Seputar Lafal Atubu Ilaih dan Atubu Ilaik pada Istighfar – Aspiratif News

Views: 1355
Read Time:4 Minute, 39 Second

Seputar Lafal Atubu Ilaih dan Atubu Ilaik pada Istighfar – Aspiratif News

Istighfar Ialah mashdar dari fi’il madli istaghfara-yastaghfiru-istighfarun ikut wazan istaf‘ala-yastaf‘ilu-istif‘alun dari tsulasi mujarrad ghafara. Tambahan hamzah washal, sin dan ta li thalab al-fi’li dalam kamus al-Bisyri artinya mencari, meminta. Imam Nawawi mengartikannya memohon ampun. As-sinu ath-thalab (huruf sin memperlihatkan makna meminta/memohon) (Syekh Nawawi, al-Adzkar, Semarang: Pustaka ‘Alawiyah, hal. 29).


Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menguping orang menyuruh beristighfar, artinya memohon ampun atas segala kekhilafan yang diperbuat sebagai bukti tobat untuk Allah subhanahu wata’ala. Banyak versi lafal istighfar sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama. Artikel ini tidak akan membahas lafal istighfar berdasar ragam redaksinya, tapi cuma pada lafal atubu ilaih dan atubu ilaik (saya bertobat kepada-Nya dan saya bertobat kepada-Mu).


Sekilas ke-2 lafal ini amat simpel dan sederhana, akan tetapi pada kenyataannya masih ada sebagian yang bingung pemanfaatan yang pas antara keduanya. Kapan mempergunakan atubu ilaih dan kapan mempergunakan atubu ilaik.


Kiranya Penting menuliskan ke-2 lafal istighfar secara komprehensif agar dapat memahaminya dengan mudah.


Ke-1, atubu ilaih.


Rasululah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bersabda:

واللهِ إِنيْ لَأستغفراللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أكثر من سبعين مرةً (رواه البخاري)


“Untuk Allah sesungguhnya saya memohon ampun untuk Allah, dan bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali dalam sehari semalam” (HR Al-Bukhari).

READ  Reuni 212 diakui Wakili Ummat Islam, Teddy Gusnaidi Kritik Elit PKS: Ngawur Kok Kelamaan!


Jikalau ditinjau dari segi bahasa  أستغفراللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ, lafal Allah Ialah maf’ul atau objek dari fi’il (kata kerja) أستغفر (saya memohon ampun). Adapun hu (baca hi) pada lafal ilaihi Ialah dlamir (kata ganti) dari lafal Allah yang memperlihatkan ghaib. Sehingga dalam mengartikan mempergunakan kata “Nya”.

Ke-2, atubu ilaik.


Lafal ke-2 sering dibaca sebagai penutup doa kafaratul majelis, penutup doa sesudah wudlu dan sebagainya. Syekh Nawawi dalam al-Adzkar menutup doa sesudah wudlu dengan istighfar:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إليك


“Saya bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Allah). Saya memohon ampun dan berobat kepada-Mu.”


Kata anta pada lafal لا إله إلا أنت artinya Engkau, yang memperlihatkan terjadinya seakan  bahwa Allah Ada di hadapa hamba-Nya. Atau dalam bahasa Arab dikenal dengan dlamir mukhathab (objek yang diajak bicara). Dengan seperti ini kata ganti yang pas ialah “ka” (yang artinya -Mu). Sehingga أستغفرك  diartikan saya memohon ampun kepada-Mu dan أتوب إليك  saya berobat kepada-Mu.


Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan jika lafal istighfar menyebutkan lafal Allah, أستغفراللهَ, maka di akhir istighfar mempergunakan dlamir hu, وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ.. Jikalau pada lafal istighfar dlamir ka, أستغفرك , maka distop dengan dlamir ka jadi  وأتوب إليك.

READ  Klaster Baru Tingkatkan Risiko Gelombang Ke-2 - Aspiratif News

Konsekuensi atubu ilaih dan atubu ilaik

Kata atubu Ialah fi’il mudhari’ dari madli taba-atubu, artinya saya bertobat. Siapa pun yang mengucapkan lafal istighfar dengan distop atubu ilaik atau atubu ilaih artinya seseorang telah Mempublikasikan diri bertobat atas segala kesalahannya. Dan jika ternyata masih mengulangi perbuatan celanya kembali maka ia telah berdusta. Pernyataan ini dapat dilihat dalam al-Adzkar Syekh Nawawi halaman 30, sebagai berikut:

 ولو غير متلبس بها واستشكل بانه كذب ويجاب بانه خبر بمعنى الانشاء أي أسالك أن تتوب عليّ أو هو باق على خبريته والمعنى انه بصورة التائب الخاضع الذليل


“Walaupun sesungguhnya belum bertobat (dalam pengamalannya), maka timbul kejanggalan bahwasanya itu Ialah suatu kedustaan. Tetapi kejanggalan itu dapat dijawab bahwasanya lafal وأتوب إليك Ialah hitungan total khabariyah (kalimat informatif) yang bermakna insya’ (imperatif, doa). Sehingga, lafal وأتوب إليك diartikan “Ya Allah saya memohon semoga Engkau berkenan mengampuniku”. Atau, lafal وأتوب إليك tetap jadi hitungan total khabariyah sehingga وأتوب إليك diartikan layaknya seperti orang-orang yang sungguh-sungguh tobat, tunduk dan pasrah, berserah diri untuk Allah” (Syekh Nawawi, al-Adzkar, Semarang: Pustaka ‘Alawiyah, hal. 30).

 

 

Dapat dipahami bahwa lafal وأتوب إليك yang artinya “Saya bertobat untuk Engkau (Allah)” mempunyai 2 makna beserta konsekuensinya berdasar kehendak orang yang melafalkannya. Jikalau yang dikehendaki dari وأتوب إليك bermakna insya, sebagaimana dijelaskan di atas,  maka orang yang melafalkan tidak dianggap berdusta walaupun dalam aplikasinya ia masih berbuat maksiat untuk Allah. Tidak sama dengan yang ke-2, jika lafal وأتوب إليك dinisbatkan untuk makna khabariyah, maka yang melafalkan wajib sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan perbuatan celanya. Ia akan dianggap mendustai Allah apabila ternyata masih melakukan dosa dan maksiat kepada-Nya.

READ  Meneladani Rekonsiliasi Cucu Nabi


Dalam syarah Sunan an-Nasai dari Rabi’ bin Khutsaim, beliau menerangkan:

لا يقل أحدكم أستغفراللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فيكون ذنبا وكذبا إن لم يفعل بل يقول اللهم اغفرلي وتب علي


“Janganlah bagian dari Anda seluruh semua menerangkan  أستغفراللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْه, karena hal ini Ialah dosa dan kebohongan jika tidak menjalankannya.  Akan tetapi katakanlah اللهم اغفرلي وتب علي (Ya Allah ampunilah saya dan terimalah tobatku. (Syekh Ali bin Adam bin Musa, Dakhirah al-‘Uqba Fi Syarhi al-Mujtaba, juz 13, hal.  153).


Terlepas dari makna khabariyah maupun insya, istighfar Ialah bentuk permintaan ampun untuk Allah sebagai wujud legitimasi atas dosa-dosa dan bertekad untuk meninggalkannya. Waktu sudah mengikrarkan istighfar, maka yang Penting ditunaikan ialah mengaplikasikan ikrarnya dalam perbuatan, dengan berusaha menjauhi maksiat untuk Allah subhanahu wata’ala.

 

Jaenuri, Guru besar Fakultas Agama Islam UNU Surakarta

Seputar Lafal Atubu Ilaih dan Atubu Ilaik pada Istighfar – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *