Semesta Cahaya Manusia – Aspiratif News

Semesta Cahaya Manusia
Views: 19
Read Time:5 Minute, 40 Second

Semesta Cahaya Manusia – Aspiratif News

Waktu kita berpikir soal manusia, atau menanyakan ke manusia, apa maksud hidup Anda? mereka akan menjawabnya, “jadi bahagia”. Saya percaya, 90 dari 100 orang yang kita tanya (dapat jadi lebih) akan serempak menjawab hal yang sama. Ini didasari saban manusia ingin merasakan Kedamaian dan ketentraman. Tidak mau repot dengan kegelisahan apalagi kesengsaraan.


Sederhana, tapi tidak sesederhana itu. Sesungguhnya kebahagiaan ada pada diri kita. Yang wajib kita sadari, diri ini oleh Allah telah diinstal 4 perangkat rasa yang susah kita hilangkan, kita punya keinginan, kita punya harapan, punya juga kegelisahan, dan lalu kesengsaraan.


Artinya, perjalanan hidup ini mempunyai 2 kemungkinan; bahagia dan nestapa. Waktu kita tidak sanggup memproses itu dengan baik konsekuensinya ialah kita akan terpenjara oleh diri kita sendiri. Keinginan cuma akan jadi keinginan, begitupun harapan, begitu pula kegelisahan, apalagi kesengsaraan, ia dapat kian merajalela.


Sesungguhnya tinggal bagaimana kita mengendalikan dan meminimalisir itu semua jadi seimbang. Al-Qur’an mengajarkan rumusan sakti, caranya, “bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya.” Yang jadi problem, waktu ini banyak orang dibutakan sesuatu yang bersifat sementara, mereka terjebak dan akhirnya kehilangan cahaya.


Cahaya itu luntur dari pandangan hidupnya, kita tidak lagi memaknai esensi dari cahaya bahwa cahaya bersifat menerangi, di waktu gelap dan tanpa kelir. Dapat jadi, ada di antara kita yang tidak memerlukan cahaya karena gelap dan gamblang sama saja, kita tidak mau ambil pusing akan hal itu. Manusia menganggap punya otoritas melakukan segalanya, cahaya cuma akan menyilaukan kehidupan.


Jelas salah kaprah, korupsi, tindakan mematikan, dan pemerkosaan—manusia kehilangan cahaya. Mereka tidak membalut seluruh hasratnya dengan pancaran cahaya ketuhanan sehingga mereka bebas untuk berbuat apapun. Orang yang sudah dibutakan oleh nafsunya, ia tidak pernah menganggap bahwa cahaya itu penting. Yang terpenting cuma dirinya sendiri, kepentingannya sendiri.

READ  Kehadiran Santri Bahrul Ulum Jombang Ditunaikan secara Bergelombang - Aspiratif News


Kita wajib berpikir bahwa cahaya hakikatnya bukan cuma untuk kita, tetapi untuk kehidupan bareng supaya tidak saling bertabrakan. Sebuah cerita yang ditulis oleh Angelus Silesius, seorang mistikus abad ke-17, “Seorang buta mengunjungi temannya, ia pulang di malam hari, dan si buta diberi lentara supaya menerangi perjalanannya. Di tengah perjalanan ia ditabrak oleh seseorang lainnya yang berjalan, orang buta itu pun kaget dan sontak menanyakan, “Kenapa engkau tabrak saya, padahal saya sudah membawa lentara, bukankah cahayanya kelihatan?” Si penabrak menjawab, “Saya tidak melihat cahaya yang engkau genggam, karena lenteramu telah mati.”


Dijelaskan oleh A. Sudiarja dalam bukunya Bayang-bayang Kebijaksanaan dan Kemanusiaan, cerita di atas bukan bermaksud untuk menghina atau mengolok-olok seorang buta, melainkan ada hikmah besar yang dapat kita ambil. Sebuah cahaya di tangan buta ia tidak berfungsi maksimum, karena tidak mengetahui cahaya itu ada atau tidak. Tapi pada posisi lain, sebuah cahaya pada orang yang sudah “dibutakan”, ia tidak peduli, cahaya yang masuk cuma lewat lalu tidak berfungsi, Tidak mau kehadiran cahaya. Ia tidak lagi berposisi ditabrak, tetapi menabrak.


Kehidupan ini sungguh kompleks apalagi waktu ini, bermacam kemajuan melingkari. Tersebar gambaran-gambaran semu yang memikat. Tidak aneh waktu banyak orang kehilangan cahaya, khususnya cahaya Ilahi. Allah sebagai Sumber Cahaya, dengan kata lain Sumber Motivasi kelihatan redup dalam aktivitas keseharian kita.


Coba kita cermati karya Ibn Tufail, (mungkin) dapat jadi potret pencarian cahaya yang sesungguhnya, dalam karyanya Ibnu Tufail mecatat cerita soal Hayy ibn Yaqzon, Perjalanan seorang manusia menggali pengalaman spiritualnya. Mencari jalan yang benar dengan bermacam-macam tindakan dan pengamatan. Hayy ialah manusia yang hidup di hutan belantara, dalam asuhan Rusa, ia pun sebagai manusia yang berakal, berpikir, dan bernurani mencoba menemukan kebenaran sejati melalui penglihatannya, pendengarannya, rasionya, sekaligus jiwanya. Ia selalu mengamati bermacam-macam kebiasaan, haewan, alam, tumbuhan, Pergantian cuaca, dan semua gejala. Dan sesudah melakukan perenungan panjang, akhirnya ia menemukan Sang Kebenaran, Esensi dari segala Esensi.”

READ  Pilkada Wajib Jamin Keamanan Warga - Aspiratif News


Waktu Anda membaca cerita tersebut pasti banyak sisi menarik yang ditemukan, seorang manusia dalam asuhan rusa melakukan proses pencarian untuk Sang Penciptanya. Tidak lain itu ialah dorongan spiritual manusia sebagai makhluk yang memerlukan sandaran. Akan tetapi, dimensi spiritual itu tidak serta merta muncul dengan sendirinya, melainkan wajib melalui proses kesadaran manusia. Realitas kehidupan dengan bermacam atributnya terkadang jadi tabir, menghambat kemungkinan kebaikan kita.


Allah SWT telah memberikan gambaran besar dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syams [91], ayat 7-10, “Untuk jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan ke jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”


Dengan sedemikian, Allah SWT telah memberikan pelajaran dan pilihan dari 2 sudut yang tidak sama, ketakwaan dan kefasikan (kejahatan). Sesungguhnya, semua itu terbentuk oleh bagaimana tindakan manusia dalam menjalani proses hidupnya. Apakah ia tercemari hal-hal buruk, atau hal-hal baik.


Kalau kita kaji lebih luas lagi Masalah makna spiritual, tugas spiritual manusia sesungguhnya mengatasi kesombongannya. Karena hakikat kondisi sesungguhnya, hubungan manusia tidak cuma berhenti dengan Tuhan, melainkan dengan seluruh ciptaan-Nya. Usaha spiritual ini yang dikerjakan oleh saban manusia sebagai strategi bagi Pergantian sosial ke arah lebih baik. Artinya, aktifitas spiritual manusia wajib mengisi sebagian besar wujud dan eksistensinya.


Membicarakan apapun soal manusia sesungguhnya bukan perkara mudah. Ada seorang pemikir menerangkan bahwa manusia ialah makhluk misterius, ia selalu berubah dari posisi 1 ke posisi lainnya, dapat lambat sekaligus cepat. Adapun bagi saya, manusia terdiri dari triliunan eksemplar yang susah dibaca, saban halaman yang disajikan manusia dalam hidup ini tidaklah sama, manusia tidak sama dari segi karakter, tempat, dan waktu. Yang mengikat kesamaan manusia cuma identitasnya; agama, budaya, Famili, dan kebiasaan. Itu pun, sebatas pada posisi tertentu saja, keterikatan identitas juga melahirkan ekspresi naik-turun.

READ  Rezeki Suami Akan Lancar Kalau Istri Mengamalkan Amalan Ini


Tulisan ini disajikan bukan untuk menggurui, tetapi sebagai pengingat kita semua bahwa ada sesuatu yang lebih Utama dalam hidup ini, ialah bukan matahari berbentuk seperti apa, dan bulan bagaimana, dan bumi bulat atau datar, yang terpenting, bagaimana matahari, bulan, dan bumi ialah sumber cahaya dan kehidupan bagi seluruh manusia, itu esensinya.


Kita seringkali terjebak pada perdebatan luar diri, hal-hal yang di luar ensensi kehidupan kita—sehingga kita berdebat yang bukan kita lalu kita lupa akan esensinya. Dalam Hadits Qudsi Allah menerangkan, “Saya jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai, dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Saya kata Allah.”


Dengan sedemikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam diri sebagai metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita ialah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah ke Allah. Dengan sedemikian, proses perjalanan ke dalam diri wajib dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan saban tindakan dan tidak boleh merasa benar.


 

Aswab Mahasin, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah; pembaca setia Aspiratif News

Semesta Cahaya Manusia – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *