Tradisi Maca Syekh, Media Berharap Keberkahan dan Keamanan – Aspiratif News

Tradisi Maca Syekh, Media Berharap Keberkahan dan Keselamatan
Views: 8
Read Time:2 Minute, 16 Second

Tradisi Maca Syekh, Media Berharap Keberkahan dan Keamanan – Aspiratif News

Jakarta, Aspiratif News

Penduduk Banten akrab dengan tradisi Maca Syekh, yaitu membaca dan mendengarkan biografi atau manaqib Syekh Abdul Qadir Jaelani, seorang ulama yang disebut sebagai rajanya para wali.


Peneliti Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta, Muhamad Rosadi, menyebut bahwa tradisi tersebut Dilakukan oleh masarakat sebagai Sarana berharap keberkahan para wali dalam rangka ber-tawasul untuk selamat dan terhindar dari bahaya.


“(Tradisi Maca Syekh) Dilakukan dalam rangka memperoleh keberkahan dan keamanan serta terhindar dari bahaya dan malapetaka,” katanya waktu Seminar Hasil Pemeriksaan Tradisi Keagamaan dan Manuskrip, Senin (27/7).


Tradisi ini sesungguhnya amat populer di beberapa wilayah lain, di nyaris seluruh wilayah Nusantara baik di Sumatra, di Jawa, dan salah satunya di Banten.


Baca juga: Kepala BLA Jakarta: Budaya dan Agama Saling Bersinergi


Teks manaqib biasanya dibaca oleh para figur publik agama atau figur publik masarakat setempat. “Dalam Perkara ini dibacakan oleh figur publik adat,” jelasnya.

READ  Guru Akan Jadi Prioritas Utama Program Kerja Kemendikbud


Ada beberapa naskah yang biasa dipakai, seperti kitab tercetak berbentuk seukuran saku dan tersedia di toko-toko kitab. Tetapi, ada juga yang masih berupa manuskrip yang terletak di Kampung Perisen, Kelurahan Kiara, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten.


Naskah tersebut dibacakan dalam beberapa ritual keagamaan, seperti sunatan, pernikahan, sampai pada waktu membangun rumah ataupun memasang fondasi.


Sebelum melaksanakan tradisi tersebut, penyelenggara biasanya sowan ke sesepuh setempat terlebih dahulu untuk menentukan hari baik ritual. “Sowan dulu ke kasepuhan untuk menentukan harinya, kapan baiknya ritual Dilakukan,” jelasnya.

Kemudian, dalam konteks sunatan, sesudah memperoleh masukan dan arahan dari sesepuh, baru anaknya dibawa ke dokter atau mantri untuk melaksanakan sunat.

 

Baca juga: Palangkahan, Tradisi Minang Tentukan Hari Baik Berkegiatan

 

Lebih detail, Rosadi menerangkan bahwa kepercayaan masarakat setempat, sunatan pada anak perempuan Dilakukan semenjak bayi, sedangkan anak laki-laki wajib waktu anak menginjak usia ganjil, yaitu pada usia 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, dan 9 tahun.


“Biasanya kalau Dilakukan di umur yang genap maka akan terjadi berbahaya dan hal-hal yang tidak baik,” katanya.

READ  Shalawat Badawi Kubro yang Menyamai Dala'ilul Khairat 10 Kali - Warta Batavia


Naskah wawacan syekh ini dibaca tatkala selamatan, dikeluarkan oleh sesepuh, dan diletakkan di atas bantal. Hal tersebut memperlihatkan kesakralan naskah.


Tradisi pembacaan biografi orang-orang suci ini, menurut dia, masih amat kental dalam rangka tawasul, memohon keberkahan dari para wali.


Aktifitas ini berisi nilai-nilai perjalanan hidup seorang Syekh Abdul Qadir al-Jaelani yang diketahui sebagai pemimpinnya para wali.


Nilai-nilai yang terkandung dalam naskah ini Masalah religiusitas sosok Syekh Abdul Qadir al-Jaelani tersebut. Lalu, ada pula Masalah kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab. “Itu beberapa poin yang dapat kita ungkap dari naskah-naskah wawacan syekh,” pungkasnya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Musthofa Asrori

Tradisi Maca Syekh, Media Menginginkan Keberkahan dan Keamanan – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *