jumatan-696x348.jpg

Sisi Lain Sejarah Shalat : Memperingati Isra’ Mi’raj

Diposting pada

Dokumen ini akan melanjutkan poin terakhir dari kolom sebelumnya tentang dua frase Syahadat. Artinya, seperti agama lain, Islam muncul dan berkembang secara bertahap. Agama adalah sistem yang sedemikian kompleks sehingga tidak mungkin menemukan bentuk yang pasti dan pasti dalam sekejap, tidak terkecuali doa.

Memang, banyak Muslim percaya bahwa Islam adalah pengecualian. Segala sesuatu yang dipraktikkan saat ini sudah seperti ini sejak zaman Nabi SAW. Tidak kurang dan tidak lebih. Alasannya sederhana: inilah yang kita dapatkan dari membaca sumber-sumber tradisional.

Ada kelompok lain yang menekankan keunikan Islam: Islamofobia. Mereka menganggap Islam sebagai pengecualian, tidak seperti agama lain. Bahkan, mereka meragukan Islam adalah agama yang mereka pahami. Kalau ada agama, Islam adalah agama asing. Dimana-mana penganutnya melakukan penyerangan dan kekerasan.

Kedua kelompok tersebut di atas bermula dari motivasi yang berbeda dan menggunakan paradigma yang berbeda. Namun, keduanya disatukan oleh satu faktor: keduanya ahistoris. Terkait dengan asumsi bahwa Islam pada dasarnya adalah kekerasan, klaim bahwa segala sesuatu yang kita ketahui tentang Islam saat ini telah diselesaikan sejak zaman Nabi tidak didasarkan pada bukti sejarah.

Mengambil kasus sejarah shalat, artikel ini bermaksud untuk menempatkan Islam pada tataran sejarah humanistik. Kita membutuhkan Islam “manusia”. Seperti agama lain, Islam muncul dalam sejarah manusia. Itu muncul dan berkembang perlahan.

Tradisi dan Adzan

Kritik terhadap penulisan asal usul kedua frase syahadat pasca nubuatan tersebut adalah kurangnya penggunaan sumber-sumber Muslim yang sama. Argumen penulisan didasarkan pada data numismatik dan arkeologi. Kritik itu benar.

Karena keterbatasan ruang, saya hanya mengacu pada koin dan penggalian arkeologi. Saya tidak menyebut nama kitab atau cerita ulama sebelumnya. Namun, harus diakui juga bahwa koin-koin tersebut dikeluarkan oleh khalifah Muslim. Oleh karena itu, data numismatik tidak bisa dikatakan sebagai tradisi non-Muslim.

Untuk mengatasinya, artikel ini akan mengangkat sepenuhnya tradisi Islam dalam arti buku dan dongeng yang bisa dicari dari sumber-sumber tradisional Muslim. Hal yang ingin kami kembangkan adalah aspek ibadah secara bertahap dapat dilihat pada karya-karya umat Islam mula-mula itu sendiri.

Baca Juga :  Link Token Listrik Gratis November di www.pln.co.id, Buruan Ambil!

Misalnya tentang adzan. Kita semua tahu, ketika datang ke waktu sholat, adzan menggema dari setiap masjid, di mana pun. Itu adalah warisan dari generasi ke generasi. Sesuatu yang diterima begitu saja. Kami tidak bertanya lagi (atau mungkin tidak perlu bertanya), kapan azan dimulai? Apakah kata-kata sudah seperti ini sejak zaman Nabi? Bahkan kita tidak pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa disebut azan?

Jika kita membuka kitab hadits, kita akan menemukan dua istilah yang digunakan untuk menggambarkan adzan: adzan dan nida ‘. Yang terakhir berasal dari kata “nada”, yang artinya memanggil. Kedua kata (adzan dan nida ‘) digunakan secara bergantian.

Perlu dicatat bahwa kata “adzan” tidak digunakan dalam Quran dalam arti panggilan untuk sholat. Istilah yang digunakan dalam Alquran adalah nida ‘. Cobalah membaca Surah al-Jumu’ah (62) ayat 9: idza nudiya li al-shalati min yaum al-jumu’ati (ketika nida ‘diucapkan untuk shalat Jumat).

Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa Nabi sendiri menggunakan kata nida ‘, bukan adzan, sebagai adzan. Dan Bilal disebut munadi, bukan mu’addzin. Mengapa kita tahu bahwa azan disebut adzan, non nida ‘? Mengapa nida ‘tidak lagi digunakan?

Untuk memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan di atas, diperlukan penelitian yang lebih luas. Namun, hampir dapat dipastikan bahwa panggilan adzan datang setelah Alquran.

Sejarawan al-Maqrizi, dalam kitab Khithath, menyebutkan beberapa catatan oleh al-Baladuri dan al-Waqidi bahwa adzan pada masa Nabi harus diawali sholat, seperti iqamah sekarang. Bukan panggilan untuk berdoa. Utsman dikatakan telah membaca adzan di hadapan Nabi (baina yadai rasul Allah) di dekat mimbar. Ini berbeda dengan adzan seperti yang kita rasakan saat ini.

Jika ditanya, kapan fiksasi adzan yang kita saksikan ini akan berlangsung? Pertanyaan historis “kapan” tentu sulit dijawab. Dari contoh di atas kita dapat menarik kesimpulan tentatif bahwa proses fiksasi adzan terjadi secara bertahap. Dengan kata lain, azan – apakah itu disebut, lafaz atau ketika diucapkan – tidak ditetapkan pada masa Nabi.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Raih Gelar Doktor Honoris Causa Berkat Gaya Kepemimpinan Humanis, Jokowi: Gemilang

sholat Jumat

Aspek ritual sebagai cetak biru yang tidak definitif (selesai) atau tidak kekal pada zaman Nabi terlihat lebih jelas pada kasus shalat Jum’at. Ada kisah menarik yang dikisahkan sejarawan Ibn Sa’ad dalam kitab al-thabaqat al-Kabir. Berikut kutipan lengkapnya:

Mus’ab bin Umair mengirimkan surat kepada Rasulullah SAW meminta izin untuk melaksanakan sholat berjamaah di Madinah. [sebelum Nabi hijrah]. Nabi menjawab surat Mus’ab dan memberinya izin: “Pilih hari [untuk salat jamaah] tempat orang Yahudi mempersiapkan Sabat mereka [maksudnya, hari Jum’at]. Ketika matahari sudah lewat tengah hari, hadapi Allah dengan dua rakaat dan kemudian menyampaikan khutbah di hadapan mereka (ukhthub fihim), ”tulis Nabi.

Maka Mus’ab shalat berjamaah di kediaman Sa’ad bin Khaitsamah. Dua belas orang hadir saat itu dan dia hanya menyembelih seekor kambing [untuk memberi mereka makanan] di hari itu. Mus’ab adalah orang pertama yang melakukan sholat Jum’at dalam sejarah Islam. ”

Banyak hal menarik yang bisa kita bahas dari kisah Ibn Sa’ad di atas. Misalnya penyampaian khutbah usai shalat Jumat. Sebagaimana tertuang dalam teks kutipan di atas, Mus’ab diperintahkan oleh Nabi untuk melaksanakan shalat dua rakaat pada hari Jum’at berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Amalan shalat Jum’at berbeda dengan yang kita kenal sekarang: pertama dengan dakwah dan kemudian dengan shalat dua rakaat berjamaah. Bisakah kita melacak shalat Jumat kita kembali ke zaman Nabi? Kisah Mus’ab ini memberikan gambaran yang berbeda. Mungkin sebagian dari kita meragukan keaslian cerita Mus’ab. Baik. Namun, keraguan tentang historisitas juga berlaku untuk hubungan lainnya.

Sarjana hadis Juynboll mengumpulkan sejumlah laporan yang mengklaim bahwa khulafa ‘Umayyah menganggap tidak praktis untuk melakukan khotbah setelah shalat Jumat. Apakah ini berarti bahwa bentuk shalat Jumat (dakwah pertama, kemudian shalat) berawal dari era Umayyah? Saya tidak menemukan bukti konkret.

Baca Juga :  PPP Ingatkan SBY Tak Kaitkan Jokowi dengan Isu Kudeta PD

Menariknya, para penguasa Umayyah kerap dituding mengangkat hal-hal “sesat” yang tidak diajarkan Nabi. Al-Qasthalani di Irsyad al-sari fi syarh shahih al-bukhari mengatakan dia ingin sholat Idul Fitri dilakukan seperti sholat Jum’at. Artinya, khotbah pertama kemudian dibacakan. (Atau mungkin yang awalnya terjadi adalah bahwa “Idul Fitri dan sholat Jum’at diawali dengan dua raka’at dan dilanjutkan dengan dakwah. Baru belakangan ini kedua shalat tersebut dilaksanakan secara berbeda. Karena” Umayyah khulafa menganggapnya sebagai khutbah Jum’at “. setelah shalat tidak praktis karena jamaah cenderung bubar setelah shalat).

Memang, jika kita membaca tradisi Islam dengan cermat dan detail, kita akan tahu bahwa pertanyaan tentang sholat Jum’at tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tidak ada indikasi dalam Alquran tentang komponen khotbah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian orang menganggap khutbah bukan bagian dari shalat Jumat.

Al-Kasani, seorang ulama Hanafi, memberikan penjelasan menarik tentang kisah kedua khotbah tersebut. Dalam kitab Badai ‘al-shanai’, Kasani mengatakan bahwa Nabi pernah berdakwah. Namun, seiring bertambahnya dan tidak bisa bertahan lama, Nabi duduk di antara dua khotbah.

Oleh karena itu, kesepakatan ulama bahwa khutbah Jumat dua kali tidak didasarkan pada pemahaman historis yang memadai tentang konteks amalan Nabi.

Al-Mus’abi dari mazhab Ibadi menelusuri praktik dua khotbah Jumat ke era pasca-Nabi. Dalam Kitab al-nil, Mus’abi mengatakan dua khotbah Jum’at diperkenalkan oleh Muawiyah. Dalam kisah lain, Utsman mempraktikkan hal ini saat ia semakin tua.

Pada poin ini jelas bahwa beberapa sumber Muslim sendiri menunjukkan shalat sebagai proyek yang belum menemukan bentuk yang pasti di zaman Nabi.

Mun’im Sirry

Sumber: https://panrita.id/2019/03/05/sisi-lain-sejarah-shalat-memperingati-isra-miraj/?

(Warta Batavia)

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *