Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Cerita Kematian yang Indah

Sayyid-Muhammad-Alwi-al-Maliki.jpg
Views: 468
Read Time:9 Minute, 56 Second

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Cerita Kematian yang Indah

28 Views


Read Time:9 Minute, 45 Second

Ulama Makkah ini di kalangan kaum Aswaja internasioanl amat dikenal selaku Imam Aswaja, beliau ialah Al-Muhaddits Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Tapi sedemikian di kalangan kaum Wahabi, beliau ini disebut Ahlul Bid’ah dan Dedengkot Kemusyrikan, nau’udzubillah min dzaalik.

Beliau wafat pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur. Beliau wafat di waktu beliau beristighfar di waktu Sahur. Pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab akan tetapi banyak menceritakan perihal surga dan mengumumkan hasratnya untuk berjumpa dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.

Di bawah ini akan kami ceritakan Cerita Indah Wafatnya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bersesuaian dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak dapat disebut 1 persatu di sini.

Baca juga : Kenapa Sistem Pemerintahan Nabi Muhammad Haram Ditiru Ummatnya?

Bagian kebiasaan beliau di bulan Ramadhan sesudah shalat Tarawih senantiasa membaca Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dan beliau juga mengarang Kitab Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dengan judul Al-Bushra Fi Manaqib Al-Sayyidah Khadijah Al-Kubra (berita gembira soal biografi Sayyidah Khadijah perempuan yang agung).

Detik-detik Menjelang Kematian Sayyid Muhammad Al-Maliki

Catatan: Cerita ini disampaikan Al-Habib Hamid bin Zaid.

Al-Habib Hamid bin Zaid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa (Hadramaut Yaman) dan sudah nikah dengan adik wanita istri Sayyid Muhammad al-Maliki. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekah dan memintanya supaya Hadir ke Mekah untuk umroh dan menemuinya. Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan bareng istrinya cepat mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Tiket dan visa telah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya (panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad al-Maliki).

“Saya cuma mengurus paspor. Semua ongkos juga ditanggung Abuya,” kata Habib Hamid.

Baca juga : IRONISME PENYEBAR HOAX OLEH KAUM TERDIDIK DAN RAJIN IBADAH, PASUKAN CYBER MUSLIM ?

Hari ke-2 Ramadhan, Sayyid Muhamad al-Maliki kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk cepat terbang ke Mekah. “Engkau wajib cepat menuntaskan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah,” pinta Sayyid Muhammad al-Maliki terkesan agak cemas.

Hari ke-4 Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. “Saat itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah Saw. dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, waktu itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah.”

Pas pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang ke Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad al-Maliki dan membawanya ke hotel yang sudah disediakan. 2 hari di Madinah, lantas terbang ke Mekah. “Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, bagian murid beliau untuk menjumpai orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.”

READ  Melarang Radikalisme Masuk Lingkungan Sekolah

Baca juga : Ide Masyumi Reborn Bersama-sama Partai Baru Amien Rais Sulit Terwujud

Sore itu, setelah sholat Ashar, Abuya menerima Habib Hamid di ruang kerjanya. “Beliau memelukku, mengucap selamat Hadir dan menanyakan berita temen dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf (Bukit Duri), Habib Abdullah al-Kaf (Tegal), KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan ulama lainnya. Saya jawab seluruh baik-baik saja. seusai itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bareng dengannya,” kenang Habib Hamid.

Saat waktu berbuka puasa nyaris tiba, utusan Sayyid Muhammad al-Maliki menjemput Habib Hamid.“Hamid, apa yang kamu bawa dari Indonesia?,” tanya Abuya seketika, waktu Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.

“Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya,” jawab Habib Hamid.

Muka Sayyid Muhammad al-Maliki tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu untuk teman-teman dan muridnya yang ada di situ. Beliau juga langsung mencicipinya waktu buka puasa tiba.

“Ada titipan lagi buat saya?,” tanya Abuya lagi.

“Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng”

Dahi Abuya berkerut. “Kelengkeng? Buah apa itu?,” tanya beliau.

Habib Hamid menerangkan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. “Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat Isya,” kata Habib Hamid.

Baca juga : Hari Raya Idul Kurban 1441 akan jatuh pada 31 Juli 2020

Habib Hamid Shalat Isya dan Tarawih berjamaah bareng Sayyid Muhammad al-Maliki

Malam itu, pas malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid berkesempatan shalat Isya dan Tarawih berjamaah bareng Sayyid Muhammad al-Maliki. Waktu itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Seketika Sayyid Muhamad al-Maliki memanggil Habib Hamid.

“Hamid bin Zaid, engkau jadi imam Tarawih!” kata Sayyid Muhammad al-Maliki. Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, karena ia merasa tidak mungkin ditunjuk jadi imam. Sementara di situ banyak ulama besar yang pasti lebih patut jadi imam shalat Tarawih.

Sekali lagi Sayyid Muhammad al-Maliki memanggil Habib Hamid.“Hamid bin Zaid, engkau yang akan jadi imam.”

“Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk jadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang dihormati. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, jadi terasa amat sulit. Alhamdulillah, saya sanggup melewati ujian berat itu dengan baik, walaupun wajib gemetaran.” Habib Hamid meneruskan ceritanya.

Selesai shalat Tarawih, Sayyid Muhammad al-Maliki membaca shalawat dan qasidah. “Menurut murid-muridnya, tiap-tiap Ramadhan, setelah shalat, beliau senantiasa membaca Qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri ke-1 Nabi Saw. bareng keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umroh malam itu juga.”

“Sebelum saya berangkat umroh, Abuya sempat menanyakan kondisi Indonesia. Beliau ingin mengunjungi ke Indonesia, berjumpa dengan para ulama dan murid-muridnya. Tetapi waktunya belum pas, beliau bilang, kesibukan mecatat buku dan perjumpaan dengan para ulama Mekah, amat menyita waktunya.”

READ  Oposisi Konstruktif Dinilai Diperlukan agar Demokrasi Sehat

Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat Tarawih bareng dan untuk ke-2 kalinya menyuruhnya umroh.“Ajaklah istrimu untuk umroh dan kembalilah untuk shalat Shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umroh. Saya pun berpamitan seraya meminta izin untuk berangkat ke Jeddah, sekadar silaturrahim ke saudara-saudara istri saya. Abuya cuma memberi izin dengan isyarat tangan dan muka menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya berangkat, tapi juga tidak ingin melarang. Saya akhirnya mengambil keputusan untuk tidak berangkat ke Jeddah.”

Baca juga : Mahfud MD Menyebut Koruptor Biaya Covid-19 Dapat Diganjar Mati

Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Shubuh bareng bareng Sayyid Muhamad al-Maliki. Beliau terkejut waktu saya Ada di sampingnya. “Engkau tidak jadi berangkat ke Jeddah?” tanyanya.

“Tidak Abuya,” sahut Habib Hamid.

“Bagus!” jawab Abuya seraya memeluknya.

Habib Hamid Disuruh Sayyid Muhammad al-Maliki untuk Umroh Ketiga Kalinya

Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat Tarawih yang distop dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid memperoleh perintah Sayyid Muhammad al-Maliki untuk umroh yang ketiga kalinya.

“Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umroh yang ke-4 kalinya. Katanya, itu ialah umroh terakhir atas perintahnya. Perasaan saya sungguh tidak enak waktu beliau menjelaskan itu. Ah, mungkin beliau punya planning lain untuk saya besok.”

Rabu 13 Ramadhan, untuk ke-2 kalinya, Habib Hamid ditunjuk jadi imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad al-Maliki. Waktu itu jamaahnya kisaran 200 orang, sebagian besar ialah tamu-tamu Abuya. “Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan.”

Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil al-Aththas dan 1 murid asal Kenya, membacakan secara bergantian. Sayyid Muhammad al-Maliki kelihatan amat lelah. Maklum terkadang selama nyaris 24 jam terjaga. Tamunya tidak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun mecatat dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai memerlukan 3 lantai. Kamarnya juga full dengan buku. Kecuali itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. “Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas.” Kata Habib Hamid.

Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki masuk RS untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, cuma Penting istirahat di RS. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan Famili beliau menjenguk. “Apa berita Hamid bin Zaid, engkau betah di sini?” tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang tengah sakit.

“Kami tidak lama di RS, sebab istri dan bocah kecil Abuya akan berziarah ke Ma’la, ke makam Sayyidah Khodijah al-Kubra. Ziarah kali ini aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan seluruh member Famili bersama-sama membaca al-Fatihah di makam istri ke-1 Rasulullah Saw.” ungkap Habib Hamid.

Baca juga : Mahfud MD Menyebut 3 Penghancur NKRI yang Penting Diwaspadai

Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Muka beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak tengah sakit. “Kisaran jam 20.00. dokter Hadir, dan menjelaskan Abuya telah sembuh. Kami seluruh memekik, Allahu Akbar!”

READ  Bekal Berdebat Masalah Khilafah dengan Orang NU Penyokong HTI

Waktu Bulan Purnama Tersaput Awan

Di luar RS sesaat lantas, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin untuk dokter untuk menengok Famili dan murid-muridnya. Pas jam 00.00, beliau keluar dari RS. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama 2 menit. Bilal, bagian muridnya menanyakan: “Ada apa, Abuya?”

Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”

Waktu itu, semestinya bulan tengah purnama amat indah, akan tetapi malam itu bahkan tertutup awan.“sebelum ini dalam beberapa hari terakhir, beliau senantiasa meminta agar murid-muridnya menyaksikan bulan, dan menanyakan apakah bulan telah kelihatan?”

Dari RS, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menjumpai murid-murinya. Waktu itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. seusai itu, Hadir Sayyid Abbas, adiknya, bareng Famili yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam omongan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar,” cerita Habib Hamid seraya mengenang kejadian penting itu.

Perjumpaan malam itu, katanya, distop dengan sahur bareng. sebelum ini, Abuya sempat berjumpa kakaknya dan buat perjanjian untuk berbuka puasa cuma dengan 3 buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”

Baca juga : Tolak Khilafah dengan : “NKRI OK, ISLAM YES, KHILAFAH NO !”

Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tetapi Bilal diminta keluar kamar. Waktu itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki seketika menanyakan untuk Burhan. “Hai, Burhan. Saya sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”

“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, sebab tidak tahu wajib menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid mengambil keputusan sesuatu untuk gurunya?

“Saya akan istirahat di bumi saja,” Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.

Beliau lantas duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tetapi lantas, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut,“Lailaaha illallah….”

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un…”cuma itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari pas tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, waktu pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. mayat almarhum langsung dibawa ke RS. Dokter menyuruh seluruh Famili dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.

Baca juga : Penjelasan Wapres KH Ma’ruf Amin Masalah Larangan Paham Khilafah di Indonesia

Pas setelah shalat Shubuh, ambulan RS yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, perjumpaan saya dengan beliau cuma untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca tiap-tiap kali selesai shalat Tarawih.”

Ilaa hadhrotinnabiyil musthofa rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ila ruuhi sayyid muhammad bin alawi al-maliki qoddasallahu sirrohu wanawwaro dloriihahu, al-Fatihah…

Penjelasan: Cerita ini pernah dipublish di majalah Al-Cerita tahun 2005.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Kisah Kematian yang Indah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *