Teks Al-Qur’an Tetap, Terjemahannya Dapat Berganti – Aspiratif News

Muchlis Hanafi: Teks Al-Qur’an Tetap, Terjemahannya Bisa Berubah
Views: 713
Read Time:3 Minute, 55 Second

Teks Al-Qur’an Tetap, Terjemahannya Dapat Berganti – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Al-Qur’an Ialah sumber primer bagi ummat Islam dalam memahami ajaran Islam selain hadits. Sebagaimana diketahui, bahasa yang dipakai pada Al-Qur’an ialah Bahasa Arab sehingga tidak semua orang dapat memahaminya secara langsung.


Dalam memberikan pemahaman ke masarakat awam, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Balitbang Kemenag RI telah mempublish Al-Qur’an terjemah yang waktu ini telah terbit edisi 2019.


Kepala LPMQ Muchlis M Hanafi Menyatakan, kebenaran Al-Qur’an itu absolut. Sebab, secara teks tidak pernah mengalami Pergantian, karena Ialah firman Allah. Adapun untuk terjemah Al-Qur’an yang Ialah hasil karya manusia itu dimungkinkan untuk terus disempurnakan.


“Oleh karena itu, terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama juga telah mengalami beberapa kali penyempurnaan,” ungkapnya dalam acara webinar terjemahan Al-Qur’an Kemenag RI bertema ‘Bedah Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan 2019’, Rabu (29/7).


Sampai waktu ini, Al-Qur’an terjemah yang diterbitkan oleh Kemenag telah mengalami 3 kali penyempurnaan. Tepatnya edisi ke-1 tahun 1989-1990 waktu akan dicetak oleh Mujamma’ Malik Fahd. Kemudian tahun 1998-2002.


“Edisi yang sampai waktu ini beredar di tengah masarakat itu ialah edisi penyempurnaan tahun 2002. Dari 2002 sampai 2016, kita mulai kembali penyempurnaan tahap ketiga,” ujar Muchlis.

READ  Subhanaallah !!! Keistimewaan Jadi Istri Solehah


menurut dia, Kemajuan dan penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Kemenag itu mempertimbangkan Kemajuan Bahasa Indonesia serta dinamika kehidupan masarakat.

Kemajuan bahasa

“Ini tentu dengan mempertimbangkan Kemajuan Bahasa Indonesia dan dinamika kehidupan. Ada banyak hal yang Penting kita akomodir. Karena itu berhubungan erat dengan pemahaman masarakat ke Al-Qur’an,” tukas doktor jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini.


Ia menjelaskan dengan tegas, penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an yang ditunaikan ini bukan artinya yang sebelumnya tidak benar. “Jikalau nanti ada yang menanyakan bagaimana dengan terjemahan yang lalu, apakah di-manshukh (dihapus dan digantikan dengan yang baru, red),” tegasnya.


Hal ini dibuktikan dengan masih beredarnya produk terjemahan edisi sebelumnya di tengah masarakat. “Saya rasa tidak. Dia akan tetap beredar. Cuma nanti akan ada pilihan bahwa sesuai dengan penyempurnaan tahap ketiga. Inilah yang kami pandang sudah lebih baik dari segi pemanfaatan bahasa maupun pilihan kata dan makna,” paparnya.


“Jadi, kita mencoba untuk menghadirkan kembali terjemahan ini yang lebih kontekstual, yang lebih mudah dipahami oleh masarakat muslim Indonesia waktu ini,” imbuh Muchlis.

READ  Gerhana: Sarana Ngiyataken Iman, Ibadah, lan Keikhlasan - Warta Batavia


Tidak cuma itu saja, dalam proses penyempurnaan terjemah Al-Qur’an ada problem yang muncul, ialah kerepotan dalam melakukan penyempurnaan terjemah yang sudah ada. “Tentu sebagai penerjemah, menyempurnakan terjemah yang sudah ada itu lebih sulit dibandingkan dengan menerjemahkan dari awal,” bebernya.


“Ini karena kita berhadapan pada problem yang amat mendasar, bahwa penerjemahan Al-Qur’an itu pada dasarnya Ialah proses dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Nah, pengalihbahasaan itu mesti sepadan, akurat, dan mesti masuk ke teks sasaran. Teorinya seperti itu. Tetapi dalam penerapannya ini sulit sekali,” tambahnya.


Dikatakannya, dalam menemukan terjemahan yang sepadan dengan bahasa sumber, dalam hal ini ialah bahasa Al-Qur’an Ada hambatan lain, ialah problem bahasa serta budaya yang tidak sama.


“Tentu ada perbedaan dalam problem bahasa, budaya. Ini hambatan yang kita hadapi dalam proses penyempurnaan,” ujar laki-laki yang juga Direktur Pusat Studi Al-Qur’an ini.

Problem kebahasaan

Senada dengan Kepala LPMQ, KH Abdul Ghafur Maimoen (Gus Ghafur) yang juga jadi bagian narasumber acara tersebut. menurut dia, ketidaksamaan antara bahasa sumber, dalam hal ini ialah Bahasa Al-Qur’an dengan bahasa sasaran, dalam hal ini ialah Bahasa Indonesia jadi problem Utama bagi penerjemah.

READ  Dortmund Relakan Kepergian Gotze Musim Depan - Aspiratif News


“1 bahasa tidak mungkin disamakan dengan bahasa lainnya dalam semua aspek. Artinya, bahasa Al-Qur’an itu tidak dapat disamakan dengan Bahasa Indonesia. Bahkan, unsur perbedaan tampak amat menonjol,” kata Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini.


“Penerjemah dipaksa memilih antara bahasa sumber atau bahasa sasaran. Kepentingannya itu Bahasa Arab-nya atau Bahasa Indonesia-nya. Ke-2 pilihan ini sama-sama tidak menyenangkan, karena ingin keduanya sama-sama terwakili,” lanjutnya.


Atas dasar itu, putra Almaghfurlah KH Maimoen Zubair ini menerangkan, terjemahan tidak mewakili sepenuhnya teks asli. Akan tetapi, lebih Ialah pemahaman atau pilihan ke sebagian makna teks asli yang lalu dituangkan ke bahasa sasaran.


“Jadi para pembaca terjemahan Kemenag ini jangan menganggap seperti apa yang telah beberapa kali disampaikan bahwa ini mewakili Al-Qur’an. Tidak seperti itu. Itu (terjemahan, red) cuma mewakili sebagian dari makna Al-Qur’an yang dapat dipahami oleh penerjemah. Seringkali, itu ialah pilihan dari bermacam pilihan yang akhirnya dipilih pada suatu makna tertentu,” jelasnya.


Kontributor: Ahmad Hanan

Editor: Musthofa Asrori


 

Teks Al-Qur’an Tetap, Terjemahannya Dapat Berganti – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *