Think-Tank-Australia-Sebut-China-Hancurkan-Ribuan-Masjid-di-Xinjiang.jpg

Think Tank Australia Menyebut China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

Diposting pada

Lembaga Think Tank Australia Mengabarkan, dalam 3 Tahun China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

SYDNEY – Sebuah kubu think tank Australia memberitahukan terkait otoritas di China sudah menghancur-leburkan atau pun merusak ribuan masjid di Xinjiang cuma dalam waktu 3 tahun. Hitungan total masjid yang tersisa di wilayah itu sekarang jauh lebih sedikit daripada kapan pun semenjak Revolusi Kebudayaan.

Laporan oleh kubu think tank bernama Australian Strategic Policy Institute (ASPI) tersebut mempergunakan citra satelit dan pelaporan di lapangan untuk memetakan pembangunan kamp tahanan yang ekstensif dan berkelanjutan serta perusakan situs budaya dan agama di Xinjiang, barat laut China.

ASPI menjelaskan pemerintah China mengakui bahwa ada lebih dari 24.000 masjid di Xinjiang dan berkomitmen untuk menjaga dan menghormati keyakinan agama tidak Disokong oleh temuan tersebut. Laporan ASPI memperkirakan bahwa kurang dari 15.000 masjid tetap berdiri, dengan lebih dari setengahnya rusak sampai batas tertentu.

“Ini ialah angka Terbawah semenjak Revolusi Kebudayaan, waktu kurang dari 3.000 masjid tersisa,” bunyi laporan ASPI, Jumat (25/9/2020) yang dikutip The Guardian.

Baca Juga :  Iran Menyebut Kematian Soleimani Hadiah Terbesar AS untuk Teroris

Ditemukan kisaran 2 pertiga masjid di daerah itu terdampak, dan kisaran 50 % situs budaya yang dilindungi sudah rusak atau hancur, termasuk penghancuran total Ordam mazar (tempat suci), sebuah situs kuno ziarah yang berasal dari abad ke-10.

Semenjak 2017, lanjut laporan ASPI, diperkirakan 30 % masjid sudah dihancurkan, dan 30 % lainnya rusak, termasuk penghapusan fitur arsitektur seperti menara atau kubah.

Sebagian besar situs tetap selaku lahan kosong, yang lain diubah jadi jalan dan tempat parkir mobil atau diubah untuk keperluan pertanian.

Beberapa diratakan dengan tanah dan dibangun kembali dengan ukuran lebih kecil dari ukuran sebelumnya, termasuk Masjid Agung Kashgar, dibangun pada tahun 1540 dan diberikan penjagaan bersejarah tingkat tertinggi ke-2 oleh otoritas China.

Daerah yang menerima banyak wisatawan, termasuk Ibu Kota Xinjiang; Urumqi, dan kota Kashgar mempunyai sedikit kerusakan yang tercatat. Tapi, ASPI menjelaskan laporan dari pengunjung ke kota-kota tersebut memperlihatkan kebanyakan masjid digembok atau sudah diubah untuk fungsi yang lain.

ASPI menjelaskan pihaknya membandingkan citra satelit baru-baru ini dengan koordinat yang pas dari lebih dari 900 situs keagamaan yang terdaftar secara legal yang dicatat sebelum penumpasan tahun 2017, lantas mempergunakan metodologi berbasis sampel untuk membikin “perkiraan yang kuat secara statistik” dengan rujukan silang dengan data sensus.

Baca Juga :  Universitas Jerman Beri Penghargaan Guru besar The best ke Profesor Indonesia

Beijing sudah berhadapan dengan tudingan yang konsisten—Disokong oleh bukti yang makin banyak—pelanggaran hak asasi manusia massal di Xinjiang, termasuk penahanan lebih dari 1 juta Muslim Uighur dan Turki di kamp-kamp penahanan, yang keberadaannya awalnya disangkal sebelum mengakui bahwa mereka tengah dilatih dan dididik di pusat pendidikan.
Kamp-kamp dan tudingan penghinaan lainnya, kerja paksa, sterilisasi paksa wanita, kontrol massal dan pembatasan kepercayaan agama dan budaya sudah dicap selaku genosida budaya oleh para pengamat.

Beijing dengan keras menyangkal tudingan tersebut dan menjelaskan kebijakannya di Xinjiang ialah untuk melawan terorisme dan ekstremisme agama, dan bahwa program tenaga kerjanya ialah untuk mengentaskan kemiskinan dan bukan paksaan.

Laporan ASPI menambahkan; “Di samping usaha paksa lainnya untuk merekayasa ulang kehidupan sosial dan budaya Uighur dengan merubah atau menghilangkan bahasa, musik, rumah, dan bahkan makanan Uighur, keputusan strategi pemerintah China secara aktif menghapus dan merubah elemen kunci dari warisan budaya nyata mereka.”

Intervensi pada budaya dan perkumpulan Suku minoritas sudah meningkat di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping. Dalam beberapa Minggu terakhir terungkap pihak berwenang juga sudah memperluas program tenaga kerja di Tibet, dan keputusan strategi untuk mengurangi pemanfaatan bahasa Mongol di Mongolia Dalam. Terminologi pemerintah sering kali menggambarkan kebutuhan untuk merubah “pemikiran ke belakang” dari kubu budaya yang jadi sasaran. (qa)

Baca Juga :  Ledakan Dahsyat di Beirut Pelajaran bagi Indonesia Simpan Bahan Peledak

Think Tank Australia Menyebut China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

Think Tank Australia Menyebut China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *