Connect with us

Edukasi

SIMAK! Cara Melihat Hilal Menentukan 1 Syawal

Published

on

JAKARTA, ASPIRATIF.com – Di Indonesia dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, pemerintah menggunakan metode pengamatan hilal sebagai dasar penentuannya. Lantas apabila saat melakukan pengamatan, hilal tidak tampak, maka bulan (kalender) digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Hilal merupakan bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam.

Hal tersebut sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW, yang mempunyai arti:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Advertisement

Lalu bagaimana cara melihat hilal? Berikut penjelasannya

Cara Melihat Hilal

Dalam situs Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, rukyatul hilal diartikan sebagai suatu cara melihat dan mengamati hilal langsung. Pengamatan dilakukan pada hari ke 29 atau malam ke 30 pada bulan tertentu.

Adapun hilal merupakan bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru. Untuk melihat hilal dengan mata telanjang sangat sulit lantaran bias dengan cahaya matahari atau gelap bila sedang mendung.

Dalam buku Rukyah dengan Teknologi oleh Farid Ruskanda dkk, untuk melihat hilal, ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:

Advertisement

1. Tanpa alat, yaitu melihat penampakan hilal atau bulan sabit dengan mata telanjang.

2. Dengan alat bantu dan dilakukan oleh satu atau beberapa orang yang adil.

Jika hilal terlihat, yang biasanya dibantu teleskop, maka pada malam itu dimulai tanggal satu bulan baru. Namun jika hilal tidak, maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan).

See also  Simak, Jadwal Supermoon Tahun 2024

Dalam melihat hilal perlu saksi atau orang hal ini untuk memperkuat hasil pengamatan. Saksi dibagi kedalam dua kategori dikutip dari pedoman pelaksanaan dan tata cara pelaksanaan istbat rukyatul hilal yang ditulis oleh Drs. H. Arfan Muhammad, S.H., M.Hum. dijelaskan bahwa:

1. Saksi dimaksud adalah seseorang atau beberapa orang yang megetahui langsung, melapor melihat hilal dan diambil sumpahnya oleh hakim. Saksi yang melihat hilal dan melapornya disebut syahid/perukyat.

Advertisement

2. Sedang 2 (dua) orang dimaksud adalah orang yang menjadi saksi dan menyaksikan seseorang atau beberapa orang yang melapor dan mengetahui proses pengangkatan sumpah oleh hakim.

Jadi yang dimaksud Syahadah kesaksian rukyat hilal adalah saksi nomor 1 tersebut.

Sementara syarat menjadi seorang saksi atau syahid atau perukayatul hilal diantaranya, Aqil baligh atau sudah dewasa, beragama Islam, Laki-laki atau perempuan, sehat akalnya, mampu melakukan rukyat, jujur adil dan dapat dipercaya.

Selain syarat itu, ada juga syarat yang mengharuskan jumlah perukyat lebih dari satu orang, mengucapkan sumpah kesaksian rukyat hilal, sumpah kesaksian rukyat hilal di depan sidang Pengadilan, Agama/Mahkamah Syar’iyah dan dihadiri 2 (dua) orang saksi.

Apabila syarat tersebut sudah terpenuhi maka proses selanjutnya adalah dengan perukyat menerangkan sendiri dan melihat sendiri dengan mata kepala maupun menggunakan alat, bahwa ia melihat hilal.

Advertisement

Kemudian perukyat mengetahui benar-benar bagaimana proses melihat hilal, yakni kapan waktunya, dimana tempatnya, berapa lama melihatnya, dimana letak, arah posisi dan keadaan hilal yang dilihat, serta bagaimana kecerahan cuaca langit/horizon saat hilal dapat dilihat.

Serta keterangan hasil rukyat yang dilaporkan oleh perukyat tidak bertentangan dengan akal sehat, perhitungan ilmu hisab, kaidah ilmu pengetahuan dan kaidah syar’i.

See also  Lembaga Pendidikan Tidak Dipakai 'Kampanye Politik'

Setelah syarat – syarat itu terpenuhi semua, maka langkah selanjutnya setelah melihat hilal adalah menentukan awal bulan dalam sidang istbat. Demikianlah ulasan mengenai cara melihat hilal hingga syarat menjadi seorang syahid atau perukyat hilal.

Dok : (Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Advertisement
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *