Refly-696x369.jpg

Sedikit- Sedikit Salah Jokowi | The Truly Islam

Diposting pada

Sebagai pakar hukum yang dulu menonjol dan pendapatnya kerap penulis tunggu, kini menjadi seperti kehilangan tajinya setelah dicopot dari BUMN, lalu terkesan mendadak menjadi oposan yang menyimpan sakit hati, hingga sedikit-sedikit ikutan menyalahkan Jokowi.

Sebagai pakar hukum seharusnya tahu persis bahwa persoalan hukum dari waktu ke waktu akan selalu ada, termasuk masalah rasisme yang menimpa saudara Natalius Pigai dimana itu murni persoalan hukum, yang seyogyanya diselesaikan pula secara hukum. Artinya saudara Pigai tinggal membuat delik aduan ke pihak Kepolisian, dus bukan malah curhat ke Menteri Pertahanan Amerika.

Juga tidak kemudian dipolitisir untuk menyudutkan Presidan yang tidak bisa cawe-cawe ke ranah hukum, terlebih ini bersifat personal, dan tidak se-Indonesia masyarakatnya rasis yang suka menyamakan manusia ciptaan Tuhan dengan hewan. Penulis sendiri sangat menentang isu SARA apapun bentuk dan alasannya. Bahkan untuk menghina dengan kata-kata kasar saja, rasa-rasanya tidak sampai hati kepada sesama anak bangsa.

Betapa pun bencinya akan ucapan dan tingkah laku mereka yang berbeda pandangan politik, namun sebagai orang timur yang memiliki budaya saling menghormati sesama anak bangsa yang diikat dengan 4 pilar kebangsaan, rasanya harus bisa menahan diri dari hal-hal yang melanggar hukum dan berpotensi menimbulkan polarisasi atau perpecahan.

Baca Juga :  Habib Rizieq Ditahan, Polri: Hak Dipenuhi-Dilayani Baik Selama Pemeriksaan

Tapi jangan lupa bahwa ‘Tidak akan ada asap bila tidak ada api.’ Saudara Pigai ini kerap membuat pernyataan yang tidak realistis dan selalu menunjukan pertentangan dengan pemerintah, seolah hanya dia yang benar, sementara masyarakat tidak tahu apa yang telah dia berikan kepada tanah air ini.

Hingga tak sedikit yang kemudian jengkel, lalu ada yang tak bisa lagi mengontrol emosinya.

Saudara Rafly pun mengapa tidak menanggapi begitu banyaknya ujaran kebencian, fitnah, dan hoax yang ditujukan kepada presiden, yang justru masiv sejak masa kampanye Pilpres 2014 silam.

Sedangkan ini yang bersifat individual mengapa tiba-tiba ikut menyoal dan menyalahkan Presiden Jokowi? Sedikit-sedikit salah Jokowi. Sedikit-sedikit Salah Jokowi.

Saudara Rafly.. coba ingat-ingat lagi bahwa kedudukan intelektual itu adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Tapi Saudara katakan bahwa “Intelektual itu orang yang kritis kepada kekuasaan.” La Anda sendiri paham tidak makna kritis itu apa? Nyinyir itu bukan kritis. Kalau pun kritis, mengapa baru sekarang?

Baca Juga :  Keuntungan Jokowi Pertemukan Trio Erick-Sandi-Lutfi di Kabinet

Apa karena Anda belum jadi intelektual seutuhny? Ditunggu ya jawabannya..

Salam NKRI Damai

Sumber: FB Wahyu Sutono

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *