Sapardi, dan Alih Wahana Sajak ‘Hujan Bulan Juni’ – Aspiratif News

Sapardi, dan Alih Wahana Sajak 'Hujan Bulan Juni'
Views: 1342
Read Time:5 Minute, 15 Second

Sapardi, dan Alih Wahana Sajak ‘Hujan Bulan Juni’ – Aspiratif News

Oleh: Muhammad Daniel Fahmi Rizal 

Sesungguhnya saya merasa ragu waktu hendak memulai mecatat obituari ini. Saya bukan lah orang dari lingkungan dekat Sapardi. Hubungan yang terjalin antara saya dengan beliau cuma sebatas maha siswa dengan guru besar. Mungkin jikalau kami sempat berjumpa kembali, Sapardi akan lupa jikalau saya ini mahasiswanya. Tapi sudah lah. Saya niati mecatat obituari ini untuk menghormati beliau, guru saya. Biar bagaimana, ilmu yang saya transfer ke beberapa maha siswa saya salah banyaknya ber-sanad dari Sapardi juga.

 

Ke-1 kali berjumpa Sapardi mungkin kisaran tahun 2013. Waktu itu saya masih berkuliah di FIB UGM. Di suatu pagi, sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang kampus. Seorang tua dengan topi pet keluar dari dalamnya. Dia berjalan agak terburu. Begitu berpapasan dengan saya di lobi kampus, dia mengusulkan pertanyaan. “Ruang dekan di mana?” Saya yang kaget dan gugup lalu menuding ke arah selatan. “Itu, di dalam, Pak.” Orang tua itu cepat berlalu. Saya yang cupu masih memandangnya dari jauh. Dari topi pet yang amat melekat dengan karakter pemakainya, saya langsung sadar. Itu Sapardi Djoko Damono si sastrawan besar!

 

Beranjak ke tahun 2015. Waktu itu, saya sudah geser kampus di UI. Saya Ada di “rumahnya” Sapardi. Di semester ke-2, saya memperoleh pelajaran langsung dari beliau. Sapardi mengajarkan mata kuliah “Alih Wahana”. Jikalau versi kampus Barat, mata kuliah ini mungkin lumrah disebut Adaptation. Frasa “Alih Wahana” ialah frasa bikinan Sapardi sendiri. Waktu saya tanya, kenapa pakai frasa tersebut, beliau menjawab, “Ya karena saya milihnya itu. Mungkin di luar ada juga orang lain mempergunakan istilah lain. Gak papa juga,” begitu katanya.

READ  "Kesombongan" Gus Baha’ - Warta Batavia

 

Ada 1 kejadian yang saya ingat betul sampai sekarang. Waktu itu, Sapardi tengah mempresentasikan materi mempergunakan slide show di depan kelas. Notebook dia letakkan di meja guru besar. Sementara beliau berdiri di sisi kiri kelas. Yang saya dan temannya saya heran, waktu itu slide presentasi berpindah sendiri. Padahal notebook tergeletak manis tanpa ada yang mengoperasikan. Usut punya usut, Sapardi menggeser slide presentasi dari jarak jauh mempergunakan smartphone. Saya yang katrok bersama-sama Sahabat saya Mendadak terkesiap. “Gilak, Pak Sapardi udah tua tapi masih melek teknologi!” begitu kami terkagum.

 

Selepas saya lulus kuliah, perjumpaan saya dengan Sapardi setelahnya cuma lewat seminar, dialog, dan talkshow yang beliau isi. Ada 1 momen yang masih membekas di pikiran saya. Tahun 2017 di akhir Minggu. Waktu itu di FIB UI tengah ada acara ulang tahun Cak Tarno Institute atau CTI. CTI ialah forum dialog yang digerakkan oleh Cak Tarno, seorang penjual buku yang akrab di kalangan maha siswa. Pengisi Utama acara ulang tahun CTI ialah Sapardi. Di luar perkiraan, sore itu hujan deras mengguyur UI. Air menyiprat ke mana-mana di ruang kios buku Cak Tarno, tempat acara terselenggara.

 

Cak Tarno pontang-panting beres-beres tempat. Pengunjung berhimpit saling menyelamatkan diri dari cipratan air. Di tengah suasana yang hiruk-pikuk dan ramai suara hujan, Sapardi masih duduk tenang. Tidak ada raut kecewa dari beliau, walaupun suasana waktu itu jadi kurang kondusif. Beliau tetap anteng dan lanjut berdiskusi bersama-sama pengunjung. Wau! Ini Sapardi yang sering tampil di forum-forum dialog mentereng. Beliau masih berkenan berhimpit-himpit dengan maha siswa di sebuah kios buku kecil. Saya menyaksikan sebuah kebersahajaan dalam sosok guru saya sore itu.

READ  Rekam Jejak Dinilai Jadi Modal Bamsoet Pimpin Golkar

 

Memasyarakatkan Puisi

Dalam bukunya Sihir Rendra: Permainan Makna, ada 1 artikel berjudul “Puisi Kita Sekarang” yang ditulis Sapardi pada tahun 1988. Dalam artikel tersebut, Sapardi menyorot Soal hal puisi yang lingkup bacanya amat sempit. Menurut Sapardi, waktu itu penerbitan buku puisi ialah proyek rugi. Cuma 1 atau 2 saja yang dapat memberikan sumbangan keuntungan bagi penyair. Gambaran ini Ialah bukti bahwa penduduk kita ini bukan pembaca puisi.

 

walaupun sedemikian, Sapardi juga menemukan sebuah fenomena lain. Walaupun bukan pembaca puisi, penduduk kita ini ternyata pendengar puisi. Hal tersebut dibuktikan dengan ramainya pengunjung waktu W. S. Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri menggelar pementasan. Rendra membaca sajaknya dengan teatrikal, sementara Sutardji membaca sajaknya dengan orisinil. Pada akhirnya, pembacaan puisi menduduki peran yang makin menonjol dalam Kemajuan puisi kita.

 

Entah disengaja atau tidak, pola sejenis juga saya temukan pada sajak Sapardi yang berjudul “Hujan Bulan Juni”. Sajak ini Sapardi tulis pada tahun 1989. Sajak tersebut lalu jadi judul buku kumpulan puisi Sapardi yang terbit di tahun 1994. Pola pembacaan puisi terjadi pada sajak ini. Ialah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, 2 maha siswa Sapardi yang melantunkan musikalisasi untuk sajak ini. Dalam acara Makassar International Writer Festival 2017, dengan rendah hati Sapardi berujar enteng, “Ah, sajak ini jadi terkenal kan gara-gara dinyanyikan saja sama Ari-Reda.”

 

Jikalau pada tahun 1988 Sapardi menuliskan bahwa pembacaan puisi berperan untuk Kemajuan puisi kita, “Hujan Bulan Juni” bagi saya sudah melebihi itu. Tahun 2011, “Hujan Bulan Juni” dikomikalisasi oleh komikus Mansyur Daman bersama-sama Beng Rahadian. Komik “Hujan Bulan Juni” diterbitkan dalam majalah komik Comical Magz. Tidak berhenti di komik, “Hujan Bulan Juni” juga dialihwahanakan jadi novel oleh Sapardi sendiri di tahun 2015. Tidak cuma 1, tapi 3 jilid novel.

READ  Pembatasan Sosial Jangan Halangi Silaturahim - Aspiratif News

 

“Hujan Bulan Juni” menjelma jadi buku mewarnai di tahun 2016. Gambar-gambar hitam putih dalam buku ini dikerjakan oleh maha siswa Desain hubungan Visual Institut Kesenian Jakarta. Pada tahun 2017, “Hujan Bulan Juni” juga dijadikan film. Figur publik Utama film ini ialah Adipati Dolken sebagai Sarwono dan Velove Vexia sebagai Pingkan. Sapardi sendiri ikut bermain sebagai Bapaknya Sarwono.

 

Buku kumpulan sajak Hujan Bulan Juni sendiri dicetak ulang pada tahun 2013. Per bulan Maret 2020, buku kumpulan sajak Hujan Bulan Juni sudah masuk ke cetakan 12! Sebuah angka yang tidak sedikit untuk buku kumpulan sajak.

 

“Hujan Bulan Juni” berhasil menembus tesis Sapardi di tahun 1988. Sajak ini tidak cuma dibaca, tapi diinterpretasikan dengan bermacam medium yang tidak sama. Saya rasa, apa yang dilalui Sapardi bersama-sama “Hujan Bulan Juni” akan susah terjadi pada penyair Indonesia kebanyakan. Banyaknya alih wahana untuk sajak ini membuktikan bahwa Sapardi dapat membikin sebuah sajak begitu digandrungi penduduk. Sapardi telah berhasil memasyarakatkan puisi.

 

Ahad, (19/7) kemarin, Sapardi telah berpulang. Profesor sastra yang akrab dipanggil Eyang oleh penggemarnya itu telah memberikan teladan yang artinya bagi penduduk Indonesia. Sampai akhir usianya, Sapardi masih amat produktif mecatat. Semoga teladan Sapardi senantiasa menginspirasi kita para pembacanya. 

 

Selamat jalan, Tuan Penyair! Yang fana ialah waktu, kita abadi.

Penulis ialah Guru besar Sastra dan Komikus, Alumni Pesantren Ciganjur

 

Sapardi, dan Alih Wahana Sajak ‘Hujan Bulan Juni’ – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *