Tradisi Masarakat Using yang tidak Pernah Usang – Aspiratif News

Tradisi Masarakat Using yang tidak Pernah Usang - Warta Batavia
Views: 1174
Read Time:6 Minute, 11 Second

Tradisi Masarakat Using yang tidak Pernah Usang – Aspiratif News

MAESTRO gandrung Temu Misti mulai menembang diiringi seperangkat alat gamelan, seperti kempul (gong), kluncing (triangle), biola, kendang, dan kethuk. 

Suaranya tinggi melengking. Lebih dari 6 menit menyanyi dalam bahasa (suku) Using, ia kemudian berdiri dan mulai menggerakkan lentur tangannya. Dengan luwes, Temu Misti memainkan sampur atau selendangnya. Gerakan pinggulnya tampak anggun sekaligus lincah meski usianya tidak lagi muda.

Maestro yang pernah memperoleh penghargaan kebudayaan pada 2018 ini masih menyimpan energi besar. Seniman kelahiran 1953 itu Ialah 1 di antara sedikit seniman gandrung yang mempertahankan pakem gandrung klasik. Temu Misti ‘menggandrung’ dengan melalui 4 tahapan, yaitu jejer gandrung (tarian pembuka), repen (nyanyian yang tidak ditarikan), paju (menari bareng tamu), dan seblang subuh (tarian penutup).

Gandrung ialah bagian seni tradisi masyarakat Using Banyuwangi yang telah mengalami tahapan metamorfosis panjang. Berawal dari seni perjuangan, yaitu media komunikasi antarpejuang yang tercerai-berai akibat perang. Gandrung berkembang jadi seni pergaulan dan

akhirnya jadi seni hiburan.

Sebagai seni perjuangan, gandrung jadi media komunikasi antarpejuang Using pada waktu Blambangan jadi objek aneksasi kerajaan-kerajaan besar Jawa dan Bali. Sebagai seni pergaulan, gandrung memberikan servis secara personal pada waktu menari dengan pemaju dan menyelempangkan sampur.

Servis kelompok dikerjakan dengan Hadir pada tiap-tiap meja secara berurutan, sedangkan servis publik dikerjakan pada waktu adegan jejer atau tari pembuka. Tarian penutup disebut seblang-seblang atau disebut seblang subuh karena dikerjakan menjelang subuh. Sebagai seni hiburan, gandrung mempergunakan kaidah-kaidah estetika yang dapat dinikmati, dari make up, kostum, gerak tari, sampai tembangnya.

READ  Tanggapi Biaya Radikalisme dari Arab, Kyai Said: Bukan Rahasia, Banyak Orang Tau

Dari sisi pelaku, gandrung pada mulanya dibawakan oleh laki-laki kemudian jadi perempuan. Peralihan dari gandrung laki-laki ke gandrung perempuan dikatakan Scholte (1927) terjadi sepeninggal gandrung Marsan sebagai gandrung laki-laki yang terakhir dan digantikan Semi sebagai gandrung perempuan pada 1895.

Pergantian tersebut tampaknya tidak serta-merta membikin penari gandrung laki-laki di Banyuwangi habis. Hasil penelurusan pada 2018, penulis menemukan jejak gandrung lanang yang sampai waktu ini masih hidup, ialah gandrung Maksum, yang aktif sebagai penari gandrung profesional pada 1955-1956. Maksum tinggal di Dusun Gumuk Lor, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Lingkup tanggapan sampai antarkecamatan, termasuk bagian yang dia ingat ialah ditanggap untuk peresmian Pasar Glagah.

Gandrung Maksum berlatih menari gandrung pada Bu Darti yang Ialah penari gandrung generasi sesudah Semi. Dengan sedemikian, munculnya gandrung Semi bukan akhir generasi gandrung lanang, tapi sebagai awal munculnya gandrung perempuan.

Sampai 1956 masih ada gandrung profesional laki-laki. Peran negara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai representasi negara menampakkan kehadirannya dalam bentuk keputusan taktik di bidang kebudayaan. Mulai zaman Bupati Joko Supaat Slamet, T Purnomo Sidik, Samsul Hadi, Ratna Ani Lestari, sampai Abdullah Azwar Anas.

Spesial dalam kaitannya dengan seni tradisi gandrung, Samsul Hadi berkontribusi besar dengan mengeluarkan surat keputusan yang menetapkan gandrung sebagai maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul surat keputusan seterusnya yang menjadikan jejer gandrung sebagai tari selamat Datang di Banyuwangi.

Keputusan taktik tersebut diikuti dengan program pelatihan gandrung profesional yang dikoordinasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Gandrung hasil pelatihan tersebut waktu ini masih mewarnai dan meramaikan tanggapan gandrung di Banyuwangi, seperti gandrung Mia, Wulan, dan Yuyun.

READ  Kemendagri Gelar Rakor Sosialisasi Usaha Penyelesaian Outstanding Boundary Problem Bagian Timur

Di masa pemerintahan Bupati Abdullah Azwar Anas sekarang, popularitas seni tradisi gandrung makin meluas pada tataran global melalui Festival Gandrung Sewu yang dihelat tiap-tiap tahun semenjak 2012. Sebagai tarian khas, pada 2013 gandrung Banyuwangi memperoleh legitimasi sebagai warisan budaya tidak benda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kreasi terobosan

Di masa sekarang, seni tradisi hidup berdampingan dengan seni modern yang banyak diminati masyarakat. Hal itu jadi pemicu  munculnya kreasi dan terobosan pada pelaku seni gandrung. Mereka ulet beradaptasi dengan tuntutan pasar. 

Gandrung Ialah kombinasi dari seni tari, musik, dan vokal. Penari gandrung dituntut mempunyai kepiawaian olah tubuh dan vokal, dengan iringan musik gamelan. Sebagai seni pertunjukan, mereka memperkuat keindahan kostum dan make up. Terobosan musik dikerjakan dengan menambah peralatan musik Intinya untuk memperkuat melodi dengan mempergunakan keyboard. Terobosan vokal dikerjakan dengan membawakan lagu-lagu baru yang diminati masyarakat.

Terobosan seni tradisi gandrung di antaranya dikerjakan dengan meniadakan adegan tertentu, seperti jejer pada awal pertunjukan dan seblang subuh pada akhir pergelaran gandrung. Sementara itu, gandrung senior yang waktu ini masik aktif sebagai sinden dan pelatih tari atau vokal, seperti Temu Misti, Darti, dan Supinah, cenderung masih mempertahankan pakem gandrung yang diawali jejer gandrung, repen, paju, dan seblang subuh.

Gandrung dengan terobosan dan gandrung pakem semuanya mempunyai ruang ekspresi. Tanggapan pun mulai tumbuh bermacam. Perkebunan Kopi Selogiri, misalnya, tiap-tiap tahun menanggap gandrung untuk mengawali musim panen kopi. 

Rumah Makan Pancoran, Warung Kemarang, dan Ijen Resort, juga beberapa hotel di Banyuwangi, secara periodik menanggap gandrung untuk menghibur para tamu. Semua itu jadi ruang ekspresi dan promosi seni tradisi gandrung.

READ  Usut Perkara TPPU, KPK Periksa Kajari dan 2 Jaksa Hulu Sungai Tengah

Berkembangnya pariwisata di Banyuwangi yang sungguh jadi bagian bagian unggulan juga menjadikan tanggapan bertambah. Beberapa lembaga yang menyelenggarakan paket wisata budaya menawarkan beberapa seni tradisi sebagai hiburan, termasuk seni tradisi handrung.

Kesenian ini juga jadi bagian dari beberapa ritual, seperti Barong Ider Bumi Desa Kemiren, Keboan Alasmalang, dan Petik Laut Muncar. Fenomena tersebut sebagai bagian indikasi bahwa seni tradisi gandrung tetap diminati masyarakat.

Masa aktif sebagai penari gandrung dibatasi oleh usia. Masa primadona sebagai penari gandrung kisaran usia 20-35 tahun. Dengan bertambahnya usia, kemamuan fisik dan pesona akan makin meluncur turun. Kondisi tersebut Penting diantisipasi oleh para penari gandrung. Masa sebagai primadona, tanggapan terus mengalir dan pada bulan tertentu tidak jarang sebulan full menerima tanggapan.

Namun, sesudah masa tersebut berlalu mereka mesti tetap hidup. Beberapa gandrung yang tidak melakukan antisipasi sebagian mengalami kerepotan ekonomi pada masa ‘pensiun’.

Masuk masa tua, waktu ini para penari gandrung melarang dengan mengembangkan usaha yang berhubungan dengan profesinya dalam bidang seni dan melakukan usaha bisnis lainnya. Gandrung Wiwin, misalnya, melarang masa tua dengan menabung dalam bentuk perhiasan dan membuka salon kecantikan. 

Gandrung Supinah  melarang dengan mengembangkan usaha homestay, menyewakan kostum gandrung, membuka katering, menyediakan ruang perjumpaan, dan membuka pelatihan tari, panjak, dan vokal. Adapun gandrung Temu melarang dengan mengembangkan usaha ternak unggas serta pelatihan tari dan vokal. (M-4)


Tradisi Masarakat Using yang tidak Pernah Usang – Aspiratif News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *