Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan – Aspiratif News

Views: 13
Read Time:4 Minute, 47 Second

Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan – Aspiratif News

Benarkah Tuhan itu ada? Ini ialah pertanyaan beberapa orang yang meragukan keberadaan Tuhan sebab eksistensi Tuhan tidak dapat diobservasi dan tidak dapat pula dideteksi keberadaannya melalui serangkaian alat-alat modern. Mencari Tuhan dengan metode empiris seperti itu takkan membuahkan hasil sebab Tuhan itu sungguh ghaib, wujudnya sama sekali tidak dapat diakses atau diindra. Karena itulah, untuk membuktikan keberadaan Tuhan bukan dengan melakukan serangkaian tes yang bersifat indrawi tetapi dengan penarikan kesimpulan yang bersifat rasional.

 

Bila kita melihat jagat raya ini, kita lihat semuanya punya garis merah yang sama, yaitu semua serba berubah. Tidak ada yang tidak berubah di jagat raya ini, bahkan hal yang kita sangka tidak pernah berubah pun ternyata berubah seiring waktu. Semua hal mengalami masa sebelum, tengah, dan sesudah. Semua berubah dari 1 kondisi ke kondisi lainnya. Bila seperti ini, maka dengan pasti kita tahu bahwa segala yang ada di jagat raya ini punya permulaan.

 

Seperti halnya kita tidak tahu kapan Jiran kita lahir, akan tetapi kita tahu pasti bahwa dia punya tanggal lahir. Kita juga tidak tahu dengan pasti kapan planet ini dan segala isinya diciptakan, tapi kita tahu dengan pasti bahwa ia ada awal mulanya. Seperti ini juga dengan seluruh bintang, planet, galaksi, atau apa pun namanya, bagaimanapun bentuknya, kita tahu dengan pasti bahwa semuanya berawal dari sebuah titik yang mengubahnya dari kondisi tidak ada jadi ada.

 

Kecuali itu, kita lihat bahwa segala yang ada di dunia ini juga punya sifat dan karakter spesial; benda-benda besar di jagat raya mempunyai gaya tarik yang kita menyebut gravitasi, api mempunyai karakter membakar, es mempunyai karakter dingin, batu mempunyai karakter keras dengan bentuk tertentu, gelombang punya karakter merambat dan menembus, air punya karakter cair, dan begitu juga pohon, udara, dan segala makhluk hidup punya karakternya masing-masing. Segala karakter ini pun saling melengkapi dan membentuk sistem kehidupan yang saling menopang 1 sama lain. walau kita tidak tahu dengan detail bagaimana semua itu terbentuk, tapi kita dapat memastikan bahwa seluruh sifat dan karakter itu dibentuk dan didesain dengan full kesadaran oleh aktor yang Ada di luar jangkauan kita sebab mustahil hal yang begitu rumit terjadi dengan sendirinya dan membentuk sistem yang begitu hebatnya.

 

READ  Labor Institute Minta seusai Lebaran Buruh Ikut Rapid Test - Aspiratif News

Waktu melihat keberadaan dinding dari batu bata di tengah hutan, kita dapat menyimpulkan dengan pasti bahwa dinding itu didesain dan dibuat oleh suatu makhluk berkesadaran, bukan oleh angin, air, panas mentari, pohon-pohon atau gempa bumi. Padahal susunan dinding batu bata amat sederhana, tetapi akal kita Tidak mau waktu ada yang menerangkan bahwa dinding itu tercipta dengan sendirinya. Maka bagaimana mungkin kita sanggup menerangkan bahwa jagat raya ini ada dengan sendirinya?

 

Bila seperti ini, maka sampailah kita pada pertanyaan paling penting, siapakah aktor yang membikin semuanya ada dari tiada? Siapa yang merancang dan membentuk seluruh karakter yang kita lihat di saban hal di jagat raya ini? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan ialah Tuhan. Walaupun kita tidak pernah melihatnya, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan itulah penyebab Utama dari segala keberadaan di alam semesta. Keberadaannya ialah pasti dan tidak dapat didebat lagi.

 

Keberadaan Tuhan inilah yang disebut para ulama sebagai “wajibul wujud“, keberadaan yang pasti, mesti, dan tidak dapat disangkal. Adapun keberadaan selain Tuhan sifatnya cuma “mumkinul wujud“, ialah sesuatu yang keberadaannya relatif dalam arti dapat saja ada dan boleh juga tidak ada. Tidak ada argumentasi yang memastikan bahwa kita ini mesti ada, planet ini mesti ada, dan segala hal di semesta mesti ada. Tetapi Tuhan mesti ada sebab keberadaannya Ialah keniscayaan dari seluruh keberadaan hal lain yang sudah ada ini. Inilah yang membedakan antara keberadaan Tuhan dan keberadaan selain Tuhan. Walaupun semua sama-sama ada, tapi pada hakikatnya keberadaan keduanya jauh tidak sama.

 

READ  Habib Umar bin Hafidz Makan Makanan Sisa Santrinya - Warta Batavia

Lalu siapa yang mencipta Tuhan dan memberikan karakter ketuhanan pada-Nya? Ini pertanyaan konyol yang cuma akan membikin lingkaran tidak berujung yang pasti mustahil. Waktu kita melihat orang lain, kita tahu bahwa dia punya bapak, bapaknya punya bapak dan seperti ini seterusnya tapi haruslah ada ujung dari semua rantai kebapakan itu di mana ujung rantai itu tidak punya bapak lagi. Bapak paling tua itu yang lewat bocoran wahyu kita kenal sebagai Adam. Seperti ini juga seluruh hal lainnya mesti punya ujung ke-1 di mana ujung ke-1 itu tidak berasal dari apa pun. Yang paling ujung dari semua penciptaan ialah Tuhan dan pastilah Tuhan itu sendiri tidak diciptakan, tidak didesain, tidak disusun, tidak dibentuk, dan sungguh sudah ada tanpa awal mula.

 

 

Andai dipaksakan bahwa ada lingkaran penciptaan yang tidak berujung sampai ke belakang di mana Tuhan diciptakan oleh sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain itu juga diciptakan oleh sesuatu sebelumnya secara terus-menerus tanpa ada ujungnya, maka seharusnya alam semesta takkan tercipta. Logikanya, bila penciptaan semesta ini tergantung pada keberadaan Tuhan sedangkan keberadaan Tuhan itu pun juga Mengandalkan pada keberadaan Tuhan lain sebelumnya dan terus seperti ini, maka pasti alam semesta belum ada sebab keberadaannya Mengandalkan pada lingkaran yang tidak pernah berhenti. Tatkala kita lihat alam semesta ada, itu artinya ada ujung paling akhir yang berperan menentukan segalanya. Ujung paling akhir itulah yang absah disebut Tuhan, Sang Pencipta segalanya.

 

READ  Menlu: Indonesia Akan Tingkatkan Sokongan untuk Palestina di 2020 - Aspiratif News

Penjelasan di atas ialah penjelasan universal yang  dapat dipahami seluruh manusia di mana pun, apa pun agamanya, dan apa pun bangsanya. Ini ialah kebenaran rasional yang dapat diketahui oleh semua orang berakal. Dengan penjelasan semacam inilah para ulama berkomunikasi dengan semua orang dari semua penjuru dunia dengan bermacam back-ground yang tidak sama. Bahasa universal inilah yang dapat dipercayai kebenarannya oleh seluruh manusia sebab bukan berdasar dogma atau legitimasi apa pun yang sifatnya subjektif.

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

 


Silakan simak pula seri komprehensif kajian Aqidatul Awam, kitab dasar soal aqidah, di saluran Youtube Aspiratif News.

Sifat Wujud: Membuktikan Keberadaan Tuhan – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *