jemaah-salat-pakai-masker-diusir-696x392.jpeg

Ta’mir Masjid Bekasi dan Peremeh Masker

Diposting pada
Jemaah yang salat memakai masker diusir dari Masjid Ta'mir Bekasi dan Topeng Peremeh

Apa persamaan dan perbedaan masjid Ta’mir di kawasan Bekasi yang kemarin harus berhadapan dengan polisi karena melarang warganya memakai topeng, dan para netizen yang meremehkan penggunaan topeng karena meyakini konspirasi? teori?

Kesejajarannya jelas, kebingungan informasi yang mereka yakini membuat mereka membuat keputusan yang menyesatkan dan menyesatkan.

Bedanya, masjid ta’mir ini menambah salah tafsir Alquran, bahkan QS Ali Imran 96 yang dibicarakannya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan status masjid sebagai tempat yang aman, apalagi perlindungan dari penyebarannya. penyakit. .

Sementara itu, para netizen yang meremehkan topeng, mungkin bukan berdasarkan ayat suci, tapi disadari atau tidak, menjadi korban hoax dan teori konspirasi yang menganggap COVID19 hanyalah penyakit biasa dan tidak berbahaya. Bahkan seorang ahli teori konspirasi, Dr. Judy Mikovits, memiliki pendapat yang tidak masuk akal bahwa topeng tersebut dapat mengaktifkan virus.

Jika kita melihat kembali dialektika muslim dalam menyikapi COVID19 ini, mungkin ada sebagian yang menganggap masjid aman dari wabah penyakit. Mereka mencoba untuk mengandalkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Jika Allah menginginkan penyakit pada seseorang, maka Allah melihat ahli masjid, maka dia menjauhkan penyakit itu.”

Baca Juga :  RUU Pemilu Batal, Jokowi Ingin Gibran Maju Pilgub DKI 2024?

Namun, dalil ini dibantah oleh ulama dan tokoh Islam yang paham ilmu kesehatan. Pertama, hadits dianggap gharib dhaif. Kedua, konteks At Taubah 18 yang menyatakan bahwa “pedoman kesejahteraan masjid” bersifat spiritual, tidak terkait dengan kekebalan dari penularan penyakit, seperti COVID-19. Ketiga, cluster masjid COVID19 sebenarnya terletak di beberapa tempat, yaitu cluster masjid Jami Sri Petailing yang terkenal di Malaysia.

Ada juga yang menggunakan referensi hadits di mana Nabi melarang menutupi wajah saat shalat. Faktanya, dalam situasi normal, menutupi wajah saat sholat dihukum oleh beberapa ulama. Namun, dalam situasi tertentu, misalnya dalam situasi berdebu, hukum diperbolehkan. Atau bahkan wajib jika dalam situasi di mana penyebaran COVID19 dianggap berpotensi darurat.

Sehingga mereka masih berusaha mencari justifikasi atas intimidasi terhadap pengurus masjid kemarin atas dasar agama dan sains. Kemudian ikuti pendapat para ulama yang dilandasi oleh ilmunya yang baik dan juga sejalan dengan ilmu kesehatan. Selain itu, sudah ada peraturan pemerintah yaitu ulil amri yang mewajibkan masyarakat untuk mematuhi aturan kesehatan, termasuk memakai masker dan menjaga jarak.

Baca Juga :  Tahun Depan, Pembangunan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Rampung

Muhammad Jawi
Referensi:
https://www.nu.or.id/post/read/118855/benarkah-masjid-tempat-yang-aman-dari-wabah-penyakit-

https://republika.co.id/berita/qh4uvd320/benarkah-pakai-masker-saat-sholat-selama-pandemi-haram

Sumber: https://www.facebook.com/100007033081538/posts/3069942729916800/

(Warta Batavia

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *