Sepakbola-Piala-Menpora-dan-Upaya-Mendobrak-Mitos.jpg

Sepakbola Piala Menpora dan Upaya Mendobrak Mitos

Diposting pada

Warta Batavia -Akhirnya, sepak bola profesional kami telah dimulai kembali setelah jeda sekitar satu tahun. Ada rasa lega dan haru yang mengemuka di wajah penyelenggara dan juga para pemain saat laga resmi pertama Piala Menpora berlangsung, Indonesia akhirnya cukup percaya diri untuk menggelar ajang ini; bahwa kita dapat menjaganya dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga pelaksanaan kompetisi “olah raga manusia” ini tidak menjadi Banyak penyebaran Covid-19.

Sepak bola adalah olahraga populer yang memiliki banyak dimensi lain di luar olahraga. Sepak bola telah menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian, mobilitas sosial dan alat pemersatu bangsa. Karenanya, ketika sepak bola nasional diganggu akibat Covid-19, banyak sektor juga yang terkena imbas dan patah semangat.

Alasan penghentian kegiatan sepak bola dalam negeri sebenarnya sama dengan yang diberikan untuk penghentian berbagai kegiatan sosial ekonomi lainnya, yakni menghindari kegiatan yang berpotensi mengundang keramaian. Sepak bola memang menjadi magnet bagi publik. Barangkali, kerumunan yang tercipta dari pertandingan sepak bola di negara kita hanya bisa dibuat kewalahan oleh kerumunan peristiwa politik seperti kampanye atau demonstrasi.

Baca Juga :  [Berita Gambar] Jamila Alshanti, Wanita Pertama Di Biro Politik Hamas

Masalahnya, di negara-negara Eropa yang dampak wabah Covid-nya jauh lebih dahsyat dibanding di Indonesia (mengingat kasus infeksi dan angka kematian), penyelenggaraan pertandingan sepak bola profesional sudah lama diabaikan. Inggris Raya, Spanyol, dan Italia, yang merupakan salah satu episentrum pandemi global Covid-19, adalah negara-negara yang telah lama mengizinkan pertandingan sepak bola, jelas dengan persyaratan protokol kesehatan yang ketat: jumlah maksimum orang yang menghadiri stadion hanya 300, setiap orang harus menjaga jarak mereka, terus pakai topeng bagi yang tidak main dan sebagainya. Faktanya, di Eropa, pertandingan sepak bola tidak pernah diakui seperti itu Banyak penularan Covid-19.

Jadi mengapa Indonesia baru bisa menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola? Hal ini jelas tidak lepas dari keprihatinan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya para penggemar sepak bola, tidak bisa “disiplin” seperti negara-negara Eropa dalam menaati peraturan kesehatan. Karenanya, berbagai “episode” kerusuhan dan huru-hara yang ditampilkan fans Indonesia, seperti teriakan hinaan, menyulut roket yang bahkan dilarang membawa benda tajam ke dalam stadion, karena berbagai bentrokan yang menuai kehidupan. Logikanya, di masa normal memang sulit untuk mengaturnya, apalagi jika memang perlu menyesuaikan diri dengan hal baru dalam situasi normal.

Baca Juga :  Sindir Rizieq Marah-marah ke Wali Kota Bogor, Politisi PKB: Nabi Tak Contohkan Itu!

Sejauh ini, kekhawatiran tersebut belum terlihat. Pertandingan sepak bola Piala Menpora yang berlangsung sejak hari pertama tidak banyak diminati penonton. Tidak ada pergerakan massa yang memaksa suporter datang ke stadion atau menonton bersama. Situasi ini harus dipertahankan.

Mempertahankan situasi ini penting untuk mengatasi tantangan dan keraguan yang cenderung mengarah pada mitos daripada fakta. Terkadang kami juga melakukannya meremehkan pada kemampuan bangsa kita dan, di sisi lain, sering terjebak dalam mentalitas inferior terhadap Barat. Misalnya, isu kecenderungan melawan korban sebenarnya merupakan fenomena yang lebih sering terjadi di Barat dibandingkan di Indonesia. Penggemar sepak bola pasti ingat tragedi Heysel 1985. Saat itu, 37 suporter tewas dan lebih dari 600 terluka. Hampir semua korban adalah suporter Juventus di Italia. Mereka dibantai oleh pendukung Liverpool, Inggris.

Ah, Inggris lagi! Kenangan kita tentunya dihantui oleh tragedi dimana atlet kita dikeluarkan dari turnamen All England 2021. Atlet pahlawan bangsa kita diperlakukan sangat tidak adil oleh penyelenggara turnamen. Bangsa kita, yang terbukti mampu mengendalikan Covid-19 dengan lebih baik (sekali lagi, lihat dan bandingkan angka infeksi dan kematian akibat Covid-19), diremehkan oleh negara-negara dengan kasus Covid yang merajalela seperti Grande Brittany. (os / editorial / liputanislam)

Baca Juga :  Beredar Foto Rizieq Dijenguk Anies Dirawat Petugas Ber-APD di RS

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *