Surat An-Nisa Ayat 1 (1) – Aspiratif News

Surat An-Nisa Ayat 1 (1)
Views: 1761
Read Time:5 Minute, 32 Second

Surat An-Nisa Ayat 1 (1) – Aspiratif News

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Yā ayyuhan nāsut taqqū rabbakumulladzī khalaqakummin nafsin wāhidatin wa khalaqa minhā zaujahā wa batstsa minhumā rijālan katsīran wa nisā’a. Wattaqullāhal ladzī tasā’alūna bihī wal arhām.


Artinya, “Wahai manusia, bertakwalah ke Tuhan Anda seluruh yang telah menciptakan Anda seluruh dari jiwa yang 1; yang telah menciptakan darinya istrinya; dan telah menyebarkan dari keduanya (nasab) laki-laki dan perempuan yang banyak. Takutlah Anda seluruh ke Allah Zat yang dengan-Nya Anda seluruh beradu janji dan takutlah Anda seluruh memutus silaturrahim. Sungguh Allah ialah Zat yang maha mengawasi Anda seluruh.”

Ragam Tafsir

Menurut Imam Abu Ja’far at-Thabari (224-310 H/839-923 M) maksud frasa: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ “Wahai manusia, bertakwalah ke Tuhan Anda seluruh yang telah menciptakan Anda seluruh dari jiwa yang 1”, ialah takutlah Anda seluruh wahai manusia ke Tuhan Anda seluruh.


Takut untuk menentangnya dalam perintah dan larangannya, sehingga menyebabkan siksa-Nya yang tiada kira menimpa Anda seluruh. Kemudian Allah menyifati zat-Nya bahwa cuma Dia yang menciptakan seluruh manusia dari 1 jiwa dengan:


(1) memberitahukan ke para hamba-Nya bahwa sesungguhnya awal mula penciptaan dirinya cuma dari 1 jiwa, serta Mengingatkan ke mereka bahwa


(a) seluruh manusia Ialah 1 nasab dari seorang ayah dan ibu, yaitu Nabi Adam ‘alaihis salam dan Hawa,

READ  Basmi Kelompok Radikal, kiai Lukman Hakim: Arogansi Simbol Agama Mesti Dicegah


(b) Mengingatkan bahwa hak sebagian mereka atas sebagian lainnya ialah wajib dijaga sebagaimana seorang saudara wajib menjaga hak saudara lainnya, sebab semua manusia terkumpul dalam nasab seayah dan seibu,


(c) Mengingatkan bahwa kewajiban saling menjaga antara 1 dengan lainnya walaupun perjumpaan nasab ke Nabi Adam ‘alaihis salam amat jauh, tetapi hukumnya sebagaimana dengan kewajiban saling menjaga antara kerabat yang dekat nasabnya;


(2) dengan menghubungkan antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain agar saling berbuat adil dan tidak saling berbuat zalim, serta agar orang yang kuat membantu orang yang lemah dengan cara-cara yang baik sesuai yang diharuskan oleh Allah kepadanya. (Abu Ja’far at-Thabari Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, [Beirut, Muassasah ar-Risalah: 1420 H/2000 M], tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, juz V, halaman 512-514).


Menurut Imam Ahmad as-Shawi (1175-1241 H/1761-1852 M) frasa: يَا أَيُّهَا النَّاسُ “Wahai manusia”, Ialah khitab atau firman Tuhan bagi seluruh mukallaf, laki-laki maupun perempuan, manusia maupun jin—karena pahala yang diperuntukkan manusia juga dianugerahkan ke jin dan siksa yang diterapkan ke manusia juga diterapkan ke mereka—. Ayat ini juga tidak turun spesial untuk orang yang hidup pada waktu ayat turun, karena kaidah: al-‘Ibrah bi ‘umuumil lafzhi la bi khushushis sabab, “yang dipertimbangkan ialah keumuman cakupan teks, bukan spesial untuk penyebab turunnya ayat .”


Kecuali itu menurutnya, frasa الَّذِي خَلَقَكُمْ … mengandung isyarat bahwa ketakwaan itu juga berhubungan dengan hak sebagian orang dengan sebagian lainnya, karena semua berasal dari 1 jiwa yaitu Nabi Adam ‘alaihis salam. Karenanya, ketakwaan yang wajib kita jaga ialah: (1) ketakwaan ke Tuhan karena Dia yang telah menciptakan kita; dan (2) ketakwaan yang berhubungan dengan menjaga hak antara orang yang 1 dengan lainnya, karena semuanya berasal dari asal yang 1 yaitu Nabi Adam ‘alaihis salaam. (Ahmad bin Muhammad as-Shawi, Hasyiyyah as-Shawi ‘ ala Tafsir al-Jalalain, [Beirut: Dar al-Fikr, 1424 H/2004 M], editor: Shidqi Muhammad Jamil, juz I, halaman 266).

READ  Masih Bekerja Datar Waktu Pandemi, Presiden Minta Para Menteri Buat Terobosan Baru - Aspiratif News


Sementara berhubungan dengan frasa: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ “Wahai manusia, bertakwalah ke Tuhan Anda seluruh yang telah menciptakan Anda seluruh dari jiwa yang 1”, Imam Fakhruddin ar-Razi (544-606H/1150-1210 M) Mempublikasikan, bahwa kondisi spesial di mana Allah subhaanahu wa ta’aala Ialah Zat yang menciptakan kita dari 1 jiwa Ialah faktor yang karenanya kita wajib menaati segala perintah-Nya dan menjauhi dari bermaksiat kepadanya.


Banyak argumentasi yang dapat dipakai untuk menjelaskannya secara ideal. Di antaranya ialah, bahwa penciptaan seluruh manusia dengan bermacam keunikannya masing-masing dari asal 1 jiwa amat Jelas memperlihatkan kesempurnaan kuasa-Nya. Yaitu dari sisi andaikan penciptaan manusia terjadi berdasar proses thabi’i (alami) dan berdasar kekhasannya, maka semua nasab yang dilahirkannya semestinya juga akan amat mirip sifatnya, bentuknya, dan tabiat tahu sifat alaminya.


Karenanya, tatkala faktanya kita lihat masing-masing manusia ada yang berkulit putih, hitam, kemerah-merahan, dan kecoklat-coklatan; ada yang bagus dan ada yang buruk; ada yang tinggi da nada yang pendek; semua itu memperlihatkan bahwa Zat yang mengatur pennciptaan dan yang menciptakannya ialah Zat yang maha berbuat dan berkedaulatan full atau amat independen. Tidak ada tabiat alami yang mempengaruhi penciptaan makhluk, dan tidak ada ‘illat (sebab) yang mewajibkan atau mendesak penciptaannya. 

READ  Prabowo-Sandi dan Parpol Tidak Diundang di Ijtima Ulama 4, Kecewa Bos?


Tatkala penjelasan mendalam seperti ini jelas-jelas memperlihatkan bahwa Allah sebagai pengatur alam semesta Ialah Zat yang maha berbuat, yang maha berkedaulatan full, maha kuasa atas segala ciptaan-Nya, dan maha mengetahui segala detail pengetahuan yang ada, maka tidak diragukan lagi wajiblah kita untuk tunduk dan patuh ke bermacam tanggung jawab, perintah dan larangan-Nya.


Dari sini jadi amat terang benderang, bahwa perintah takwa dalam awal ayat: “Bertakwalah ke Tuhan Anda seluruh” amat support atau cocok dengan penciptaan manusia dari 1 jiwa yang disinggung dalam frasa setelahnya: “Yang telah menciptakan Anda seluruh dari jiwa yang 1.”


Pantas sekali manusia kita diperintahkan bertakwa ke Tuhan Sang Maha Pencipta, karena terbukti secara nyata kekuasaan-Nya. walau asalnya 1 jiwa, keturunannya jadi amat bermacam dan beraneka kelir. Itu tidak akan terjadi kecuali atas penciptaan Allah subhaanahu wata’ala Yang Maha Berkuasa. Wallaahu a’lam. (Fakhruddin Muhammad ar-Razi, Tafsir al-Fakhr ar-Razi, [Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun], juz IX, halaman 165).


Penulis: Ustadz Ahmad Muntaha AM

Editor: Alhafiz Kurniawan

Surat An-Nisa Ayat 1 (1) – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *