Tidak Jualan Selama Masa PSBB, Pebisnis Mobil Bekas Minta Diperhatikan Pemerintah

Diposting pada

Tidak Jualan Selama Masa PSBB, Pebisnis Mobil Bekas Minta Diperhatikan Pemerintah

Warta Batavia – Penjualan mobil bekas atau mobil second pada Maret sampai Mei 2020 yang berkenaan dengan penyebaran Covid-19 di Tanah Air mengalami penurunan signifikan.

Walaupun sedemikian para pemain mobil bekas tidak dapat mengungkapkan data pastinya penjualan mobil bekas, sebab selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak ada showroom mobil bekas yang buka.

Hal ini diungkapkan oleh Manajer Senior Bursa Mobkas WTC Mangga 2 Herjanto Kosasih. Menurut dia sampai waktu ini pihaknya tidak dapat mendeteksi berapa besar penurunan penjualan selama masa PSBB yang mulai berlaku pada Maret lalu sampai waktu ini.

“Kita lagi PSBB jadi tutup. Kita nggak dapat ngomong by data. Sebab kita tutup maka kita gak punya data soal itu. Jika pun secara online kita gak dapat deteksi. Jika misalnya kita buka kan banyak mekanisme yang dapat kita pakai selaku data,” katanya waktu dihubungi Indozone, Sabtu (23/5/2020)

Kosasih menambahkan penjualan dan pembelian mobil bekas dari dealer dan individu nyaris tidak terjadi sebab orang melaksanakan seving money untuk kebutuhan yang lebih urgen di tengah pandemi Covid-19 ini.

Walaupun sedemikian mereka tetap bertahan dan menanti agar masa PSBB cepat berakhir sehingga aktivitas ekonomi kembali berjalan.

“Waktu ini kami cuma menanti agar PSBB cepat selesai dan bisnis dapat kembali berjalan,” tukasnya

Ia Memperkirakan kalau semuanya kembali berjalan di Juni ini, maka Juli dan Agustus akan jadi puncak tren kenaikan penjualan mobil bekas sebab ekonomi yang kembali bergeliat dapat membangkitkan pasar secara berangsur.

Kecuali itu, ia berpendapat sesungguhnya untuk showroom mobil bekas atau pemain mobil lainnya dapat diberika kelonggaran dalam menjalankan bisnisnya sebab pengunjung mobil relatif kecil sehingga protap physical distancing, pemanfaatan masker dan alat pelindung lainnya mudah dikontrol.

“Sesungguhnya orang bisnis mobil kan gak ada banyak pengunjung. Yang Hadir sedikit sekali. Coba yang biasa beli mobil, Hadir ke showroom berapa orang. Paling 2 orang. atau maksimum 3 orang. Ini amat sedikit dibandingkan di mal di pusat perbelanjaan lain. itu membahayakan sebab sosial distancingnya sulit diterapkan. Ini kan tidak,” ujarnya.

Ia meminta agar stakeholder memerhatikan dan mempertimbangkan hal ini sebab multiplier effect amat besar di bisnis mobil. Kira-kira sejuta orang terlibat dalam bisnis tersebut sehingga keadaan waktu ini amat sulit bagi mereka.

“Tidak seluruh mesti PSBB atau Penting ditambah. Jangan cuman 11 item. Tambah lagi beberapa item. Jika kita hitung dari muliplier effectnya di masarakat secara luas. Di Jakarta, bisnis mobil ini nyaris kisaran 1 juta orang terlibat di dalamnya. Bagaimana kehidupan dan Famili mereka,” tukasnya.

Ia menginginkan seluruh masa sulit ini dapat berangsur-angsur pulih sehingga akan memberikan dampak positif dengan bergeraknya seluruh lini ekonomi termasuk bisnis mobil sehingga penjualannya kembali berjalan normal sesuai dengan yang diinginkan.

Artikel Menarik Lainnya:


Tak Jualan Selama Masa PSBB, Pebisnis Mobil Bekas Minta Diperhatikan Pemerintah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *