Juli 9, 2020

ASPIRATIF

Aspiratif Situs Web Berbagi Aspirasi dan Berita Indonesia Terkini, Update Setiap Hari ….

Seni Ukir Nahdliyin di Karduluk Sumenep yang Menembus Dunia – Aspiratif News

13 Views
Read Time:5 Minute, 55 Second

Seni Ukir Nahdliyin di Karduluk Sumenep yang Menembus Dunia – Aspiratif News

Sumenep, Aspiratif News 

Skill dan kreativitas Nahdliyin atau masarakat Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sebenarnya amat mumpuni. Sebab dari hasil olah tangan mereka, sejumlah bentuk ukiran seni dihasilkan. 

 

Jika Raja Arya Wiraraja dikenal dengan desainer kerajaan Majapahit, Sumenep waktu ini juga dikenal dengan seni ukir keris, sehingga menanhbiskan diri sebagai kota keris. Dan yang juga jadi ciri khas kota di ujung timur Pulau Madura tersebut ialah seni ukir kayu ialah di Desa Karduluk Kecamatan Pragaan. 

 

H Zainul Hasan selaku Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Karduluk menerangkan bahwa aktifitas mengukir dan memahat sudah jadi kebiasaan dan bagian dari budaya, seni, ekonomi dan sosial. Hal tersebut telah lama diwariskan nenek moyang sampai secara turun temurun dilanjutkan generasi muda waktu ini.

 

“Jangan kaget jika berkunjung ke Karduluk. Karena nyaris saban rumah mempunyai usaha ukir,” katanya, Selasa (30/6). pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Karduluk tersebut menyampaikan  bahwa aktivitas mengukir atau proses pembuatan mebel dapat dijumpai di rumah masarakat yang notabene Nahdliyin.

 

Dirinya menjelaskan dengan tegas bahwa waktu ini seni ukir Karduluk sudah bersaing di kancah nasional, sampai internasional. Bahkan bila dibandingkan dengan wilayah yang menonjol akan hasil serupa ialah Jepara, Jawa Tengah, dapat disejajarkan atau7 malah mempunyai kelebihan. 

Berawal dari Layang-layang

Dijumpai media ini, Ustadz Buna’i yang juga pengerajin menceritakan bagaimana asal mula kesenian ukir berkembang cepat. Sedemikian juga dari keahlian tersebut sanggup jadi penopang ekonomi masarakat dan jadi penghasilan Utama.

 

“Asal mula kesenian ini berkembang waktu masarakat Karduluk menemukan layang-layang yang jatuh. Entah punya siapa layang-layang ini. Usut untuk usut, ternyata kepunyaannya salah seorang wali Sumenep waktu itu,” kisahnya. 

 

Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Pragaan tersebut meneruskan ceritanya bahwa pada layang-layang itu Ada motif ukiran zaman dulu. Konon, motif ukiran tersebut dikagumi oleh masarakat kisaran dan seperti terinspirasi dengan motif yang ada. 

 

“Sedemikian pula, nama Karduluk dinukil dari motif ukiran yang Ada pada layang-layang misterius tersebut, yang waktu itu disuruh ekkar atau direka-reka ma’le duluk,” ungkapnya. 

 

Dijelaskannya bahwa sampai waktu ini drinya berbarengan masarakat kisaran fokus sebagai pengrajin seni pahat kayu. Pesanan tidak cuma dari masarakat kisaran Sumenep, juga dari bermacam kota. Model pesanan juga mulai merambah logo NU dan tulisan kaligrafi. 

 

“Tidak ada yang sulit bagi saya pribadi dan pengrajin lainnya. Karena saya sudah terbiasa saban hari membikin pesanan para kyai yang nantinya akan dipajang di dinding kantor NU atau rumahnya,” jelas dia. 

 

Lantaran telah jadi aktifitas harian dan kerap menerima pesanan, untuk dapat mengerjakan bentuk tertentu tidak lagi memerlukan pola atau pakem. Tangan kreatif mereka seakan mempunyai mata spesial sehingga meliuk dengan sempurna untuk menuntaskan pesanan sesuai harapan. 

 

Kendati sedemikian, agar dapat jadi pemahat profesional, tentu mesti diimbangi dengan latihan dan antusias pantang menyerah. Jadwal mengerjakan pahatan dan ukiran juga mesti kian dintensifkan lewat terus belajar dan memperhatikan hasil yang telah dibuat. Bahkan untuk membikin logo NU dan kaligrafi, misalnya mesti memperoleh bimbingan spesial. 

 

Kesadaran itu pula yang membikin para orang tua memberikan pembelajaran semenjak dini ke bocah kecil Desa Karduluk. Hal tersebut tidak semata untuk keperluan memperoleh materi, juga sebagai Sarana agar budaya dan keahlian leluhur tetap terjaga.

 

“Saya tahu seni ukir karena semenjak kelas V sekolah dasar sudah diajari oleh ayah. Jadi generasi muda di sini sudah semenjak dini dikenalkan kesenian pahat,” urainya. 

 

Penting Keahlian Spesial

Untuk dapat mengerjakan ukir dengan motif umum seperti bungan dan pemandangan butuh latihan dan jam terbang. Akan tetapi terkait membikin atau mengerjakan pesanan berupa lambang NU dan kaligrafi, diperlukan keahlian spesial serta waktu yang tidak sebentar.

 

“Semua tergantung pada besar kecilnya pesanan. Untuk kaligrafi dan lambang NU ukuran besar, dapat diselesaikan selama 20 sampai 25 hari. Adapun untuk ukuran kecil, dapat saya rampungkan antara 7 sampai 10 hari,” jelasnya. Masalah harga, semua tergantung pada besar kecilnya pesanan dan tingkat kerepotan. Sekadar rujukan, harganya mulai Rp250.000  sampai 3 juta rupiah, lanjutnya.

 

Bagaimana dengan alat penunjang untuk memahat dan ukir? Ternyata tidak keterlaluan sulit dijumpai di pasaran. Bahkan para pengrajin dengan mudah memperoleh alat kerja di sejumlah pasar kisaran wilayah setempat. 

 

“Bahan dan peralatannya dapat saya beli di pasar-pasar tradisional dan toko-toko alat ukir lainnya. Biasanya yang sering kami beli tidak lepas dari alat pahat, melamen sending, cat-cat tertentu untuk memperoleh hasil yang baik dan diterima konsumen,” ujarnya.

 

Ustadz Imam Ghazali mengungkapkan bahwa banyaknya para ahli ukir dan pahat di Desa Karduluk jadi pesona orang luar desa yang ingin membangun usaha mebel secara mandiri. Sebagian ada orang yang awalnya jadi pekerja, lalu menduplikat atau meniru karya ukir dengan menyamar jadi konsumen dan sejenisnya.

 

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Pragaan yang juga sebagai pengrajin ini menjelaskan dengan tegas bahwa hasil ukir di wilayah ini mempunyai ciri khas. Hal tersebut juga sebagai pembeda dari pegiat dan sentra ukir lain di sejumlah kota di Tanah Air. Cita rasa Karduluk, tentu saja akan muncul sebagai pembeda dengan lainnya. 

 

Dan sampai Waktu ini, Karduluk ialah penyuplai pengrajin ukir dan ahli mebel di Madura dan sejumlah kota di Jawa Timur. Hal tersebut seakan jadi ikon bahwa desa ini jadi laboratorium dan rumah kaderisasi bagi lahirnya ahli ukir di sejumlah daerah.

 

“Sungguh waktu ini seni ukir tidak cuma berpusat di Karduluk, di desa dan kecamatan lainnya juga ada. Tetapi pengrajinnya rata-rata dari masarakat Karduluk,” tegasnya. 

 

kiai Lukman Hamdi yang juga sebagai pengrajin menerangkan bahwa kelebihan seni ukir Karduluk mempunyai pahatan yang elok dipandang. Dan ciri khas ukir itulah yang dipertahankan sampai waktu ini dan jadi pembeda dengan sejumlah wilayah lain. 

 

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pragaan tersebut menceritakan bahwa banyak orang luar Sumenep berusaha meniru dan menguasai teknik ukir yang ada, tetapi tidak dapat. Jikalau pun sanggup jadi pemahat dan ahli ukir, tapi hasilnya tidak sebaik dan sehalus sentuhan tangan masarakat Karduluk yang juga Nahdliyin. 

 

Di lain sisi, Ustadz Buna’i selaku pengrajin memberikan argumentasi mengapa orang lain tidak dapat meniru karya masarakat Karduluk. Salah satunya karena corak dan motif ukirannya amat bermacam dan mempunyai tingkat kerepotan. Karena dijelaskannya bahwa sampai Waktu ini setidaknya ada 5 motif ukiran yang jadi identitas pengrajin ukir kayu di daerah ini. Yaitu motif nyiur ondungan, Eropa, Itali; dimensi; dan Cheng Ho atau China. 

 

Dirinya menjelaskan dengan tegas bahwasanya sudah puluhan tahun jadi pengrajin. Sebagian besar konsumen masih fanatik dan cuma mau berbelanja mebel asli buatan masarakat Karduluk. Termasuk dengan menjamurnya penawaran lewat servis online.

 

“Di pasar online sudah banyak dipasarkan oleh pengrajin lainnya. Tetapi yang laris cuma buatan Karduluk. Sebab kualitasnya sungguh terjamin dan ukirannya khas. Hal yang paling mencolok di permukaan ialah dapat dengan mudah dibedakan dengan hasil tangan orang luar Karduluk,” tegasnya. 

 

Sebagai ikhtiar menjual produk di sejumlah wilayah, maka yang ditunaikan Ustadz Buna’i berbarengan rekan juga menawarkan hasil kerja di bermacam media sosial. Dari mulai servis whatsapp, facebook, instagram, twitter, bahkan lewat jalur silaturahim antar sesama Famili yang ada bermacam daerah. 

 

Dirinya juga membuka diri bila ada Nahdliyin yang menginginkan dan memesan logo NU, lemari, dan lainnya dengan bercorak ukiran Karduluk. Bagi yang berminat dapat menghubungi 085331263556.

 

Kontributor: Firdausi

Editor: Ibnu Nawawi

 

Seni Ukir Nahdliyin di Karduluk Sumenep yang Menembus Dunia – Aspiratif News

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %