Tafsir-Surat-Al-Baqarah-Ayat-16.jpg

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 16

Diposting pada

Berikut kutipan dari Surat Al-Baqarah ayat 16 dan mengutip sejumlah tafsir terkait:

أولئك الذين اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهووهنهينا ربوحت تجالهدى فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهووهنهينا ربوحت تجارتهم وماهوهوهاهوهوهونتواهوهوهونتهوحت تجارتهم وهوهوهوهوهوهون

Ulā’ikal ladzīnasytarawud dhalālata bil hudā, fa mā rabihat tijāratuhum wa mā kānū muhatdīn.

Artinya, “Merekalah yang berbelanja di pinggir jalan dengan mengemudi, jadi pekerjaan mereka tidak beruntung. Mereka tidak tahu sama sekali.”

Variasi interpretasi

Imam Abu Ja’far At-Tabari dalam buku tafsirnya, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, membuka kajian Surat Al-Baqarah ayat 16 dengan mengajukan pertanyaan, bagaimana bisa orang munafik tersesat dengan pembimbingnya, padahal mereka adalah orang munafik yang tidak pernah beriman sama sekali sebelum kufr-nifaknya? Bagaimana mereka bisa memberikan saran yang luar biasa untuk belanja di luar jalan?

Padahal kita tahu bahwa yang dimaksud dengan “as-shira” adalah menerima sesuatu dan memberikan sesuatu yang lain sebagai balasannya. Adapun orang-orang munafik yang diatributkan oleh Allah, apakah mereka tidak pernah mendapat petunjuk sehingga tidak ada yang tertinggal dan diganti dengan kafir dan kemunafikan?

At-Tabari menjelaskan bahwa tafsir ulama memiliki pandangan yang berbeda tentang makna Surat Al-Baqarah ayat 16. Dia kemudian menyebutkan semua pandangan penafsir dan memilih yang menurutnya otentik. Ibn Abbas menafsirkan instruksi dalam ayat ini sebagai keyakinan dan bid’ah adalah kufur.

Ibnu Abbas, Ibn Mas’ud dan sejumlah sahabat Nabi menjelaskan bahwa orang-orang munafik memegang ajaran sesat dan meninggalkan petunjuk. Sementara itu, Qatada menjelaskan bahwa mereka lebih memilih error daripada panduannya.

Baca Juga :  Sesama Teroris, ISIS dan HTS Bertempur Dekat Perbatasan Suriah-Turki

Mujahid memahami bahwa dalam Surah Al-Baqarah ayat 16, orang-orang munafik beriman dan kemudian berpaling ke kufur.

Menurut At-Tabari, ulama yang menafsirkan ayat ini “dengan menahan bid’ah dan meninggalkan petunjuk” mengerti.as-syira“Dengan menjadikan produk yang dibeli dengan harga produk sebagai alat tukar.

Begitu juga orang-orang Quraish kafir dan orang-orang munafik Madinah dimana mereka mengisi tempat iman mereka dengan kufur. Iman dan petunjuk dijual untuk mendapatkan kekufuran dan bid’ah yang mereka pegang. Petunjuk yang mereka lepaskan adalah harga dari kesalahan yang mereka klaim.

At-Tabari juga menjelaskan tafsir ulama terhadap ayat ini dengan kesukaannya pada bid’ah. Namun, semua itu tidak bisa diterima karena mereka tidak pernah beriman sebelumnya. Menurut At-Tabari, tafsir yang lebih bisa diterima adalah pandangan Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud.

Menurut 2 sahabat Nabi ini, orang-orang munafik Madinah telah disesatkan dan meninggalkan petunjuk. Pasalnya, setiap orang yang tidak beriman kepada Allah adalah orang yang menggantikan keyakinan dengan kufur dengan memperjuangkan kufur yang ada sebagai pengganti keyakinan yang telah ditetapkan Allah.

Kedua sahabat rasul itu mendasarkan pandangannya pada Surat Al-Baqarah ayat 108, “Barangsiapa bertukar keyakinan dengan kufur, maka orang itu benar-benar menyimpang dari jalan yang benar.”

Inilah arti dari kata “as-syira“ATAU”isytarawud dhalālataKarena setiap orang yang membeli sesuatu mengubah posisi dari sesuatu yang diterima di tempat benda lain yang digunakan sebagai alat tukar.

Baca Juga :  Menhub Sudahi Operasi SAR Sriwijaya Air SJ182

Ini juga berlaku untuk orang-orang kafir Mekah dan orang-orang munafik Madinah. Keduanya bertukar tuntunan dengan bid’ah dan kemunafikan, lalu Allah menyesatkan mereka dan memalingkan cahaya dari mereka. Allah kemudian membiarkan mereka semua dalam kegelapan, tanpa melihat petunjuk apapun. (At-Tabari).

Imam At-Tabari menjelaskan bahwa, dengan melakukan pembelian yang salah dengan petunjuk, orang-orang munafik merugi, bukan mendapatkan keuntungan karena pedagang yang menguntungkan adalah pedagang yang menukar produknya dengan produk yang lebih berharga atau yang harganya lebih tinggi dari produk yang mereka beli. Pedagang yang memperdagangkan produknya dengan produk yang di bawah kualitas produknya atau dengan harga di bawah harga produknya tentunya adalah pedagang yang merugi dalam berbisnis.

Demikian pula halnya dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Mereka lebih menyukai kebingungan dan kebutaan daripada mengemudi dan mengemudi; dan ketakutan dan perhatian terhadap pengamanan dan keamanan.

Orang kafir dan munafik lebih suka kebingungan daripada mengemudi; takut daripada melindungi; dan masalah keamanan hidup jangka pendek di seluruh dunia. Pada saat yang sama, Allah telah menyiapkan siksaan yang keras dan menyakitkan bagi mereka di akhirat yang kekal. Mereka adalah pecundang dengan kebangkrutan yang jelas.

Ibnu Kathir dalam tafsirnya juga menyinggung keragaman pandangan dan tafsir yang berkaitan dengan Surat Al-Baqarah ayat 16. Ia menyimpulkan pendapat ulama tafsir sebelumnya bahwa orang munafik cenderung memilih bid’ah daripada membimbing. Mereka berbelanja dengan instruksi sebagai alat tukar. Demikian makna Surat Al-Baqarah ayat 16.

Baca Juga :  Kasus Suap-Gratifikasi Rp 83 M, Nurhadi Dituntut 12 Tahun Penjara

Begitu pula dengan munafikin yang tadinya beriman kemudian kembali ke kafir, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan Surah Al-Munafiqun ayat 3, “Hal ini terjadi karena benar-benar beriman, kemudian menjadi kafir lagi dan terhalang hatinya”. (Ibn Kathir).

Al-Baidhawi dalam buku tafsirnya, Asrarut Ta’wil wa Asrarut Tanzil, jelasnya, kata “tijārah“Itu upaya mencari untung dengan membeli dan menjual aset. Adapun”ar-ribhu“Atau keuntungan adalah kelebihan modal pokok.

“Mereka tidak memiliki petunjuk arah” di jalan tijarah atau jalan untuk berdagang untuk tujuan bisnis tijarah itu menghemat modal dan keuntungan. Mereka menyia-nyiakan 2 instruksi ini. Modal mereka sebenarnya adalah akal sehat atau akal sehat e fitrah salimah. Ketika mereka percaya pada bid’ah, kesediaan mereka untuk menerima tidak ada gunanya. Akal sehat mereka buruk.

Tidak ada yang tersisa dari modal mereka yang dapat menuntun mereka untuk mencapai kebenaran dan mencapai kesempurnaan. Mereka tetap dalam kondisi merugi, merelakan keuntungan dan kehilangan modal pokoknya. (Al-Baidhawi). Allah Maha Tahu.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Penerbit: Abdullah Alawi

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *