti mereka berhak berdakwah, mereka tidak hanya kebal secara fisik terhadap pelatihan kanuragan, tetapi juga kebal terhadap jiwa. Kekebalan internal dan eksternal. Bukti apa pun akan diejek. Kebal dari nafsu akan kemuliaan, dari nafsu akan kekuasaan; kebal dari penghinaan, terzholimi, boron-kriminalisasi.

Kyai Muhamad Thoif, Sekretaris PWNU Papua, pernah bercerita tentang Riyadloh al pesantren di desanya di Indramayu. Ada siswa yang disuruh berbicara dengan cepat; alias diam selama lebih dari 5 tahun.
Bayangkan, orang-orang telah berakting selama puluhan tahun, pengetahuan mereka buruk, hafalan mereka buruk, mereka siap berdakwah, mereka disuruh berlatih diam.

Sebaliknya, di kalangan tertentu di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa, orang-orang yang masih sekuler, bahkan muqollid alias o’on, disebut ustadz karena baru menempuh pendidikan 4 tahun, itupun sudah melalui akreditasi kampus, mereka diajar. dimana mana; juga untuk mengatur tarif pulak.

Baca Juga :  Antisipasi Ancaman Teror, Polda Metro Jaya Perketat Pengamanan Sidang Habib Rizieq

Maka wajar jika dalam masyarakat Nahdliyyin tidak sembarangan mengutip hadits “Ballighuw ‘anniy sekalipun dia seorang ayah”, “Engkau komunikasikan kepada saya meskipun itu sebuah ayat”.

Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) sering dawuh, orang yang ngotot dakwah dengan dalil-dalil tersebut tidak terlalu paham arti kata “sekalipun” di mata hadis.

Gus Nadir (Nadirsyah Hosen, Ph.D – pemegang 2 doktor hukum dan hukum Islam) menjelaskan makna hadits ini. Berikut detail lengkapnya:

Dari Abu ‘Ashim ad-Dlahhak bin Makhlad yang memberitahu kita bahwa Al Awza’iy memberitahu kita Hassan bin’ Athiyyah dari Abi Kabsyah dari ‘Abdullah bin’ Amru bahwa Nabi SAW bersabda: “Kirimkan ayat dariku dan ucapkan (transmit) oleh Bani Isra’il dan tidak apa-apa.Dan siapa pun yang sengaja berbohong kepadaku akan siap untuk mengambil tempatnya di neraka. (Shohih Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi)
Tanpa perawi, hadits berbunyi seperti ini:

“Ballighuw ‘anniy meskipun ayatan wa hadditsu’ an baniy israaiila walaa haroja, waman kadzaba ‘alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahuu min naar.”

Dari Gus Nadir, menurut Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, konteks penyampaian hadits ini adalah bahwa Nabi Muhammad SAW setiap kali mendapat wahyu belum tentu didampingi oleh semua sahabat, dan setiap dakwah belum tentu hadir. oleh banyak orang.

Dalam catatan lain Nabi SAW bersabda: “Biarkan mereka yang hadir menginfeksi mereka yang tidak hadir” (Shohih Bukhari dan Muslim). Jadi “transmisikan dariku sekalipun sebuah ayat” memang khusus ditujukan untuk sahabat, sehingga ditularkan dari Rasulullah SAW kepada mereka yang tidak hadir atau tidak mendengarkan secara langsung, sekalipun mereka hanya mendengar ayat Rasulullah SAW.

Hal ini tidak dimaksudkan agar siswa sekolah menengah yang sudah memakai baju dan tidur di masjid merasa layak dakwah.

Baca Juga :  Hamas Umumkan Pemimpinnya Positif Covid-19

Gus Baha ‘(Kyai Baha’uddin Nursalim, dijuluki “Buku Berjalan” oleh Adi Hidayat) menyimpulkan studi Ballighuw’ anniy tentang hadits.

Pertama, hadits yang diterbitkan oleh Imam Bukhori tidak ada di bab Dakwah, tapi di bab tentang ucapan Bani Israil alias Yahudi. Oleh karena itu tidak bisa dijadikan dasar kasus dakwah.

Kedua, jika Anda benar-benar ingin menyampaikan setiap ayat yang baru saja Anda dengar, maka kirimkan ayat itu yaitu Muhrial, bukan Mutasyabihah.

Inilah ilmu interpretasi. Muhsatria artinya kebebasan, tidak ada sangkut pautnya dengan makna ayat sebelum atau sesudahnya. Artinya ini bukan ayat yang menjadi bagian dari rangkaian ayat lainnya. Muh Court juga berarti didefinisikan, tidak kabur, dalam arti dapat dipahami secara jelas melalui bunyi ayat, tanpa perlu mengkaji asbabun nuzul alias konteks ayat tersebut.

Mutasyabihah adalah kebalikan dari kata-kata.

Sekilas fatwa Gus Baha itu sederhana, namun kenyataannya untuk menilai ayat seperti Muhsatria atau Mutasyabihah, seseorang wajib menguasai prinsip-prinsip lain dalam ilmu tafsir.

Dari Kyai Said Aqil Siradj, di antara aturan-aturan tafsir yang penting ada antara ‘Aamah (umum) atau Khoshoh (khusus), Muthlaqoh (mutlak) atau Muqoyyadah (kontekstual) dan lain-lain.

Untuk memahami sebuah hadits sederhana, banyak sekali ilmu yang perlu dikuasai. Meski begitu, setelah mempelajari hal tersebut, seorang siswa tetap harus menjalani riyadloh untuk menjadi tawadlu ‘, menghilangkan kesombongan karena merasa ahli.

Prestasi Riyadloh bukan hanya tawadlu ‘. Ada juga tradisi ekstrim riyadloh dalam pelatihan Tauhid. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Gus Muwafiq, ada tradisi siswa diminta memanjat pohon kelapa setinggi minimal 3 meter sambil meneriakkan LAA ILAAHA ILLALLAH, lalu melompat ke tanah terlebih dahulu dengan kepala.

Jika sudah waktunya mati, maka kamu mati. Jika tidak, maka tidak.

Dengan tauhid riyadloh ini, jelas Nahdliyyin sama sekali tidak heran dengan ulah kelompok yang takut mati bernama hizbut tahrir yang mengenakan kata-kata tauhid sambil meneriakkan suatu bentuk reformasi negara, ketika mereka menemukan gas air mata langsung di atasnya. menunggang kuda meninggalkan benderanya di tempat sampah dengan kandungan bangkai 87%.

Baca Juga :  Alhamdulillah! Ini Kata PBNU Soal Tersingkirnya Komplotan 212 dari MUI

Ia bahkan tidak takut satu hal pun ketika dituduh menghina putusan tauhid. Karena begitu mudahnya menepis tuduhan tersebut: serahkan saja para penuduh melompat bersama dari atas monumen sambil meneriakkan Tahlil, berani atau tidak.

Jadi wajar saja kalau NU Kyai jarang menganggap serius tindakan tak berdasar anak Zhohir itu. Karena yang mereka jual adalah kebodohan yang berbalut karakter Munafiq. Di sini dia dipukuli sambil mengangguk dengan gembira. Lalu aku lari dari sana, pergi ke sana dan berkendara lagi. Dengan dering yang sama yang terputus di sini.

Fasies rekuren kronis.

Radikal PBB di riyadloh, dalam jumlah sedang. Inilah sebabnya mengapa model seperti milik saya diusulkan untuk menghadapi gerombolan fase Bughot di era orientasi darurat ini; Mahasiswa yang riyadlohnya berantakan, sehingga masih bisa berpawai su’ul adab dengan siapa saja.

Dan ini benar.

Karena jika santri yang sudah berlatih puasa sunyi misalnya diminta menghadapi Bughot dalam pertarungan yang nekat, maka pertarungan tersebut sangat zholim, yaitu tidak adil. Karena salah satu faktor puasa sunyi adalah ma’unah yang membingungkan lawan bicara dengan gerakan tangan yang sederhana.

Sentuhan umum.
Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thoriq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

F. Haryadi, S.Pd
Sekretaris Lajnah Ta’lif wan-Nasyr PWNU Papua

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *