yeny.jpg

Tiga Karakter Ter0ris, yang di Analisa Lewat Tulisan Tanganya

Diposting pada

Muslimoderat.net – Sebelum melakukan aksinya, dua teroris pelaku penyerangan di Makassar dan pelaku penembakan di Mabes Polri menulis surat kepada keluarganya dengan tulisan tangan. Selain berisi permintaan maaf kepada keluarganya, surat tersebut juga berisi surat wasiat dan ajakan kepada seluruh keluarganya untuk menjauhi pemerintah dan berbagai permintaan lainnya.

Menurut putri Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid), tulisan tangan bisa menggambarkan karakter seseorang. Tulisan tangan, kata dia, bisa dianalisis untuk mengidentifikasi kondisi psikologis dan karakter yang bersangkutan.

“Misalnya ada yang ceria, tenang tapi memikat, ada yang punya kharisma seperti bupati, dan sebagainya, terlihat dari tulisan tangannya bisa dianalisis,” ujarnya saat menjadi pemeran utama. Pembicara dalam diskusi nasional nyaris beragama di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Jawa Timur, Sabtu (3/3).

Yenny mengaku pernah berkomunikasi dengan ahli grafologi (ahli tulisan tangan), Deborah Dewi, tentang tulisan kedua ulama tersebut. Analisis Deborah ternyata menunjukkan 3 karakter yang dimiliki oleh dua ter0ris tersebut.

PertamaKeduanya egois, tidak terbuka terhadap mentalitas yang berbeda dengan mentalitas mereka. Mereka berdua tidak ingin berpikir dari perspektif lain kecuali pikiran mereka sendiri.

Baca Juga :  Jokowi : Hasil Uji Klinis Akan Menentukan Kapan Vaksinasi Dimulai

Kedua, harga dirinya sangat rendah dan

ketigamengalami kecemasan yang berlebihan.

Dia mengatakan orang yang tidak bertanggung jawab menanggapi kecemasan yang berlebihan. Mereka mengklaim membantu doktrin agama yang telah menyimpang dari niat mereka yang sebenarnya, untuk mendapatkan rasa aman dan kepercayaan, tetapi mereka salah.

“Sehingga kecemasan akhirnya dimanfaatkan, dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, agar merasa aman, yang kemudian membuat mereka melakukan serangan (teror),” terangnya.

Yenny menambahkan, radikalisme bukan berasal dari agama, tetapi ajaran agama dialihkan untuk mengindoktrinasi seseorang yang sedang mengalami kecemasan, keputusasaan sehingga ingin melancarkan serangan agar bisa eksis. Dalam konteks Indonesia, jelasnya, usulan agama dapat digunakan untuk mengindoktrinasi masyarakat, terutama kaum muda yang sangat rentan dan masih mencari jati diri, termasuk generasi milenial.

“Ini tugas kita semua, terutama keluarga. Karena keluarga adalah tempat pembinaan utama, maka membangun fondasi yang kokoh, memberikan rasa aman dan nyaman agar anak tidak stres. Makanya pemuka agama harus siap. mendengar keluhan orang-orang yang putus asa, rentan dan sebagainya, ”terangnya.

Baca Juga :  Abu Nuwas Menjual Agama | The Truly Islam

Acara yang diselenggarakan oleh DPC Barikade Gus Dur Kabupaten Jember dan dibuka oleh Wakil Bupati Jember KH Firjaun Barlaman ini dihadiri oleh perwakilan tokoh lintas agama.

Sumber; Warta Batavia

link sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *