Saat Mbah Wahab dan Mbah Bisri Berdebat Masalah Aurat

Ketika Mbah Wahab dan Mbah Bisri Berdebat Soal Aurat
Foto (kanan-kiri) KH Bisri Syansuri, KH Abd Wahab Hasbullah, Jend A.H. Nasution, KH Mahrus Aly, Habib Alwi Alhadad (sumber: fb Bagus Irawan)

Aspiratif News – Beberapa tahun sesudah kemerdekaan RI, para santri putri di pesantren-pesantren berinisiatif menggelar kegiatan-kegiatan dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Mereka tidak mau kalah dengan organisasi-organisasi wanita khususnya dari Partai Komunis Indonesia (Gerwani) yang lebih sering tampil di muka umum.

Para santri putri ini lalu merencanakan membikin 1 grup drumband. Nah, ternyata Kyai Bisri Syamsuri menguping geliat ini. Dengan bersemangat beliau mencegah aktifitas ini.

“Wanita tidak boleh main drumband. Nanti auratnya kelihatan,” katanya.

Para santri putri kemudian memberitahukan warning Kyai Bisri ini ke Kyai Abdul Wahab Chasbullah yang ialah kakak ipar Kyai BIsri sendiri. Biasanya, Kyai Wahablah satu-satunya kyai yang lebih memahami keinginan mereka.

Kyai Wahab kemudian menjumpai Kyai Bisri. “Nggak apa-apa wong masih pakek kerudung koq, nggak seperti Gerwani. Pokoknya, auratnya nggak kelihatan,” katanya ke Kyai Bisri.
Kyai Bisri terdiam, tidak mencegah.

Baiklah grup drumband jadi dibentuk. Kyai Wahab berpesan,
“Janganlah sampai Kyai Bisri tahu dulu!”

Para santri putri yang tergabung di dalamnya langsung menggelar latihan. Ada yang menenteng drum kecil, ada yang lebih besar sampai seperti bedug lalu dipukul-pukul. Ada juga yang membawa tongkat lalu diayun-ayunkan ke atas. Rupaya dia memimpin drumband-nan itu. Mendadak kyai Wahab meminta latihan itu dihentikan.

“Jangan pake goyang-goyang, itu namanya aurat,”

kata Kyai Wahab ke salah seorang yang membawa tongkat. Kyai Bisri yang lalu ikut melihat drumband-nan itu mengetahui hal itu manggut-manggut.

Jauh-jauh hari sebelumnya, pada masa-masa menjelang kemerdekaan, perempuan-perempuan pesantren melaksanakan unjuk rasa menuntut para kyai agar mereka diperkenankan untuk berkoalisi dalam Tentara non-reguler Hizbullah dan Sabilillah, berjihad Menyuruh pergi para “kumpeni.” Para kyai menenangkan,

“Wanita juga punya Peluang untuk berjihad. Jihadnya wanita itu di rumah tangga.”

Tetapi itu tidak membikin ghirah kaum wanita kendur. Mereka tetap memaksa berkoalisi dengan Tentara perang.
Kyai Bisri pun bersuara.

“Wanita tidak boleh ikut berperang, sebab berbahaya.”

Lagi-lagi Kyai Wahab tampil dan ikut bersuara, “Tidak apa-apa asal tetap menutup aurat dan yang jadi pimpinan tetap laki-laki, wanita ikut komando saja jikalau nanti pas nyerang.”

Demikianlah. Ada Kyai Bisri yang amat berhati-hati dalam memberikan fatwa. “Hukum mesti berdasar dalil yang paling gamblang, dan aturan mesti diputuskan dengan amat hati-hati.”

Ada juga kyai Wahab mengedepankan efektifitas dan katakanlah semacam “substansi” hukum, kaitannya dengan pengabdian para santri, masyarakat NU untuk negaranya tercinta, Indonesia. Dan bukan untuk yang lain. [Aspiratif News/in]

Source: FB Bagus Irawan



Ketika Mbah Wahab dan Mbah Bisri Berdebat Soal Aurat

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *